Kelemahan Yang Menyelamatkan

Kelemahan Yang Menyelamatkan

PENGANTAR

         Sedikit sekali tokoh-tokoh wanita yang nama dan ceritanya dapat dituliskan Alkitab dalam kitab dengan judul nama tokoh tersebut. Diketahui hanya ada 3 kitab dalam pernjanjian lama dengan label nama tokoh wanita, yaitu kitab Rut, kitab Ester dan terakhir kitab Yudit.

Kitab Yudit lebih sempit lagi hanya masuk dalam kanon yang diakui oleh Gereja Katolik, dimana didalam Gereja Katolik sendiri khususnya saat-saat ini “belum” dimasukan dalam “Lectionarium”, atau bacaan resmi Gereja, baik dalam tahun A-B maupun tahun C (V. Indra Sanjaya Pr, Menelusuri Tulisan-Tulisan Deutrokanonika, 209-212).

Sebagian besar bahan bacaan, mengasumsikan Kitab Yudit dan tokohnya dalam nuansa yang pesimistis kalau tidak mau dikatakan negatif. Terkait unsur historis dan geografi, ulasan ahli kitab suci dalam Alkitab Katolik BIMAS Katolik Departemen Agama, mengungkapkan “Kitab Yudit ternyata tidak menghiraukan sejarah atau ilmu bumi” (Hal. 704). Berkaitan mengenai isi, Djarot Hadianto dalam salah satu sub judul tulisannya menyebutkan “Unsur-unsur Dalam Kitab Yudit Merugikan Citra Kaum Perempuan“ ( Djarot Hadianto, Kitab Yudit, Kemenangan Perempuan Terhadap Kaum Laki ?”, 109).

        Terlepas dari berbagai hal yang “mengkecilkan bahkan mengkucilkan” Kitab Yudit dalam hal ini tokoh Yudit, kami meyakinkan banyak hal yang Tuhan mau sampaikan pada kita melalui FirmanNya ini, karena berpegang pada adagium bahwa Alkitab bukanlah Kitab sejarah dan bukan kitab ilmu pengetahuan, namun melebihi itu, Alkitab adalah Kitab Iman, sehingga yang penting adalah “dengan membaca dan memahaminya, bagaimana kita bisa lebih mengimani kebenaran hidup dalam Tuhan, sebagaimana Yudit lakukan dalam uraian kitab ini”,  sebagaimana kami resumekan dibawah ini.

 

MENGENAI KITAB YUDIT

         Kitab Yudit diperkirakan ditulis pada abad ke-2 SM dalam bahasa Ibrani, namun demikian sampai saat ini tidak diketahui siapa Penulisnya. Diperkirakan Penulis adalah orang Yahudi yang tinggal di-Palestina semasa dinasti Hasmoni, dimana dalam periode tersebut sedang terjadi pemberontakan Makabe untuk menyelamatkan Israel serta Bait Allah ( Djarot Hadianto, Kitab Yudit, Kemenangan Perempuan Terhadap Kaum Laki ?”, 109). Penulis menggunakan tulisan ini untuk memovitasi bangsa Israel untuk merdeka dengan mendukung Makabe sebagai pemimpin saat itu.

Kitab ditulis dalam bentuk sastra “Roman Pendek” yang bercerita bagaimana Yudit membebaskan orang-orang Yahudi dari ancaman kerajaan Asyur yang diperkirakan terjadi pada abad ke-6 SM. (V. Indra Sanjaya Pr, Menelusuri Tulisan-Tulisan Deutrokanonika, 92-93).

Isi kitab bisa dibagi menjadi 2 bagian, Yudit 1-7 merupakan “Setting” awal kisah yang melukiskan kekuatan serta agresi Asyur untuk menguasai seluruh negeri melalui bala tentaranya yang kuat dibawah panglima Holofernes, peristiwa mana mengerucut pada pengepungan benteng orang-orang Yahudi khususnya di-Betulia sebagai pintu masuk utama menuju Yerusalem. Kesan kuat yang disampaikan adalah misi utama Nebukadnezar menjadikan dia allah segala bangsa, dengan menghancurkan allah-allah lain.

Yudit 8-16 menceritakan mengenai tokoh Yudit serta perannya dalam menyelamatkan bangsanya. Kesan yang menarik dari cerita yang ada adalah “komunikasi satu arah manusia - Allah”, dimana dalam seluruh cerita tidak ada interaksi langsung Allah pada Yudit sebagaimana selalu diceritakan dalam kitab-kitab lain yang mengisahkan mengenai tokoh pilihan Allah, kiranya hal ini menjadi keunikan dari kisah Yudit, sekaligus memperlihatkan betapa tingginya keimanan Yudit, karena percaya berdasarkan apa yang terjadi pada nenek moyangnya.

