“Berusaha untuk Memahami Keadilan Allah”

“Berusaha untuk Memahami Keadilan Allah”

HARI MINGGU BIASA XXV

“Berusaha untuk Memahami Keadilan Allah”

Yes.55:6-9; Fil.1:20c-2,27a; Mat.20:1-16a

Kitab nabi Yesaya, seturut para ahli, dapat dibagi menjadi tiga bagian besar. Sebelum pembuangan, sebagai yang pertama,1:1-39:8; Kabar Baik Bagi Umat, 40:1-55:13 bagian kedua, dan, Peringatan dan Janji untuk umat Allah sesudah pembuangan,56:1-66:24, bagian ketiga, atau terakhir. Dengan begitu, untuk Hari Minggu Biasa ke-25 ini, diambil dari bagian kedua. “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” (ay.6). Itulah salah satu nasihat nabi Yesaya, yang namanya berarti “YHWH menyelamatkan”, atau “YHWH adalah keselamatan”, kepada umat Yehuda yang sedang dalam pembuangan. Itu seruan dari Nabi Deutero-Yesaya, atau, Yesaya yang kedua. Sang Nabi juga menganjurkan agar “…orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya.” Juga disampaikan bahwa, “…baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, …memberikan pengampunan dengan limpahnya.” Apakah umat Allah yang dalam pembuangan mau mendengarkan? atau, mengikuti nasihat sang nabi? Jawabannya, kelihatannya, tidak. Karena, umat pada jaman ini mempunyai pandangan bahwa Tuhan mereka sudah dikalahkan oleh tuhan bangsa Babel. Buktinya? bangsa Babel lah yang menang dalam peperangan. Artinya, Allah mereka dikalahkan oleh allah bangsa lain. Namun, Allah Israel tetap mengingatkan bangsa pilihan-Nya, melalui sang nabi, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu.” (ay.8)

Bacaan Injil untuk Minggu Biasa ke-25 ini, diambil dari Injil Kristus menurut Santo Matius. Sebuah kisah, yang pastilah sudah sering didengar umat. Atau, cerita yang dikenal baik oleh sebagian besar dari kita.

Pokok cerita berkisar tentang seorang pengusaha kebuh anggur, orang-orang upahan dan, adanya rasa-tidak-adil dalam pemberian upah, menurut versi pekerja, yaitu mereka yang merasa bekerja lebih lama: datang lebih pagi, dan berhenti bekerja pada waktu yang sama untuk semua.

Sang Empunya kebun, sebelumnya, sudah bersepakat dengan pekerja: upah sedinar sehari. Sehari, dari jam 6 pagi hingga jam enam petang. Jumlah upah yang lazim di jaman itu. Uniknya dari kisah ini adalah: sang pengusaha lansung mencari sendiri dan mengajak orang untuk bekerja di kebunnya. Empat kali dia mencari dan mengajak: jam 9, jam 12, jam 3 petang dan terakhir pukul 5 sore. Satu jam sebelum akhir kerja.

Inspirasi apa yang bisa kita ambil bagi kehidupan kita saat ini? Dari Injil, yang paling menyolok tentulah soal upah. Ada pekerja, yang masuk terdahulu, bersungut-sungut karena upahnya sama. Merasa diperlakukan tidak adil, karena merasa layak mendapatkan lebih. Mereka lupa bahwa mereka sudah sepakat tentang upah sehari. Memang, jika kita pikir, alasan mereka kuat. Namun, ternyata, di dalam Kerajaan Allah, adil itu berbeda dengan alam pikiran kita sebagai manusia. Kita pun, sejatinya, dapat mencoba untuk melihat keadilan versi Kerajaan Surga. Pernahkan kita berpikir, misalnya, bahwa mereka yang baru masuk jam 5 petang merasa cemas? Karena, mereka tidak tahu apakah akan mendapat penghasilan hari itu, untuk menghidupi keluarga mereka? Sementara, yang masuk pertama, pagi-pagi sudah mendapat kepastian? Juga, perumpamaan ini, yang digunakan Yesus untuk menjelaskan tentang Kerajaan Surga, memberikan pemahaman yang berdasarkan kasih dan keadilan. Keadilan adalah, kesempatan yang sama bagi semua orang untuk mendapatkan nafkah. Dalam Kerajaan Surga, tersedia kesempatan yang sama baiknya bagi siapa saja. Inilah makna dari ucapan sang nabi di Bacaan pertama, rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, jalanmu bukanlah jalanKu. Sudahkah kita berbuat adil kepada sesama kita? lebih lagi di masa pandemi ini?