"Berserah Sepenuhnya Kepada Allah"

"Berserah Sepenuhnya Kepada Allah"

Renungan Harian, 23 September 2020

Peringatan Wajib St. Padre Pio

“Berserah Sepenuhnya Kepada Allah”

Ams. 30:5-9; Mzm.119:29,72,89,101,104,163; Luk. 9:1-6.

Jika dipikirkan secara agak kritis judul renungan ini, maka bisa timbul pertanyaan, “Mungkinkah?” Terlebih dalam masa pandemi virus corona, yang telah mendera selama hampir delapan bulan? Maksudnya, mungkinkah ‘mewartakan Kabar Gembira’ tanpa membawa apa-apa?, apalagi di kota seperti Jakarta dan sekitarnya? Seperti yang tertulis, “Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit, kata-Nya kepada mereka, “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju…”(ay.2-3). Akal sehat kita, selaku manusia, tentu akan mempertanyakan apakah itu mungkin? Namun, bagaimana dengan hikmat Allah? Karena, sesungguhnya, ketika diutus(apostolos=rasul), para murid dibekali dulu oleh Yesus: memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit! Dan, itu tentu sudah lebih daripada cukup, bukan? Namun, bukan hanya itu saja(tenaga dan kuasa). Bahkan disertai dengan panduan: agar tinggal di sebuah rumah yang mau menerima dengan baik, bagaimana jika ada yang tidak mau menerima, makan apa yang disajikan tuan rumah(bdk. Ams. 30:8). Kembali ke pertanyaan di awal, mungkinkah? Maka dapatlah kita menjawab dengan penuh yakin: sangat mungkin!

Hari ini, kita umat katolik merayakan Peringatan wajib akan Santo Padre Pio. Demikian sang Kudus sering disapa. Apa informasi tentang sang Santo?: padanan Pio adalah Pius. Lahir dengan nama Francesco Forgione, pada 25 Mei 1887 di kota kecil Pietrelcina, di Italia selatan; anak kelima dari delapan bersaudara dari seorang petani, Greazio Forgione dan ibunya Maria Giuzeppa De Nunzio. Sang ibu sering disapa dengan Mamma Peppa. Sejak usia lima tahun, Padre Pio dianugerahi penglihatan-penglihatan surgawi dan juga mengalami penindasan setan-setan. Menerima sakramen penguatan pada usia duabelas tahun dan menyambut Komuni Kudusnya yang pertama. Ketika berumur 16 tahun, dengan semangat bernyala-nyala, Padre Pio menjadi novisiat biarawan Kapusin. Dan, ketika berusia 23 tahun, pada 10 Agustus 1910, ditahbiskan sebagai imam di Katedral Benvento. Namun, sesudah itu, terpaksa kembali ke rumah, karena diduga(diagnosa) mengidap infeksi paru-paru, dan masa hidupnya hanya tinggal sebulan saja! Enam tahun bergulat dengan penyakit, namun berangsur membaik, sehingga ketika berusia 29 tahun, yaitu pada September 1916, Padre Pio diutus ke rumah biara San Giovanni Rotondo, dan tinggal di sana hingga akhir hayat beliau.

Pada September 1918, berarti ketika berusia 31 tahun, Padre Pio menerima apa yang disebut stigmata, ketika berdoa di depan sebuah salib di kapel tua, setelah melihat penampakan yang misterius, sosok seperti malaikat.  Kedua tangan, kaki dan lambung sang Padre mengeluarkan darah. Dan, menurut catatan yang ada, darah yang keluar itu beraroma harum. Padre Pio adalah imam yang pertama menerima stigmata. Salah satu ucapan dari Padre Pio adalah: “Dalam kitab-kitab kita mencari Tuhan, dalam doa kita menemukan-Nya. Doa adalah kunci yang membuka hati Tuhan.” Sang Padre wafat pada 23 September 1968, ketika berusia 81 tahun. Dan tanggal ini diresmikan Gereja sebagai tanggal Perayaan Wajib Sang Santo, sang Padre. Dan, Padre Pio membawa banyak umat kepada Allah.

Apa yang dapat kita ambil dari pengajaran Yesus, Sang Juruselamat kita, melalui para Rasul, para murid yang diutus? Bisa jadi, yang utama dan pertama adalah:  senantiasa untuk berserah sepenuhnya kepada Allah, dalam situasi apapun yang kita hadapi atau jalani. Rahmat-Nya tak berkesudahan.

  Kemudian, pertanyaannya: apa yang dapat kita lakukan agar “Menjadi Saudara Yang Adil Di Masa Pandemi?” Belajar melalui Padre Pio, “mencari Tuhan dalam kitab-kitab, dan berdoa senantiasa.” Berdoa bagi keluarga, bagi sesama dan diri sendiri, semoga menjadi kunci untuk membuka hati Tuhan. Serta, ikut pertemuan BKSN 2020 di Lingkungan masing-masing, sesuai protokol kesehatan.

Shalom.

 

Penulis :

Alfons M. Sahat M. Marpaung

Lingkungan St. Angela Merici