Garam dan Terang Dunia

Garam dan Terang Dunia

Garam dan Terang Dunia
Yes. 58 : 7-10; 1 Kor. 2 : 1-5; Mat 5 : 13-16

Penulis yakin kita semua orang-orang Katolik sering sekali membaca atau mendengar Perikop mengenai garam dan terang dunia ini. Penulis sempat bertanya dalam hati mengenai apa lagi yang harus disampaikan sebagai bahan renungan terkait thema ini. Perikop ini tidak memberi pesan bahwa kita para pengikut Kristus harus menjadi garam dunia atau harus menjadi terang dunia. Sebaliknya perikop ini justru ingin menegaskan kita bahwa kita adalah garam dunia dan bahwa kita adalah terang dunia. Nah ..sekarang menjadi jelas. Pesan perikop ini adalah ...yuk ... mulai sekarang (kalau memang belum pernah memulai) segeralah berperan sebagai garam dan segeralah berperan sebagai terang bagi dunia.

Mengapa pesannya seperti itu? Mari kita coba lihat dan pahami konteksnya. Injil Matius ditulis terutama untuk keperluan masyarakat Kristen yang berasal dari Bangsa Yahudi untuk memberi penegasan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan bagi bangsa Israel karena berasal dari keturunan Daud (bdk Bab.1). Hal ini perlu ditegaskan karena sebagai minoritas,kehidupan komunitas Kristen Yahudi bukan persoalan yang mudah. Mereka sangat kesulitan untuk beribadah karena Sinagoga-sinagoga sudah terlarang bagi mereka untuk beribadah di sana. Belum lagi penganiayaan-penganiyaan yang ditujukan kepada mereka karena iman mereka. Dalam situasi ini,jika tidak diberi semangat dan motivasi,bisa saja iman mereka akan goyah.

Umat Tuhan yang terkasih,dalam beberapa hal,situasi dan keadaan yang dialami masyarakat Kristen Yahudi ada kesamaan dengan kondisi kita di Indonesia saat ini. Di beberapa daerah,saudara-saudari Kristen masih sulit untuk beribadah apalagi membangun gedung gereja. Beberapa perlakuan diskriminatif juga kerap terjadi karena kita berbeda. Dalam situasi seperti ini peran kita sebagai garam dan terang justru lebih diperlukan. Kita tetap mampu memberi kesejukan dan memberi makna atas realitas keberagaman yang ada. Dalam kegaduhan yang terjadi di masyarakat atau dunia politik karena munculnya politik identitas,kehadiran kita orang-orang Kristen yang menyejukkan akan memberi makna tersendiri. Menebar kasih dan kesejukan akan membuat kita mampu menghadirkan wajah Allah di dunia ini.

Inilah tantangan kekristenan kita, tetap mampu memberikan rasa di tengah hambarnya relasi antar manusia, dan tetap menjadi terang di tengah gelapnya dunia yang penuh dengan kebencian,keserakahan dan kemarahan. Secuil garam sudah cukup untuk memberi rasa atas semangkuk sayur, satu buah lampu cukup untuk menerangi sebuah ruangan. Inilah kekristenan,bukan soal jumlah tetapi bagaimana kita bisa berarti
dan memberi makna kepada yang lain.

Selamat hari minggu, selamat bertemu Tuhan dalam Ekaristi. Tuhan memberkati.