 

MENGENAI YUDIT

         Kata Yudit berasal dari bahasa ibrani “Y(e)hudit” yang memiliki arti “terpuji”, dan juga merupakan bentuk feminin dari kata “Yehuda”, sehingga juga memiliki arti “Perempuan Yehuda” (Perempuan Yahudi).

Diceritakan Yudit adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya Manasye seorang Yahudi suku Manasye. Ia mewariskan banyak kekayaan serta budak untuk kehidupan Yudit sehingga secara umum Yudit bisa kelompokan sebagai orang kaya. Walaupun demikian Yudit hidup hemat dan tetap “mempertahankan kejandaannya”. Kata mempertahankan kejandaannya bisa dimaknai sebagai “kesetiaan” terhadap Suaminya yang seharusnya juga menggambarkan sikap moral Yudit, yang dalam cerita selanjutnya “dilecehkan” karena menggunakan keelokannya untuk tujuan tertentu.

         Keberadaanya sebagai wanita dan janda menggambarkan “kelemahan ganda” bagi Yudit. Wanita bagi bangsa Yahudi dianggap kaum lemah yang tidak dapat memegang tanggung jawab lelaki. Dalam kondisi ini tidak memungkinkan Ia untuk memimpin secara formal. Sebagai Janda, dalam hukum Yahudi dipenuhi dengan aturan yang mengikatnya untuk tidak punya kebebasan individu, yang sedikit banyak menyebabkan kehilangan harga diri bagi paradigma pemikiran kita sekarang. Ia harus menggunakan pakaian kejandaannya sampai waktu yang tidak ditentukan, dan jika janda ditinggal mati maka “hukum Levirat” berlaku, ia tidak boleh menikah kembali kecuali dengan saudara suaminya. Terhadap harta, jika kita baca teliti mencerminkan bahwa Yudit adalah “janda tanpa anak”, seharusnya ia tidak punya hak atas kekayaan suaminya tersebut. (Albertus Utomo, OFM “Inspirasi Alkitabiah Dalam Menyikapi Problema Keluarga” 103-108).

         Kelemahan manusia adalah merupakan sarana Allah untuk berkarya, karena dibalik kelemahan-kelemahan Yudit ini telah dijanjikan Allah perlindungan atas statusnya sebagai wanita dan janda (Mazmur 68 : 6, 146 : 9) (Ulangan 10 : 18) dan Allah akan selalu mendengar seruannya (Keluaran 22 : 23, Sirakh 35 : 14), serta akan membela mereka (Ulangan 10 :18, Mazmur 68 : 6), dan akan menjaga mereka (Mazmur 146 : 9), serta akan menghakimi orang-orang yang menindas para janda (Maleakhi 3 : 5) (Albertus Utomo, OFM “Inspirasi Alkitabiah Dalam Menyikapi Problema Keluarga” 109).

Dengan demikian kita bisa melihat dibalik kelemahan wanita yang berstatus janda, terdapat kekuatan yang maha dahsyat yang tidak bisa dicegah yaitu “Allah” sehingga semua yang dilakukan pada janda selama untuk kepentingan Allah dan sesama akan direstui oleh Allah.

        Relasi dengan Allah digambarkan Yudit sebagai orang yang selalu patuh pada Tuhan sehingga tiada satupun orang yang dapat mengatakan sesuatu buruk mengenai dia, sebab ia sangat takut terhadap Allah (Yudit 8 : 8). Namun demikian sebagaimana telah dijelaskan didalam pengantar, kita tidak menemukan perikop yang menggambarkan Allah berkomunikasi langsung dengan Yudit , sehingga yang terjadi adalah “komunikasi satu arah manusia - Allah”.  Sedangkan dalam kitab-kitab lain umumnya mengisahkan komunikasi langsung antara tokoh pilihan Allah dengan Allah sendiri. Kiranya hal ini menjadi keunikandari kisah Yudit, sekaligus memperlihatkan betapa tingginya keimanan Yudit, tetap percaya walaupun tidak melihat.

