HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA

HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA

HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA

“Memuji dan Memuliakan serta Melakukannya”

Why.11:19a;12:1,3-6a,10ab; 1Kor.15:20-26; Luk. 1:39-56

“Sebuah kidung nan indah”, mungkin itulah cetusan spontan, setelah membaca Nyanyian Pujian Maria, di ayat 46 hingga 55. Itu, jika kita membaca lebih dengan hati daripada pikiran. Dikenal juga dengan ‘Magnificat’, yang senantiasa disenandungkan di berbagai penjuru bumi, khususnya di biara-biara. Dan, senandung pujian yang hanya tertulis di Injil Kristus menurut St. Lukas, sang Penulis Inil.

Mari, bersama, kita mencoba untuk menukik sedikit lebih dalam, perikop untuk Hari Raya ini. Setelah mendengar kabar dari malaikat Gabriel (Allah pembawa Kabar Gembira), dalam bagian dari perikop terdahulu, yang membuat Maria terkejut serta meminta penegasan, maka ungkapan Maria yang terkenal itu, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” pun terdengar.

Setelah itu, apa yang dilakukan sang Bunda? Segera! bergegas mengunjungi sanaknya Elisabet, karena juga dikabari sedang mengandung. Dan, itu perjalanan yang jauh, bukan? Karena, dari Nazaret ke Ain Karim, perkiraan tempat tinggal Elisabet dan suaminya Zakharia, yang ketika itu menjadi bisu, sekitar 144 KM. Jarak sebegitu? di kala itu? Belum ada mobil, lebih lagi pesawat. Dan, sang Bunda dalam keadaan hamil muda. Sungguh, kasih yang mendalam. Inilah bagian pertama dari perikop untuk HR SP Maria diangkat ke surga.

Bagaimana dengan “Nyanyian pujian Maria”? yang merupakan bagian kedua? Bagaimana jika kita mencoba masuk, bersama-sama, ke dalamnya? Dapat kita amati kasat mata: dalam bagian ini, yang terdiri dari sebelas ayat, praktis dapat dikatakan, terdapat kata kerja. Dimulai dengan “memuliakan” (ay.46), hingga “menolong” pada ayat.54. Apa maknanya, bagi kita? Dan, apa pula maknanya bagi kita dari keseluruhan perikop?

Sementara, dalam Bacaan pertama, kita dikisahkan tentang konfrontasi antara seorang perempuan dan seekor naga. Sang perempuan dan naga, keduanya penuh simbol atau perlambang. Kisah, yang, jika disingkat, mengingatkan kita bahwa kekuatan jahat senantiasa mengintai. Dan, kita sebagai umat, selayaknya senantiasa berlindung dalam kuasa Allah.

Apa yang bisa kita ambil sebagai inspirasi bagi kehidupan kita saat ini? Bunda Maria dan Elisabet bersukacita dalam Roh. Menyadari karya Roh Kudus, Maria mengungkapkan “…jadilah padaku menurut perkatanmu itu”, sedangkan Elisabet, “…ketika salammu sampai ke telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan…” Apa ungkapan kita ketika menyadari begitu besarnya kasih-Nya kepada kita? keluarga atau paroki kita? Apa yang kita lakukan?

Inspirasi lainnya: kehamilan Maria dan Elisabet bukannya tanpa masalah. Maria hamil walau belum resmi bekeluarga. Elisabet, bertahun-tahun menanggung rasa malu karena belum mempunyai keturunan. Hanya karena iman akan kasih-Nya, keduanya mengandung secara mengagumkan. Bagi kita? Hal ini sungguh meneguhkan, bahwa Allah berkarya dengan cara-Nya, dan “bagi Allah tidak ada yang mustahil.” (Luk.1:37). Satu lagi, dari Bacaan pertama, kita dikuatkan untuk senantiasa mengandalkan Allah, Tuhan Yesus Kristus, karena kuasa gelap selalu mengintai, termasuk di masa pandemi ini. Dan kita bisa belajar seperti yang dinasihatkan Rasul Paulus kepada umat di Korintus, “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang meninggal.” (1Kor. 15:20).

Selamat hari Minggu – selamat bertemu Tuhan di dalam Ekaristi