Allah yang berbelas kasihan

Allah yang berbelas kasihan

Pernahkah?, bapak, ibu atau anak muda katolik membawa berita atau bertanya kepada seseorang, dengan harapan mendapat jawaban yang dicari? Tetapi, tanggapan yang diterima justru tak disangka-sangka, dan jauh dari yang diharapkan? Alih-alih mendapat jawaban sesuai harapan, malah menimbulkan keheranan. Keharanan karena, kok tanggapan seperti itu yang diberikan? 
Mungkin, perasaan seperti itulah yang hinggap di pikiran orang-orang yang membawa kabar kepada Yesus. Dan perikop itu, tertulis di Injil Kristus menurut Lukas untuk Minggu Prapaskah ketiga, atau disebut juga Minggu Gaudete(sukacita, kebahagiaan) tahun ini(Luk.13:1-9). Untuk menekankan timbulnya perasaan heran, dua kali Yesus menjawab, “Tidak! Kata-Ku kepadamu....” Dengan diberi tanda seru!  
Apa kira-kira yang menjadi alasan dibalik jawaban tersebut? Mengapa Yesus membandingkan orang-orang Galilea dengan orang-orang Yerusalem? Untuk situasi pelik ini, kita membutuhkan bantuan ahli kitab suci. Menurut Rm. A. Gianto, SJ, jawaban Yesus itu mempunyai latar belakang yang cukup panjang. Galilea, yang terletak Utara, tanahnya yang lebih subur daripada yang di Selatan(Yudea), di mana Yerusalem berada. Oleh karena itu, kemakmuran di Galilea lebih baik daripada daerah Yerusalem, yang gersang dan banyak padang gurunnya. Persoalan utama di Galilea adalah persoalan keadilan, persoalan orang kaya dan orang miskin, masalah ketimpangan sosial. Sedangkan di Yerusalem, di mana pusat pemerintahan dan sekaligus pusat agama ada, persoalan utama adalah kesalehan tetapi sombong, merasa aman dan mau mengatur Tuhan. Oleh karena itu, orang-orang Yerusalem sering memandang rendah orangorang Galilea. 
Apa pun perbedaan kedua kelompok tersebut, Yesus tetap berseru untuk bertobat, “Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Itu diserukan dua kali(ay.3&5). Setelah itu, Yesus memberikan pelajaran lain tentang belas kasihan Allah, melalui perumpamaan tentang pohon ara, yang walau pun sudah tiga tahun tidak berbuah, namun tetap diberi kesempatan atas permintaan sang pengurus kebun(ay.6-9).

Bagimana kita bisa memetik inspirasi dari kisah-kisah dalam Injil dan kedua Bacaan untuk hari ini? Walau teguran Yesus keras, namun sifat belas kasih senantiasa diberikan-Nya. Walau pun kita sudah jatuh-bangun dalam dosa, Dia tetap menantikan kita. Bagaimana kita terhadap sesama kita? Sudahkah kita mengampuni yang bersalah kepada kita? Apakah kita juga sudah bersedia menjadi pengurus kebun? 
Entah orang-orang Galilea atau orang-orang Yerusalem, semuanya tetap membutuhkan pertobatan. Entah kita sudah siap atau masih belum, selayaknya kita menekuni Retret Agung ini dengan tetap menyadari sepenuhnya keterbatasan(dosa) kita. 
Ketika bangsa pilihan-Nya berseru meminta tolong, Allah mengutus Musa. Dan proses yang dialami Musa, yang begitu ngeyel, karena mencoba menghindar, akhirnya dia bersedia memimpin saudaranya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah siap atau sedang atau sudah ikut melayani? Masihkan kata-kata klasik, “Saya belum siap”, atau, “Saya kurang pantas”, menjadi argumen ampuh? 
Semoga, peringatan dan sekaligus pengajaran dari Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, yaitu dengan mengulang sejarah bangsa pilihan ketika dalam proses keluar dari Mesir,  juga menjadi pembelajaran bagi kita(Bacaan kedua). 
 
Semoga, Tuhan Yesus memberkati kita semua.