           Apakah yang diperjuangkan Yudit dalam kisah ini?, menurut kami ada hal- hal yang tersembunyi dalam penjelasan Penulis khususnya yang disampaikan dalam Yudit 8 : 9 - 36. Perjuangan Yudit yang utama sebenarnya adalah agar orang-orang Israel khususnya pemimpin dan penduduk Betulia meneguhkan kembali Iman serta kepatuhan kepada Allah dan selalu mensyukuri cobaan yang terjadi, karena Allah mempunyai maksud yang baik untuk orang-orang yang benar, dengan tetap menantikan pertolongannya. Perjuangan Yudit juga akan berdampak pada :

1. Menjaga Bait Allah dan Nama Allah dihadapan semua Pihak : Fokus utama Holofernes adalah menghancuran allah-allah bangsa lain, sehingga dengan sendirinya sasaran utama adalah Bait Allah.

2. menyelamatkan penduduk Betulia pada khusunya dan orang-orang Israel pada umumnya, karena Betulia dianggap pintu masuk menuju Yerusalem, pemahaman menyelamatkan bukan dalam arti dari kematian, namun berkaitan dengan “penjajahan dan Penindasan”.

3. Menyelamatkan pemimpin Israel dan pemimpin Agama, dalam kisah ini kita bisa lihat bahwa mereka tidak berperan, bahkan diarahkan dan diingatkan oleh seorang janda.

       Dalam mewujudkan hal tersebut, banyak tantangan yang harus dihadapi oleh  Yudit. Mungkin juga saat dia berkata akan melakukan sesuatu untuk bangsanya, belum terpikir apa yang akan ia dilakukan, ia hanya memberanikan diri menemui holofernes sedangkan mengenai apa yang akan dilakukan dipercayakan pada Allah. Tantangan- tantangan yang dihadapi oleh Yudit antara lain adalah :

  1. Sebagai wanita apakah ia sanggup mengalahkan Holofernes beserta tentaranya ?, untuk memegang senjata saja mungkin belum pernah ?, dan juga untuk orang-orang Yahudi sendiri apakah mereka yakin dan mau menyerahkan nasibnya kepada Yudit seorang wanita berstatus janda ?, jika pun percaya apa yang akan dilakukannya ?.
  2. Berkaitan dengan statusnya sebagai janda, berarti ia harus menanggalkan pakaian kejandaannya sehingga apa yang dilakukan selama ini untuk setia pada Manasye suaminya menjadi gagal/terhenti ?.
  3. Mengenai keselamatan dirinya sendiri siapa yang menjamin bahwa ia akan tetap hidup ? dan kalaupun mati apa yang ia peroleh ?.
  4. Berkaitan dengan kecantikannya, menjadi ketakutan tersendiri saat bertemu dengan tentara-tentara notabene selalu berperang yang secara psikologis akan sangat mudah terpicu untuk melecehkan wanita, apalagi ia cantik, sehingga ia akan tercemarkan baik oleh tentara maupun persepsi bangsanya ?.
  5. Paling utama tentunya bagaimana cara menemui Holofernes dan bagaimana pula cara mencegah perang dan kehancuran bangsa Yahudi ?.

      Seluruh tantangan tersebut secara logis sangatlah tidak mungkin buat ia mewujudkan keinginannya, Pimpinan kota Betulia dan para tua-tua saja yang secara pengalaman dan kemampuan lebih dari pada Yudit tidak bisa mengatasinya ?. Namun jangan lupa dibalik Yudit ada siapa ?.

 

ALUR KISAH

         Awal kisah Yudit dimulai dengan sebuah gambaran mengenai raja Asyur Nebukadnezar dalam upaya untuk menguasai wilayah sekitar melalui perperangan dan penaklukan. Digambarkan bagaimana dia ingin menjadi “allah” bangsa lain, dimana setiap penaklukannya selalu diakhiri dengan pemusnahan allah-allah bangsa tertaklukan, sebagaimana dijelaskan dalam Yudit 3 : 8 “Namun demikian tempat-tempat suci mereka dihancurkan holofernes dan tugu-tugu berhala ditebangnya, sebab sudah ditugaskan kepada holofernes untuk membinasakan semua allah di-bumi, sehingga segala bangsa di-bumi menyembah Nebukadnezar semata-mata dan segala bahasa serta suku mereka menyebutnya sebagai allah”. Hal ini kemudian yang menjadi “ancaman” nyata yang memicu kisah selanjutnya.

