DOA YANG BERKENAN KEPADA ALLAH

DOA YANG BERKENAN KEPADA ALLAH

Sekali lagi, dalam Injil Kristus menurut Lukas, Sang Guru Mahabijaksana, mengajarkan kepada para murid tentang berdoa. Jika pada minggu yang lalu diajarkan agar tak jemu-jemu berdoa, sekarang pertanyaannya, berdoa yang bagaimana? Dalam perikop ini, Lukas memberi dua situasi yang sangat kontras. Kontras antara dua orang, dalam perilakunya, yang menuju Bait Allah untuk berdoa(ay.10). Mari kita coba untuk mencermati kontras itu: yang satu, seorang Farisi, yang lainnya pemungut cukai. Yang satu merasa yang paling suci, yang satu menyatakan ‘orang berdosa’. Yang satu menengadah dengan mantap, yang lainnya tidak berani menengadah. Malah membungkuk dan memukul diri. Yang satu mengagulkan diri, taat akan Hukum Taurat, yang lain mengatakan sebagai pendosa. Yang satu penuh dengan kata ‘aku’, yang lain tidak mengatakan apa-apa tentang dirinya.

Dan, apa akhir cerita, yang merupakan pengajaran-Nya? Aku berkata kepadamu: “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Siapa yang dibenarkan Allah? Sang pemungut cukai yang mengaku sebagai pendosa, yang memukul dada tanda penyesalan.

Dalam Bacaan pertama, Sirakh mengatakan hal yang senada. Bahkan bisa dikatakan serupa. Yaitu, bukan persembahan yang mewah yang diinginkan Allah, tetapi “la tidak memihak dalam perkara orang miskin, tetapi doa orang yang terjepit didengarkan-Nya.” Ayat terusannya pun menyatakan, Tuhan berkenan kepada siapa yang dengan sebulat hati berbakti kepada-Nya, dan doanya naik sampai ke awan. Dengan kata lain, bukan berhenti pada upacara liturgis, namun melangkah lebih jauh dalam kehidupan nyata: berbuat baik, berbagi kepada sesama, ikut memelihara keadilan, menolak yang jahat(ingat janji baptis), dan berbagai perbuatan yang baik lainnya.

Inspirasi apa yang dapat kita pahami dan yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari? Dalam kehidupan kita sehari-hari, pada jaman kini, banyaklah tawaran untuk memuliakan diri sendiri. Teknologi canggih memungkinkannya: berswafoto, menyebarkan berita-berita tentang diri sendiri dan orang-orang terdekat dengan kita. Dan lain sebagainya. Kelirukah itu? Rasanya tidak! Namun, bisakah kita melangkah lebih daripada itu? Jawabnya tentu bisa. Ketika kita sedang berdoa Rosaria, pada bulan ini, misalnya, dapatlah doa spontan umat lebih ditujukan untuk mendoakan sebanyak mungkin orang daripada diri sendiri. Dalam situasi dalam Negeri yang masih banyak berita-berita negatif berkeliaran, dapatlah kita mendoakan agar semakin banyak orang yang berusaha berbagi berita gembira daripada berita yang mencemaskan. Kita juga bisa menjadi lebih berkontribusi dengan positif jika memilah dan memilih berita atau gambar atau vidio mana yang layak diteruskan.

Semoga, kita semua, dapat memahami dan, lebih-lebih menerapkan dalam kehidupan pengajaran-Nya, dan semoga, kita pun, suatu saat nanti bisa berucap seperti sang Rasul, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

Semoga…