Berubah agar Berbuah

Berubah agar Berbuah

                                                                BERUBAH agar BERBUAH

Kisah tentang Zakheus sudah sangat dikenal baik oleh kita semua. Dikisahkan bagaimana seorang pemungut cukai, yang badannya pendek dan sangat ingin melihat sosok seperti apakah Yesus itu. Kalau boleh berandai-andai, mungkin saja Zakheus sebelumnya sudah banyak mendengar tentang siapa Yesus. Tetapi karena Yesus baru saja masuk ke kota Yerikho, kota di mana Zakheus bekerja sebagai pemungut cukai, timbulah rasa ingin tahunya. Walau rasa ingin tahunya besar, tetapi ia tidak berani ikut berdesakkan bersama dengan kerumunan orang lainnya. Ia sadar bahwa dirinya dikucilkan dari masyarakatnya mengingat pekerjaannya. Pemungut cukai bekerja untuk Bangsa Romawi.

Mari kita melihat tiga hal penting dari perikop ini sebagai sebuah refleksi keimanan. Refleksi ini penting bagi kita untuk melihat sejauh mana selama ini kita telah berjuang untuk membangun Iman kita akan Yesus Sang Juruselamat kita. 

Refleksi pertama, pada perikop ini kita melihat bagaimana Zakheus berusaha aktif untuk melihat sosok Yesus. Tindakan aktif Zakheus ini menunjukkan bahwa Zakheus memiliki keinginan yang sangat kuat untuk melihat dan mengenal siapa Yesus. Dia tidak duduk diam berpangku tangan untuk menggapai kerinduannya akan keselamatan. Zakheus berjuang.

Refleksi kedua, tindakan Zakheus memanjat pohon Ara adalah upayanya untuk mengatasi kelemahannya (badan pendek). Jika saja Zakheus tetap pada kelemahannya, enggan naik pohon Ara dan berserah pada keadannya, apakah dia berhasil melihat sosok Yesus? Zakheus mengajarkan kita untuk berani melihat kelemahan diri sendiri yang mungkin saja menjadi penghambat pertumbuhan Iman kita. Tujuh kelemahan pokok manusia; kesombongan, ketamakan, iri hati, kemarahan, nafsu tidak teratur, kerakusan dan kemalasan. Apa yang sudah kita lakukan untuk melihat dan mengatasi kelemahan kita?

Refleksi ketiga, tindakan Zakheus yang hendak menyerahkan sebagian miliknya kepada orang miskin dan akan mengganti empat kali lipat mereka yang diperasnya adalah gambaran kepeduliaan yang terbangun sebagai buah dari imannya akan Yesus. Tidak hanya kepedulian yang ingin dibangunnya, dia juga ingin memperbaiki relasi yang rusak dengan sesamanya. Di sini Zakheus mengajarkan kita apakah kehadiran kita di dalam keluarga, lingkungan, komunitas atau di mana pun kita berada sungguh merupakan sebuah kehadiran yang menyejukkan, membangun kerukunan, membawa damai dan menggembalakan? 

Umat Tuhan yang terkasih, sikap Zakheus dalam Injil kali ini dapat menjadi cermin yang baik untuk melihat kehidupan keimanan kita selama ini. Kalau selama ini kita menjalani keimanan kita tanpa pernah merefleksikan dan mengupayakan pertumbuhannya, Zakheus telah menjadi contoh yang sangat baik untuk kita. Mari kita berubah agar kita berbuah ...

Selamat hari Minggu – selamat bertemu Tuhan Yesus dalam Ekaristi – Tuhan memberkati