“Iman, Harapan dan Kasih”

“Iman, Harapan dan Kasih”

Renungan Harian, 16 September 2020

Peringatan wajib St. Kornelius dan St. Siprianus,

“Iman, Harapan dan Kasih”

1Kor. 12:31-13:13; Mzm.33:2-3,4-5,12,22; Luk. 7:31-35.

 

Korintus adalah salah satu kota yang paling tua dan paling terkemuka di Yunani kuno. Terletak kira-kira 5 KM di sebelah Barat Daya kota Korintus modern. Korintus menjadi kota penting terutama karena lokasinya yang strategis di ujung barat tanah genting, atau sebidang lahan sempit, yang menghubungkan bagian tengah atau daratan utama Yunani dengan Semenanjung Peloponesus di sebelah Selatan. Semua lalu lintas darat, untuk perdagangan atau yang lain, ke arah Utara dan Selatan, harus melewati Korintus sewaktu melintasi tanah genting itu, yang bagian tersempitnya hanya selebar 6 KM. Tetapi Korintus juga menjadi persinggahan lalu lintas laut internasional, karena para navigator biasanya lebih senang memanfaatkan tanah genting di antara Teluk Korintus dan Teluk Saronik ini, daripada mengambil risiko menempuh perjalanan yang panjang dan berbahaya mengitari tanjung-tanjung yang sering dilanda badai di ujung selatan semenanjung itu. Selain sebagai kota perdagangan, juga salah satu kota dimana banyak kaum terpelajar, ditambah lagi sebagai kota tempat pemujaan si dewi cinta, Aphrodite, dengan cara pemujaan yang sangat duniawi.  Di kota inilah Rasul Paulus mewartakan Kabar Gembira, sekaligus mendirikan jemaat. Sebelum menjadi pengikut Kristus, orang-orang Korintus merasa dan menyatakan bahwa mereka adalah orang yang berpengetahuan, punya hikmat dan lainnya. Situasi inilah yang dihadapi Rasul Paulus, seperti yang dapat kita baca pada bacaaan pertama untuk hari ini.

Hari saat kita, umat Katolik sedunia, merayakan Peringatan Wajib, bagi dua orang Santo yang dirayakan di hari yang sama: St. Kornelius, seorang Paus yang banyak mendapat tekanan, dan St. Siprianus, seorang Uskup martir, dari negeri yang sekarang disebut Tunisia.

Demikian rupa situasi di Korintus, terbentuklah golongan-golongan umat berdasarkan siapa guru mereka: golongan Paulus, golongan Apolos, golongan Kristus, golongan Kefas, dan lainnya. Setiap golongan menonjolkan kehebatan masing-masing. Maka, Rasul Paulus mengajarkan dan menyerukan untuk “memperoleh karunia-karunia yang paling utama.”(1Kor. 12:31). Dan puncak ajaran Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus adalah Kasih. Dengan panjang-lebar sang Rasul menjelaskan apa itu kasih, dan kaitannya dengan kehidupan selaku jemaat, yang mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Ajaran itu sudah sangat dikenal oleh sebagian besar umat katolik, yang tertulis di 1 Korintus 13:1-12, dan diakhiri dengan, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar diantaranya ialah kasih.”(1Kor.13:13)

Apa yang dapat kita ambil dari pengajaran Yesus, Sang Juruselamat kita, melalui Rasul Paulus, untuk situasi saat ini? atau, kita juga bisa bertanya, bisakah kita, umat paroki Jatiwaringin, gereja St. Leo Agung, melaksanakan pengajaran kasih di masa pandemi virus corona 19 ini? satu hal saja, misalnya. Yaitu dengan saling-menghargai, tidak menonjolkan kebisaan sendiri, gigih dalam mewartakan dalam situasi apa pun, sudah akan menimbulkan empati diantara sesama umat.

Kemudian, pertanyaannya: apa yang dapat kita lakukan agar “Menjadi Saudara Yang Adil Di Masa Pandemi?”: ikut pertemuan di Lingkungan masing-masing, sesuai protokol kesehatan. Saling-mendengarkan pengalaman iman pribadi (sharing). Sesungguhnya, tentu masih banyak lagi yang bisa dilakukan. Sejauh semuanya dilakukan berdasar kasih, semoga kita sudah berusaha menerapkan ajaran-Nya.

Shalom

 

Penulis:

Alfons M. Sahat M. Marpaung

Lingkungan St. Angela Merici