HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN

HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN

HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN

“Menjadi ahli waris Kristus”

Yes.60:1-6; Ef.3:2-3a,5-6; Mat.2:1-12

Menurut penanggalan liturgi (katolik), Hari Raya Penampakan Tuhan, atau Epifani, atau Teofani, adalah minggu keenam. Namun, menurut kalender Masehi, adalah minggu pertama. Jadi,masih tetap hangat untuk menyampaikan, “Selamat menapaki tahun yang baru, tahun 2021. Semoga, Kasih-Nya, menyertai senantiasa.”

Dalam Injil Kristus menurut Santo Matius,untuk Hari Raya ini, tertulis, “Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes,datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem, dan bertanya-tanya: Dimanakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia” (ay. 1-2). Walau ketiga orang Majus, yang disebut juga orang bijak dari Timur, dituntun oleh ‘bintang-Nya’, tetaplah mereka santun: sowan kepada raja Herodes (Agung), sebagai penguasa saat itu. Dan, kedatangan mereka membuat sang raja terkejut. Dan segera raja memanggil semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, padahal dia adalah orang Idumea, yang bukan termasuk orang Yahudi. Setelah mendapatkan jawaban, perhatikanlah bagaimana sang raja dengan diam-diam memanggil orang Majus dan meminta sesuatu. Yaitu, tempat di mana Sang Raja dilahirkan.

Mari kita coba untuk menelisik tiga golongan orang, dalam kisah ini. Pertama, diceritakan tentang orang Majus. Banyak versi tentang siapa mereka, dan juga dari mana asalnya. Namun, di Injil ditulis “Orang-orang Majus dari Timur”. Kita ikuti versi kisah ini. Apa yang khas dari mereka? Dengan melihat ‘bintang-Nya’,maka mereka bergegas mencari untuk menyembah Sang Raja.Konon, mereka harus menempuh sekitar 2.000 KM, dan menghabiskan 50-60 hari untuk sampai di Betlehem, jika mereka dari Persia (Iran sekarang). Kedua, sang raja yang berkuasa. Mengapa terkejut? ketika ditanya tentang Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan? Tak lain, karena kuatir kuasanya akan direbut. Terkenal sebagai raja yang bengis, tak sungkan membunuh ibu dan anaknya,jika dikira akan merebut kekuasaan. Dan bengisnya terbukti dalam perintahnya untuk membunuh semua anak berumur dua tahun kebawah, ketika mengetahui bahwa orang Majus kembali melalui jalan lain (bdk. Mat.2:16). Ketiga, para imam kepala dan ahli Taurat. Ahli mengenai kitab suci mereka, Taurat. Mereka bisa menjawab pertanyaan sang raja dengan cepat dan tepat. Namun, apa yang kita bisa baca tentang mereka di Alkitab?

Apa yang dapat kita petik dari kisah ini? Model orang yang bagaimana yang layak kita teladani? Orang Majus yang bersusah payah mencari Sang Raja? atau, raja Herodes yang ingin penuh kuasa?, atau para imam dan ahli Taurat? Lebih khusus lagi, teladan apa yang dapat kita wariskan kepada anak-anak dan cucu kita? Minggu ini juga dirayakan sebagai Minggu Misioner. Semoga, cerita tentang orang Majus, bukan bangsa Yahudi, dapat memberi inspirasi kepada generasi muda kita: anak-anak dan cucu. Mereka adalah kandidat misionaris masa depan. Dan kita, para tetua paroki dan orang tua, menjadikan anak-anak ahli waris Kasih-Nya, seperti diwartakan Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus: “…yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.” (Ef.3:6)