Hari Raya Semua Orang Kudus

Hari Raya Semua Orang Kudus

Hari Raya Semua Orang Kudus

“Belajar dan berusaha menjadi suci”

Why.7:1,2-4,9-14; 1Yoh.3:1-3; Mat.5:1-12a

Hari Raya SMO ini, ditetapkan untuk menghormati para kudus, baik mereka yang sudah diakui resmi oleh Gereja, mau pun yang belum, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Gereja Katolik Roma memulai tradisi ini pada tahun 609(M), yaitu ketika Paus Bonifasius IV merombak pantheon, tempat pemujaan dewa-dewi Roma, menjadi gereja yang dipersembahkan kepada Santa Maria dan para Rasul. Dalam kedua Bacaan dan Injil, disahkan bahwa keselamatan hanya pada Allah, Tuhan kita, Yesus Kristus. Bacaan pertama, ringkasnya, cerita dengan sastra apokaliptik (penglihatan), adalah tentang dua penglihatan Yohanes. Yaitu, tentang seorang malaikat yang muncul dari tempat matahari terbit, yang mengingatkan keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut, menunda tindakan mareka,sebelum dilakukan pemeteraian di dahi manusia. Yang satu lagi, adalah tentang suku-suku Israel yang telah dimeterai, dan, juga sekumpulan besar orang banyak yang tidak dapat dihitung jumlahnya, dari segala bangsa dan suku dan umat. Dengan rendah hati, Yohanes menjawab, “Tuanku, Tuan mengetahuinya”, ketika ditanya siapakah manusia yang begitu tak terhitung jumlahnya itu. Dan jawabannya adalah, “Mereka ini orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mareka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.”

Dalam Injil Kristus menurut Matius untuk Hari Raya ini, berkisah tentang khotbah Yesus. “Khotbah Di Bukit”, begitu judul yang tertulis di Alkitab kita.   Ditulis, “Ketika melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya, kepada-Nya. Siapakah yang dimaksud ‘orang banyak itu’? Tentulah kita bisa membaca di akhir perikop sebelumnya: orang banyak berbondong-bondong…(dari berbagai tempat; Mat.4:25). Mereka bisa disebut ‘murid-murid’ juga. Menurut Rm. Martin Harun, OFM, seorang ekseget, “khotbah di bukit”, yang berisikan tentang ‘bahagia’, sebagai bagian dari pengajaran Yesus kepada murid-murid yang sejati. Dan, ‘bahagia’ tidak hanya di masa kedatangan Kerajaan Allah menjadi, namun juga di dunia ini, walau dalam prosesnya ‘banyak kesusahan’.

Dalam usaha untuk memaknai dan mengambil hikmat HR Semua Orang Kudus, ijinkan untuk belajar melalui Bapa Suci kita, Paus Fransiskus. Yaitu, melalui kisah dalam filem berjudul “The Two Popes”. Karya ini, berkisah tentang dua Paus yang kita punyai saat ini. Namun, lebih banyak dilihat dari sudut Paus Fransiskus daripada Paus emeritus Benediktus XVI. Paus yang bernama Jorge Mario Bergoglio, yang lahir di Argentina pada 17 Desember 1939, pernah menjadi gurubesar.  Bagian dari kisah adalah masa ketika Sang Bapa Suci mengalami masa-masa kelam, termasuk diasingkan, sebelum kembali ke negerinya, dan dilantik menjadi Uskup, dan kemudian menjadi Kardinal. Dan, beliau menjadi Paus pada 13 Maret 2013, sebagai Paus yang ke-266. Jika harus diceritakan seluruh kisah itu, maka dibutuhkan ruangan seluas beberapa kali ruangan untuk renungan ini. Namun, kita bisa belajar untuk berupaya menjadi suci dengan melakukan hal-hal sederhana setiap hari dengan penuh kasih. Begitu pernah disampaikan beliau, pribadi yang sungguh rendah dan suci hati.

Singkatnya, sungguh, filem karya sutradara Fernando Seirelles, warga Brasil, menceritakan berkisah tentang dua Paus yang kita punyai saat ini, sangat memikat, dan banyak pelajaran yang bisa dipetik untuk menjadi Bahagia.

Akhir dari renungan, semoga, kita semua, selaku umat paroki Jatiwaringin yang ikut berdoa di masa pandemi virus corona, mengingat dan berupaya melakukan apa yang ditulis Rasul Yohanes, “Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.” (Bacaan 2).

Shalom.