“Bilamanakah Doa Kita Dikabulkan?”

“Bilamanakah Doa Kita Dikabulkan?”

Renungan Harian, 22 September 2020

“Bilamanakah Doa Kita Dikabulkan?”

Saudaraku, pada umumnya sebagai pengikut Yesus setelah dibaptis kita merasa telah suci dan menjadi “anak Tuhan” , dan otomatis menjadi saudara Yesus. Benarkah demikian? Dalam Injil hari ini Lukas 8:19-21 jelas dikatakan bahwa mereka yang mendengarkan Firman Allah dan melakukannya adalah saudara Yesus. Ini adalah Sabda Tuhan Yesus sendiri, bukan muridnya atau orang lain.  Maka tidaklah semata-mata setelah dibaptis otomatis kita masuk Surga karena sudah mendapat label “anak Tuhan” dan doanya akan selalu dikabulkan. Apabila kita tidak melaksanakan firman Allah jauh arang dari api untuk terkabulnya doa kita.

Pelaksanaan sabda Allah antara lain adalah peka terhadap situasi sekitar kita terutama pada si lemah, sesuai dengan tema kedua BKSN “Allah Yang Hadir Sebagai Korban Ketidak Adilan”. Ini juga menjadi syarat jika ingin doa kita dikabulkan (Ams 21: 1-13).  Kategori si lemah dalam hal ini adalah antara lain ekonomi lemah, disabilitas, retardasi mental, terpenjara, mereka yang terjerat narkoba dan jejaringnya, istri yang diperlakukan tidak semena-mena oleh suami, anak yang kurang perhatian dari ayah ibu yang bekerja dan masih banyak aspek yang bisa dikategorikan si lemah. Apabila kita tidak melakukan apa-apa kepada mereka ini padahal sehari-hari ada di depan mata kita, maka jangan berharap doa kita akan dikabulkan. Banyak yang tidak menyadari akan hal ini dan complain kepada Tuhan kok doanya tidak pernah dikabulkan. Pada saat kita telah melakukan segala yang terbaik demi kemuliaan nama Tuhan, bukan demi nama kita sendiri, percayalah kita mendapat jaminan doa kita akan terkabul. Pengalaman pribadi penulis sekan puluh tahun juga membuktikan hal itu.

Sebagai manusia tentunya kita harus punya planning untuk kehidupan kita disertai dengan doa. Manusia tidak berdaya apabila hanya mengandalkan diri sendiri, karena disuatu titik tertentu terkadang bertemu dengan sesuatu yang seolah-olah buntu, tidak ada jalan keluar lagi, yang sering memicu seseorang mencari jalan pintas. Disinilah kita membutuhkan Juru Selamat yang dapat kita hubungi setiap saat dimanapun kita berada, yang selalu memberi harapan dan menghindarkan kita dari keputusasaan.

Namun harus kita mengerti pula bahwa terkabulnya doa kita adalah sesuai dengan kehendakNya, dalam arti waktu, cara dan tempat yang semuanya belum tentu seperti yang kita inginkan, bahkan mungkin akan dirasa terlalu ekstrim bagi kita, tetapi pasti lebih baik dari apa yang kita mohon.  Seperti yang sudah sering kita baca dari Yesaya 55 ayat 8-9: rancanganKu bukanlah rancanganmu …dst.

Yang harus kita yakini disini bahwa Tuhan Allah selalu menepati janjinya seperti dinyatakan dalam mazmur 119 : 27-44 ayat 41: kiranya kasih setiaMu mendatangi aku ya Tuhan, keselamatan dari padaMu itu sesuai dengan janjiMu.

Berpegang pada janji Tuhan yang banyak tercantum dalam surat cintaNya kepada kita dalam kitab suci, akan membentuk kita menjadi manusia utuh yang tidak mudah terpengaruh pada segala sesuatu yang menggiurkan yang saat ini banyak ditawarkan di media sosial.

Marilah saudaraku, kita satukan diri kita dengan Allah Tri Tunggal Maha Kudus agar kita dapat mendengar bisikan Roh Kudus untuk membimbing misi kita di dunia ini dengan tuntas sesuai dengan kehendakNya. Ad Maiorem Dei Gloriam.