Bulan Kitab Suci Nasional

Catatan awal:

Inilah hari pertama di bulan September 2020. Hari pertama yang khusus, jika dipandang dari beberapa sudut. Sudah sejak September 1975, Lembaga Biblika Indonesia(LBI), sebuah Lembaga yang menjadi bagian Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yang sebelumnya MAWI, yang diberi tugas untuk berbagai hal yang menyangkut Kitab Suci, Alkitab. Lainnya, inilah hari permulaan di bulan ini, dimana kita, umat katolik, memasuki sebuah masa yang disebut dengan Bulan Kitab Suci Nasional. Selama sebulan!, umat katolik diajak, disarankan, diharapkan untuk lebih mengenal Sang Juru Selamat, Tuhan Yesus Kristus, melalui salah satu sumber iman kita: Alkitab.

Bulan Kitab Suci Nasional, dimulai dengan inisiatif dari Lembaga Biblika Indonesia. Sebuah Lembaga yang menjadi bagian utuh dari Konferensi Waligereja Indonesia(KWI). LBI lah yang diberi wewenang mengenai Kitab Suci bagi umat katolik, termasuk penerjemahan Alkitab, yang dalam sejarahnya bekerjasama dengan Lembaga Alkitab Indonesia(LAI).

Mungkin, ada yang bertanya, “Apa yang saya dapatkan dengan membaca Alkitab?” Boleh jadi, pengalaman Penulis bisa menjadi salah satu alternatif tanggapan: setiap kali membaca Alkitab, terasa kedekatan dengan Sang Juru Selamat, Sang Guru mulia, Tuhan Yesus. Pasti masih banyak lagi tanggapan dari setiap umat yang sudah mendekatkan diri dengan-Nya melalui Alkitab.

Selama bulan September 2020 ini, Paroki kita Jatiwaringin, gereja St. Leo Agung, melalui Tim Kerasulan Kitab Suci, mencoba menyajikan semacam tanggapan (pribadi yang menulis) terhadap Bacaan Harian, sesuai Penanggalan Liturgi 2020.

Semoga, bisa menjadi sebuah alternatif sederhana untuk mendekati Sabda-Nya.

Selamat mendekatkan diri dengan-Nya, melalui Alkitab.

Shalom

Sumber:

Alfons M. Sahat M. Marpaung

Jln. Bukit Besar Blok S no. 6, Jatibening Baru

Lingkungan St. Angela Merici

 

Selasa, 1 September 2020

Hari Biasa, 1Kor.2:10b-16, Mzm.145:8-9,10-11,12-13ab, Luk. 4:31-37

Pernahkah bapak, ibu atau Anda selaku OMK, dalam rangka pelayanan, mendapatkan penolakan terhadap ide anda? Bahkan, Ketika anda begitu percaya bahwa ide itu akan membantu orang yang kepadanya ide itu anda sampaikan? Tentu terasa sangat kurang menyenangkan. Tetapi, hal itu sering terjadi, dalam kehidupan sehari-hari, bukan?

Begitu pula yang dialami oleh Yesus oleh orang-orang sekampungnya, di Nazaret(Luk.4:16-30). Perikop sesudah kejadian itulah, Luk. 4:31-37, yang akan kita coba dalami, untuk hari ini.

Dengan penolakan di Nazaret itu, kita dapat mengenal salah satu perkataan Yesus yang terkenal, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya, ….”(Luk. 4:24).

Sesudah kejadian itu, Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota, masih di Galilea juga. Kapernaum dikenal sebagai pusat karya Yesus selama di Galilea. Yesus mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Dengan kata “hari-hari Sabat”, maka kita bisa mengetahui bahwa beberapa kali Yesus mengajar. Yesus mengajar setiap Sabat di Sinagoga(Yahudi). Dikisahkan bahwa yang mendengarkan pengajaran-Nya menjadi takjub, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Ditambah lagi dengan kasus penyembuhan seorang yang kerasukan setan, yang mengenal siapa Yesus: “Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Dengan hardikan-Nya, setan itu keluar dari orang tersebut, setelah setan menghempaskannya ke tengah-tengah orang banyak. Demikian mengherankan peristiwa itu bagi yang menyaksikan, sehingga seorang berkata kepada yang lain: “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.”

Jika di Nazaret ditolak, maka di Kapernaum Yesus sangat dihargai, dikagumi. Bahkan orang-orang di Kapernaum meminta agar Ia tetap tinggal Bersama mereka(4:42). Dan, banyak mukjizat terjadi di kota itu oleh Yesus.

Kembali kepada pertanyaan di awal: bagaimana sikap dan tindakan kita jika dalam keterlibatan kita dalam pelayanan di gereja dan di masyarakat belum mendapatkan tanggapan positif? Apakah kita akan mundur dari melayani, atau, tetap melakukannya?, karena kita percaya bahwa berbuat baik, seperti kata Santa Teresa dari Kalkuta, tetaplah harus dilakukan?

Semoga, kita pun meneladani sang Rabi, Yesus: entah diterima atau ditolak, Yesus tetap bekerja. Tetap menjalankan perutusan-Nya.

Shalom.