“Gembala dan Pintu”

“Gembala dan Pintu”

Minggu Paskah IV, 2-3 Mei 2020.

“Gembala dan Pintu”

(Kis.2:14a,36-41;1Ptr.2:20b-25;Yoh.10:1-10) Mzm.23:1-3a,3b-4,5,6

Kisah Para Rasul!: dari Kitab inilah, Bacaan Pertama, mulai Hari Raya Paskah, Hari Kebangkitan Tuhan, hingga nanti Hari Raya Pentakosta, diambil. Memang, sangat menarik untuk membaca dan mencoba mencermati sepak-terjang para Rasul, setelah Sang Guru tidak lagi bersama mereka. Khususnya, setelah mereka menerima Roh Kudus, sesuai janji Yesus: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8). Bacaan pertama pada

Minggu Paskah keempat, mengisahkan bagaimana para Rasul, yang telah menerima Roh Kudus memulai pewartaan Kabar Gembira, dengan menjadi saksi Kristus.

Dalam Injil Kristus menurut Yohanes, kita membaca, sekali lagi, bagaimana Yesus mengajar dengan menggunakan perumpamaan. Tentu kita maklum bahwa yang disampaikan adalah kiasan, ketika Dia berkata,”Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu , tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.”(ay. 1-2). Kiasan untuk kata-kata gembala, domba dan pintu. Begitulah pengajaran Yesus, namun dikatakan bahwa yang mendengarkan (‘mereka’) belum juga mengerti. Maka, sekali lagi Yesus berkata,”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu.”(ay.7). Dan, tentang pintu dan gembala, lebih dijelaskan pada ayat 9 (“Akulah pintu...”) dan ayat 11 (“Akulah gembala yang baik...”). Apakah pintu yang dimaksud adalah sebagai ‘jalan masuk’, penyekat, penutup dan pemisah yang di luar dan di dalam? Secara umum, “ya”. Namun, yang ingin lebih ditekankan adalah, kawanan domba itu, sebelum Yesus datang, tinggal di tempat yang tak berpintu. Jadi, dengan mudah menjadi mangsa. Begitu penjelasan seorang ahli Kitab Suci. Dengan menjadi pintu, maka Yesus bisa membatasi atau menghalangi orang(-orang) yang bermaksud tidak baik. Sementara, tentang Gembala. Dikatakan bahwa: Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.

Masih dalam nuansa Paskah, bagaimana kita bisa memetik inspirasi dari Injil dan Kisah? Kita tahu, bahwa Paskah pada awalnya adalah saat Allah melawat umat-Nya, bukan? Seperti yang diceritakan di Kitab Keluaran?(bdk.Bab 12). Pada kisah Paskah di jaman kita, mulai saat Dia bangkit hingga sekarang, bukankah kita diberi karunia yang besar? Sang Gembala memberikan segalanya, demi menebus kita manusia, dari dosa yang kita lakukan. Bukankah ini sungguh rahmat yang berlimpah? Mungkin, kosa kata kita, manusia, tidak cukup untuk bisa menggambarkan betapa besarnya Kasih Allah.  Pertanyaan bagi kita semua: bagaimana agar kita bisa menuangkannya di dalam kehidupan sehari-hari? Saat ini, lebih daripada saat lain, bisa jadi saat yang tepat untuk mencoba melakukannya. Misalnya, kita menjadi gembala, kecil-kecilan, dengan berbagi kepada sesama, di sekeliling kita, di masa yang sulit ini. Berbagi apa yang kita punyai. Berbagi secara nyata. Membuka pintu hati bagi yang sangat membutuhkan. Bukan untuk supaya suara kita dikenali sesama, tetapi, lebih untuk menjadi murid sungguh, Sang Gembala Agung.

Bisakah, kita? Pasti bisa!

Bersediakah kita? Kita masing-masing yang bisa menjawabnya.

“Selamat berbuat baik di Minggu Paskah.

Dan, semoga, Kasih-Nya, menyertai kita semua.”