“Apa Yang Kamu Cari”

“Apa Yang Kamu Cari”

“Apa Yang Kamu Cari”

Minggu, 14 Januari 2024

I Sam. 3:36-10,19; l Kor. 3:13c-15a,17-20; Yoh. 1:35-42 (SM)

ltulah pertanyaan Yesus kepada dua murid Yohanes pembaptis. Pertanyaan yang sederhana, wajar, namun pernuh perhatian. Kedua murid gelagapan mendapat pertanyaan itu, sebelum menjawab dengan pertanyaan juga, "Rabi(Guru) di manakah Engkau tinggal?" Juga, pertanyaan yang terkesan sederhana, tetapi jika didalami akan sangat berarti. Ingat kisah Yesus dicari oleh kedua orangtuanya setelah berziarah ke Yerusalem? Ketika Yesus menjawab pertanyaan ibu-Nya? "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di rumah Bapa-Ku?"(Bdk. Luk. 2:49). Bukankah 'berada' sama artinya dengan 'tinggal' di rumah Bapa-Ku?

Kembali ke perikop untuk Minggu ini. Yesus menjawab mereka, Andreas dan Yohanes penginjil, dengan berkata, "Marilah dan kamu akan melihat." Dialog singkat-padat antara Yesus yang dengan dua murid Yohanes pembaptis. Dialog yang bisa menuntun siapa saja ke 'Anak Domba Allah', seperti kata sang Pembaptis, dan juga kepada Mesias, seperti yang disampaikan Andreas kepada saudaranya Simon. Mengapa dikatakan demikian? Karena kedua murid ingin 'melihat' dan setelah melihat mereka tinggal bersama dengan Yesus. Artinya, mereka menjadi murid-murid Yesus setelah ditunjukkan oleh guru pertama mereka, Yohanes pembaptis. Andreas yang merasakan telah menemukan sang Mesias segera memberitahukan kepada saudaranya. Dan Simon, diberi nama baru Kefas yang sama dengan Petrus, ketika berjumpa dengan Yesus. Begitulah kisah pemanggilan murid-murid Yesus yang pertama.

Ketika masih muda, Samuel tinggal di Rumah TUHAN bersama imam Eli. Suatu malam, Samuel mendengar namanya dipanggil. Segeralah dia menuju ke kamar imam Eli untuk menanyakan apakah sang imam memanggilnya. Ternyata bukan. Hal itu terjadi tiga kali. Maka Imam Eli memahami bahwa yang memanggil itu Allah. Dan Samuel dimintanya untuk menjawab, berfirmanlah, ya TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar." Begitulah kisah awal nabi Samuel. ltulah isi ringkas Bacaan pertama. Sementara, dalam Bacaan kedua, Rasul yang besar, Paulus, mengingatkan, menegaskan bahwa tubuh manusia adalah Bait Allah. Oleh karena itu, "Tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh." ltu diingatkan kepada jemaat di Korintus, yang mulai goyah karena adanya slogan tentang kebebasan.

Apa yang bisa menjadi 'inspirasi' don sekaligus motivasi agar kita menjadi umat-yang­mewartakan Sabda-Nya? Pertama, kita disadarkan bahwa Kabar Gembira tidak jatuh dari langit begitu saja, tetapi kenyataan batin yang hidup dalam hati dan budi orang yang percaya, lewat kesaksian orang-orang yang telah mengalaminya sendiri. Juga lewat rasa ingin tahu. Tidak bisa dipaksa-paksakan, tetapi dipersaksikan. ltulah yang dilakukan Yohanes Pembaptis. ltu pula yang dilakukan Andreas serta semua Rasul. Kedua, peran para Pewarta adalah menunjukkan jalan yang pernah dilaluinya sendiri dan dialaminya sendiri dan kini dapat dibagikan kepada orang lain. Ketiga, ketika umat masih muda, dibutuhkan bantuan dari yang lebih dewasa, sehingga mereka dapat menanggapi panggilan Tuhan, seperti kasus Samuel.

Selamat bersukacita merayakan Ekaristi di Minggu Biasa kedua, bersama semua saudara. dan, marilah turut serta melambungkan pujian dan permohonan,

"Aku datang, ya Tuhan untuk melakukan kehendak-Mu." (Mzm.40:8a}