Cerdik Seperti Ular, Tulus Seperti Merpati

Cerdik Seperti Ular, Tulus Seperti Merpati

HARI MINGGU BIASA XII
“Cerdik Seperti Ular, Tulus Seperti Merpati”

(Yer.20:10-13; Rm.5:12-15; Mat.10:26-33)

Salah satu ciri yang menonjol dari cara pengajaran Yesus adalah "penggunaan perumpamaan". Perumpamaan tentang Kerajaan Allah, tentang penabur, dan masih banyak lainnya, yang tertulis di Alkitab. Paling banyak, sudah tentu, di Perjanjian Baru. Perumpamaan, yang akar katanya adalah umpama, mempunyai dua makna, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pertama, perbandingan; ibarat, dan yang kedua, peribahasa yang berupa perbandingan. Dengan begitu, ketika Sang Guru yang mulia, mengutus para murid-Nya,"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Mat.10:16), tentulah ini sebuah perumpamaan. Apa misi utama bagi para murid? “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.”(Mat.10:7).

Injil Kristus menurut Matius untuk Minggu Biasa XII ini, merupakan bagian dari bab 10. Bab 10, yang isinya mengenai pemanggilan keduabelas murid menurut Matius. Kemudian mereka diutus, setelah sebelumnya diberi kuasa dan berbagai petunjuk atau nasihat, untuk mencari domba-domba yang hilang dari umat Israel (bdk. Mat. 10:6). Dalam perikop untuk minggu ini, petunjuk Yesus dimulai dengan ”Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.”(ay.26).

Dengan menerima perutusan, para rasul menjadi senasib dengan Guru mereka: ditolak, dimusuhi, diadili dan menghadapi risiko dibunuh senasib pula dengan Sang Guru, pahala dan konsekuensi menjadi utusan-Nya. Namun, mereka tidak pernah dtinggal sendirian, yang kita semua sudah mengikuti kisah-kisah, khususnya setelah Paskah, Kisah Para Rasul.

Dalam Bacaan pertama, kita dikisahkan tentang sebagian dari apa yang dialami oleh nabi Yeremia. Sang nabi, yang telah dikuduskan dan dipanggil Allah, bahkan sebelum dibentuk dalam rahim ibunya (bdk.Yer.1:4-5). Yeremia pun dimusuhi, dicela, dipukul dan mengalami tindak kekerasan lainnya. Yeremia pun terkesan sudah mau menyerah, mengembalikan perutusannya kepada Allah. Namun, setiap kali mau melakukannya, senantiasa datang dorongan untuk tetap bertahan. Maka sang nabi pun tetap menjadi utusan-Nya, mewartakan sabda-Nya.

Apa yang bisa kita ambil sebagai inspirasi bagi kehidupan kita saat ini? Kita pun, sebagai murid-Nya, sering mengalami masa-masa yang kurang baik. Bahkan tidak menyenangkan, bisa menyakitkan!, pertanyaannya,
masihkan kita bertahan, dan juga mengikuti ajaran rasul Paulus kepada jemaat di Roma? “Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. (Rm. 5:15).

Untuk itu, sabda Yesus dahulu, sekarang dan untuk selama-lamanya, “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.”(Mat. 10:33), adalah keyakinan iman yang meneguhkan kita semua. Semoga !


“Selamat merenungkan Kasih TUHAN, Allah yang Mahapengasih, dan semoga, Kasih-Nya, meneguhkan kita semua untuk menjadi murid-Nya.”