         Bangsa Yahudi merupakan salah satu sasaran pemusnahan Holfernes,  semata untuk memenuhi obsesi Nebukadnezar menjadi allah bangsa lain. Dalam kisah selanjutnya disisipkan informasi melalui seorang tokoh yaitu Akhior pemimpin bani Amon, bahwa orang-orang Yahudi tidak dapat dikalahkan karena Allah mereka maha kuasa, mereka hanya bisa dikalahkan jika mereka melakukan tindakan-tindakan yang melanggar ketentuan Allah nya, informasi ini masuk kedalam kesadaran Holofernes yang nantinya akan mempermudah Yudit untuk melaksanakan kehendak Allah.

Orang-orang Yahudi melakukan persiapan-persiapan untuk melindungi mereka beserta kota mereka, khususnya dengan melakukan ritual doa kepada Allah Yahwe, dan juga menutup jalur-jalur utama menuju Yerusalem, salah satunya adalah benteng kota Betulia. Hal tersebut menyebabkan Holofernes menjadi murka karena persiapan perang tersebut memastikan bahwa bangsa Yahudi tidak mau takluk.  Holofernes atas usul Akhior memutuskan jalur pasokan air kedalam kota Betulia dan mengepung kota tersebut. Dipastikan penghentian pasokan air membuat penduduk menjadi menderita. Dalam tenggang waktu tidak terlalu lama mereka mulai putus asa dan meminta pada para pemimpin kota Betulia yaitu Uzia, Habris dan Harmis untuk menyerah, Uzia sendiri menyanggupinya, ia meminta rakyat menunggu pertolongan Yahwe sampai dengan hari kelima, jika tidak terjadi maka mereka akan menyerahkan diri. Keputusasaan penduduk serta pemimpinya serta “ancaman” pada Yahwe menjadi titik terburuk dalam cerita ini.

          Harapan timbul dari seorang perempuan yang pada waktu itu sangat mustahil menyelamatkan bangsa yaitu Yudit seorang janda. Yudit tampil sebagai tokoh ideal menurut pandangan Yahudi, “Tiada satu orangpun dapat mengatakan sesuatu yang buruk tentang dia, sebab ia sangat takut terhadap Allah”. (Yudit 8:8).

Yudit mengkoreksi sikap pemimpin kota karena “menuntut Allah secara berlebihan” dengan memberikan tenggat waktu 5 hari. dan meminta semua penduduk untuk menerima kondisi yang ada sebagai cobaan Yahwe atas kesetiaan penduduk Betulia, dan ia sendiri akan “ ........... melakukan sesuatu sesuatu yang turun-temurun akan dikisahkan kepada anak-anak bangsa kita” (Yudit 9 : 32).

Yudit merendahkan diri dihadapan Tuhan sebagaimana kebiasaan orang Yahudi dimulai dengan pengakuan dosa dan penyesalan yang digambarkan dengan menggunakan pakaian duka dan menaburkan debu diatas kepala, serta berdoa.

          Alur doa Yudit sangat menarik dan menggugah, dimulai dengan meminta pembenaran Tuhan untuk menghukum orang-orang yang akan mencemarkan orang Yahudi. Di-ilustrasikan dengan pencemaran kewanitaan oleh orang asing,  kemudian Yudit mengungkapkan bagaimana orang Asyur dan pemimpinnya begitu pongah dan banyak melakukan hal-hal yang dilarang Tuhan, dimana tujuan akhirnya adalah “mencemarkan Bait Allah”.

Yudit memohon pada Tuhan menggunakan dirinya untuk bisa mematahkan dan menggagalkan rencana jahat bangsa Asyur. “........ Sebab kekuasaanMu tidak terletak dalam jumlah besar dan kekuatanMu tidak pula pada orang perkasa sebaliknya, Engkau adalah Allah orang yang hina-dina, Penolong orang Kecil, Pembantu orang lemah, Pelindung orang-orang yang kehilangan akal dan penyelamat orang yang tanpa harapan” (Yudit 9 : 11). Yudit meminta agar ia mendatangkan luka- luka dan bilur-bilur bagi mereka yang merencanakan penyimpangan terhadap Perjanjian Allah, akhirnya ia meminta agar semua yang terjadi membawa seluruh umat untuk Insaf bahwa Tuhan adalah Allah yang menjadi perisai bangsa Israel.

