Hari Raya Tritunggal Mahakudus

Hari Raya Tritunggal Mahakudus

Hari Raya Tritunggal Mahakudus, 6-7 Juni 2020.

“Allah adalah Kasih”

(Kel.34:4b-6,8-9;2Kor.13:11-13;Yoh.3:16-18) MT.Dan. 3:52,53,54,55,56

Judul renungan di atas, tentulah sudah dikenal baik oleh banyak umat. Dalam bahasa lain, ditulis, “Deus caritas est”. Pemahaman itulah yang mungkin bisa kita ambil dari dialog antara Yesus dengan Nikodemus, dari Injil Kristus menurut Yohanes untuk Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Mengapa demikian?: “Karena begitu besar  kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”(Yoh. 3:16). Dan, pengutusan Putra-Nya yang tunggal bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan. Jika begitu, apa yang harus kita lakukan? Sederhana, sesungguhnya: percaya kepada-Nya.    Nikodemus bukahlah seseorang biasa. Namanya berasal dari dua kata: Nikos yang berarti kemenangan, dan demos yang berarti masayarakat. Jadi, bisa diartikan sebagai, “Yang menang bersama bangsa itu”, atau, ada juga yang mengartikannya sebagai, “Penakluk bangsa-bangsa.”. Apa pun arti namanya, beliau adalah salah seorang petinggi Sanhendrin, yaitu lembaga agama tertingi di kalangan Yahudi di masa itu. Ia juga seorang pengajar Israel, seperti yang dinyatakan Yesus(ay.10).

+++++++

Namun, yang lebih daripada itu, dari Injil Kristus menurut Yohanes di atas adalah usaha untuk mencoba memahami, sehingga mampu mengimani Tritunggal Mahakudus. Untuk itu,dikonsultasikan kepada seorang pakar: “Dahulu, orang memandang dunia ini sebagai drama yang dilakoni oleh Allah sendiri. Dalam drama ini, ada tiga pemeran. Bapa berperan sebagai “pengasal” tindakan penyelamatan, Putra sebagai “pelaksana”-nya, sedangkan Roh Kudus “melanjutkannya”. Ketiga pelaku ini menjalankan peran yang berbeda-beda tapi dengan maksud dan tujuan yang sama, yakni penyelamatan dunia beserta isinya. Jalan pemikirannya demikian: karya penyelamatan itu berasal dari Bapa dan dilaksanakan oleh Putra yang diutus ke dunia, dan kemudian dijaga keberlangsungannya oleh Roh Kudus. (Rm. A.Gianto, 2006a).

+++++++

Dalam Bacaan pertama, kita dikisahkan sekelumit dari kisah penyelamatan bangsa Israel. Latar belakang situasinya adalah, ketika Musa, sang Pemimpin mereka, katakanlah sudah sangat kesal dengan perilaku bangsanya, sehingga memecahkan kedua loh batu yang berisi sepuluh firman Allah. Musa diminta untuk menuliskan kembali, sama seperti yang pertama. Namun, yang lebih meneguhkan adalah bahwa TUHAN, Allah, mau menyatakan hakikat-Nya melalui Musa,

“Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya,”. (Kel. 34:6). Mendengar itu, Musa segera berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah.

+++++++

Apa yang bisa kita ambil sebagai inspirasi bagi kehidupan kita kini? Bisa jadi, apa yang menjadi pengajaran atau pun nasihat Rasul Paulus kepada umat di Korintus, itu pulalah yang bisa kita usahakan, “Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu! Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus. Salam dari semua orang kudus kepada kamu.”(Bacaan kedua).

“Selamat merenungkan Kasih TUHAN, Allah, Tritunggal Mahakudus;

dan, semoga, Kasih-Nya, meneguhkan kita semua untuk berbuat kebaikan.”