"Hati Yang Penuh Cinta"

"Hati Yang Penuh Cinta"

Renungan Harian, 12 September 2020

"Hati Yang Penuh Cinta"

Bacaan I       : 1 Kor. 10 : 14-22a
Mazmur        : 116:12-13.17-18; R:17a
Bacaan Injil  : Luk. 6 : 43-49

 

Dalam suatu kesempatan retreat di Lembah Karmel beberapa waktu lalu, saya menangkap satu pernyataan Sr. Skolastika, P.Karm yang ketika itu memberi pengajaran tentang Kontemplasi, seperti ini “Semakin kita masuk dalam keheningan, semakin kita masuk dalam kontemplasi, maka kita semakin hadir didunia”. Kalimat ini begitu berkesan bagi saya dan terus menjadi bahan permenungan pribadi saya. Bagaimana tidak, selama ini kalau saya mendengar pengajaran tentang keheningan, hal yang selalu didapat ialah bahwa kita akan semakin peka mendengar kehendak Tuhan. Semakin kita mampu meng-hening-kan diri kita, maka semakin mampu kita mendengar suara Tuhan. Ini benar, tetapi apa yang selanjutnya yang akan dan harus kita lakukan ?

Lanjut Sr. Sko, “Semakin kita masuk ke kedalaman hati kita, disanalah kita akan bertemu dengan Tuhan. Ketika kita bertemu dengan Tuhan, maka hati kita akan menjadi selaras dengan hati Tuhan. Dengan demikian hati kita akan penuh dengan CINTA. Kita akan semakin ingin berbuat baik, malakukan karya-karya kasih karena HATI TUHAN selalu tertuju kepada dunia dan selalu ingin memberikan yang terbaik bagi manusia”. Disinilah saya menangkap maksud semakin hadir didunia.

Mari kita lihat juga apa yang diajarkan oleh Pastor Bernard Haring, CSsR, seorang teolog pembaru teologi moral Katolik. Romo Bernard akan membawa kita ke pemahaman yang lain, bahwa kita jangan sekedar bertanya “Apa yang harus manusia perbuat?” melainkan lebih dari itu, kita harus bertanya kepada diri sendiri, “Manusia harus menjadi seperti apa?”, atau lebih tepat lagi, “Manusia seperti apa yang Tuhan kehendaki dalam menciptakan saya?”. Moralitas kristiani, lanjut Pastor Bernard, adalah tindakan seseorang karena hubungannya yang personal dengan Kristus sendiri. Memang untuk mengetahui atau mengidentifikasi apakah sesuatu itu karya Roh Kudus atau bukan memang bukan perkara mudah.

Umat Tuhan yang terkasih, dari dua pengajaran diatas kita dapat menarik sebuah kesimpulan yang sangat baik yaitu bahwa jika ingin menjadi manusia seperti yang Tuhan kehendaki, maka hidup kita harus selalu senantiasa terpusat kepada hati kita. Hati adalah pusat hidup manusia dan apapun harus kita lakukan untuk memperindah hati kita agar hati kita senantiasa menjadi tempat yang layak bagi Tuhan bertahta sehingga hidup kita akan selalu dijiwai oleh cinta karena telah menjadi selaras dengan hati Allah. Maka, pesan Yesus bagi kita hari ini yaitu bahwa orang yang baik mengeluarkan apa yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dapat benar-benar menjadi kenyataan di dalam diri kita. Kuncinya adalah kita harus benar-benar mau memboroskan waktu bersama-NYA dalam doa, membaca dan mengolah Firman-NYA untuk kemudian menyelaraskan kehendak kita dengan semua kehendak-NYA dan semuanya itu berawal dari hati.

Mari kita berdoa dan berjuang sampai titik itu.

Tuhan memberkati. Amin