       Selanjutnya diceritakan bagaimana Yudit dapat masuk keperkemahan dan bertemu dengan Holofernes, serta kekaguman Holofernes berserta tentaranya terhadap Yudit. Argumen Yudit datang mengunjungi Holofernes, menegaskan informasi yang telah disampaikan Akhior, bahwa orang-orang Yahudi “tidak bisa dikalahkan kecuali mereka melanggar hukum Allah”. Yudit mengungkapkan bahwa ia melarikan diri karena tanda-tanda itu sudah terjadi, mereka sudah mulai memakan bagian-bagian yang seharusnya dipersembahkan pada Allah, ia menyatakan dirinya dapat menjadi sarana komunikasi dengan Allah, sehingga saat Allah menyatakannya, Yudit akan memberitahukan Holofernes untuk segera menyerang dan menaklukan benteng Betulia termasuk benteng Yerusalem secara mudah. Holofernes dan para pejabatnya memahami apa yang direncanakan Yudit secara logis mereka akan lebih mudah menaklukan seluruh bangsa Yahudi sampai dengan kota Yerusalem hanya melalui Yudit saja.

Yudit telah membentengi keperempuanannya dengan pernyataan bahwa ia harus memelihara kesuciannya untuk mendapat tempat dalam Allah Yahudi, sehingga saat dihidangkan makanan dan anggur ia menolak dan menyatakan bahwa ia harus makan & hidup seperti apa yang diperintahkan Allah nya saja.

Diceritakan selama 3 hari Yudit melakukan ritual yaitu mandi dilembah Betulia dekat pos penjagaan mereka dan kemudian berdoa, untuk kembali pada kemahnya pada petang hari.

          Holofernes memiliki kesempatan untuk dekat dengan Yudit, pada hari ke-4 ia mengundang Yudit dan para pejabatnya dalam satu jamuan makan yang pada akhirnya mengerucut pada suatu keadaan dimana mereka tinggal berdua,  pada kesempatan itulah Yudit memotong kepala Holofernes dimana sebelumnya ia berdoa agar tindakannya dibenarkan.

            Cerita diakhiri dengan kondisi “happy ending” dimana pada akhirnya Yudit bisa kembali pada penduduk Betulia dan menunjukan kepala Holofernes. Dalam akhir kitab inilah, kisah baru menghubungkan antara Betulia dan Israel, dimana tindakan Yudit tidak hanya menyelamatkan Betulia saja namun bangsa Yahudi pada umumnya, sehingga di-bait Allah Yerusalem Imam besar Yoyakim memberkatinya dan memberikan Pujian.

         Yudit sendiri memanjatkan lagu syukur pada Allah tanda berterima kasih telah lolos dari cobaan ( Yudit 16 : 17), dan ia hidup sampai usia 105 tahun, yang menggambarkan usia nenek moyang mereka yang diberkati Allah. Ia tetap memelihara status kejandaannya sampai meninggal, walaupun banyak orang yang ingin memperistrinya.

KESIMPULAN

         Kesan kuat dalam cerita Yudit ini adalah bagaimana Penulis menyajikan secara konstruktif kondisi eksternal bangsa yang penuh gejolak khususnya sebagai “Threat”(ancaman) kemusnahan bangsa Yahudi serta Allah yang dipujanya, tanpa ada sedikitpun “Opportunity” (Peluang) untuk selamat karena begitu kuatnya pasukan musuh dibandingkan bangsa Yahudi sendiri.  Dilain pihak secara internal terlihat betapa rapuhnya kondisi-kondisi  masyarakat di-Betulia tidak adanya pemimpin yang kuat, hilangnya sumber air yang berarti hilangnya sumber kehidupan, secara psikologis mereka telah mati dan tidak punya harapan hidup (“Weaknesses”), tidak ada satupun yang bisa diandalkan bahwa kekuatan (“Strength”) yang utama yaitu “Yahwe” telah mereka abaikan.

Kita bisa memahami kondisi tersebut dalam uraian yang tersaji didalam tabel dibawah ini :

Internal

Eksternal

Kekuatan

Kelemahan

Peluang

Ancaman

Allah yang Maha Kuasa yang terbukti melindungi umatnya selama memegang “PerjanjianNya”.

Pemimpin yang rapuh, tentara dan rakyat yang tidak disiapkan untuk perang.

Pengaruh Holofernes, sebagai penguasa tunggal, Panglima Perang utama.

Tentara musuh yang telah mengepung dan menguasai sumber air.

Kecantikan & dedikasi Yudit membela Allah dan bangsanya.

Suasana terkepung dan kehilangan sumber air.

menyerahkan diri sebagai orang jajahan.

Kehancuran bait Allah dan peribadatan terhadap Yahwe.

 

Dalam kondisi tersebut kesempatan penduduk untuk tetap bisa hidup hanya dengan menyerahkan diri sebagai bangsa jajahan. Namun kemudian diluar dugaan, solusi terbaik yang diceritakan oleh Penulis kita ini adalah solusi yang tidak menimbulkan banyak korban dan biaya. Dimana “Key Person” yang menentukan jalan cerita ini menjadi sasaran utama,  dengan memanfaatkan kelemahan pria yang secara psikologis tidak bisa dihindarkan oleh panglima-panglima perang.  Dilain pihak “senjata” yang digunakan juga “diluar” nalar orang pada saat itu yaitu Wanita yang cantik, berani serta setiap pada bangsanya.

Ilustrasi solusi yang terbaik tersebut bisa dilihat dalam tabel :

 

Kekuatan

Kelemahan

Peluang

Strategi Kekuatan vs Peluang : bagaimana bisa mendekati Holofernes melalui Allah atau melalui Yudit ? (1)

Strategi Kelemahan vs Peluang :

Menyerah pada Holofernes / bangsa Asyur. (2)

Ancaman

Strategi kekuatan vs Ancaman : bagaimana bisa mengalahkan tentara Asyur melalui Allah (3)

Strategi Kelemahan vs Ancaman : memperkuat pemimpin dan melatih dan mempersiapkan rakyat jadi tentara untuk berperang ? (4)

        

       Solusi yang diambil adalah alternatif 1 dimana Yudit maju seorang diri dengan pertolongan Allah memenangkan “pertempuran” tanpa banyak jatuh korban dan kerugian materi. Kiranya Allah telah memberikan solusi diluar akal sehat manusia, serta menunjukan bahwa kelemahan dan kelembutan bisa mengalahkan kekuatan.

 

IMPLIKASI CERITA UNTUK MASA KINI

             Format kitab Yudit ini menurut kami masih aktual dengan kondisi sekarang, khususnya hal-hal yang terkait dengan :

  1. Kelemahan bukan berarti kekalahan serta kemusnahan, karena dalam kelemahan sebenarnya ada kekuatan Yaitu Allah sendiri, sehingga semua orang yang ada didalam permasalahan yang tidak sanggup lagi kita hadapi serahkanlah pada Allah, sertai semua dengan doa dan upaya, yakinlah semua akan ada jalan keluarnya.
  2. Manusia diciptakan penuh dengan berkat dan talenta, semua membanggakan ketika kita menyadarinya, yaitu dengan berupaya keras menghasilkan karya, dimana karya itu umumnya timbul dalam suasana yang sulit, selama semua dijalankan untuk kepentingan Allah dan sesama semata, semua akan menjadi karya besar khususnya bagi pelaku serta yang menerima manfaatnya, sebagaimana Yudit menerima kebahagiaan bukan karena kesuksesannya, namun karena “pengakuan” lingkungannya.
  3. Memulai suatu dengan doa, doa yang dipersiapkan dengan sungguh seolah doa itu yang terakhir dalam hidup kita, serta doa diperuntukan bagi orang lain semata bukan untuk kita sebagaimana Yudit berdoa (Yudit 9 : 1-14).
  4. Tuhan tidak selalu menjawab doa sebagaimana kita kehendaki, namun Tuhan selalu memberikan solusi yang sangat cocok bagi kita dan juga bagi semua orang yang terkait didalamnya.

             Demikian uraian kami, berharap berguna bukan hanya untuk kami, namun mengilhami yang membaca untuk bisa memahami Yudit baik dalam tindakan terlebih Imannya kepada Tuhan, Amin.

 

Daftar Bacaan:

a). “Menelusuri Tulisan-Tulisan Deuterokanonika”, V. Indra Sanjaya, Pr, LBI 2015.
b). “Kitab Yudit : Kemenangan Kaum Perempuan Atas Kaum Laki- laki”, Jarot Hadianto, Makalah Seminar.

c). “Kitab Suci Katolik Dengan Pengantar dan Catatan Lengkap”, Dirjen BIMAS Katolik, Departemen Agama RI, 2011.
d). “Christian Community Bible” Catholic Pastoral Revised Edition, Claret Publishing Group 2014.

e). “Pengantar Perjanjian Lama” Dr. C. Groenen OFM, Kanisius 1991 f). “Inspirasi Alkitabiah Dalam Menyikapi Problema Keluarga”, Albertus Purnomo, OFM, LBI, Kanisius 2014.
g) “Key Management Models”, Marcel Van Assen, Gerben Van den Berg & Paul Pietersma, Esensi 2013.