“Hidup Dalam Semangat Pertobatan”

“Hidup Dalam Semangat Pertobatan”

HARI MINGGU BIASA XXVI

“Hidup Dalam Semangat Pertobatan”

Yeh. 18 : 25-28; Fil. 2 : 1-11; Mat 21 : 28-32

Saat makan siang di kantor, seorang teman yang sedang sama-sama makan siang menerima panggilan telepon melalui handphonenya. Saya sempat menikmati nada dering handphonenya, sebuah lagu rohani Kristen karena memang teman saya ini penganut agama salah satu sekte kristen. Suasana makan siang yang awalnya cair, sesekali diselingi canda tawa, tiba-tiba semua terdiam. Ruang makan yang tidak terlalu luas membuat semua orang yang ada menjadi diam terpaku karena teman yang menerima telepon itu berbicara dalam nada suara yang cukup tinggi. Dia marah-marah. Yang sangat mengejutkan saya, penghuni kebun binatang sempat disebut-sebut di dalam mengungkapkan kemarahannya kepada orang yang berbicara dengannya di telepon.

Usai dia menutup telepon, saya ungkapkan keheranan saya kepadanya, saya tidak tahan ingin berbicara kepadanya, “Mawar (bukan nama sebenarnya), koq elu ngomongnya kasar banget ya, elu khan fasih banget kalo ngomong Kitab Suci, tiap minggu kita sama-sama PD”. Jawaban dia sangat mengejutkan saya, “Biarin aja, gue udah percaya Yesus, gue udah pasti selamet”. Dengan nada yang tegas dan pasti, saya balas pernyataannya itu, “Siapa yang ngomong gitu? Kalo ada Orang yang ngajarin elu gitu, tinggalin tuh Orang, ngaco dan sesat”. Dia sempat terkejut melihat cara saya berbicara dengan nada dan tekanan suara yang tidak seperti biasanya saya bicara. Ceritanya sampai di sini saja.

Umat Tuhan yang terkasih, pesan bagi kita dari bacaanbacaan Minggu ini adalah bagaimana kita menjalani kehidupan kita dalam semangat tobat yang terusmenerus. Pertobatan bukan sekedar sebuah momen di dalam kehidupan kita atau hanya sebuah ungkapan sesaat, melainkan merupakan sebuah cara hidup yang senantiasa harus kita jalani setiap hari. Rasul Paulus menggambarkannya dengan sangat baik dengan mengambil contoh cara hidup Yesus sendiri. Yesus mengosongkan diri-Nya agar Allah Bapa sepenuhnya mengisi hidup-NYA, meraja di dalam hidup-Nya dan hidup di dalam kesetiaan dan ketaatan sampai akhir. Itulah cara hidup yang juga harus menjadi cara hidup kita. Hidup dalam semangat pertobatan hanya mungkin jika kita benar-benar membiarkan Tuhan meraja di dalam hidup kita, mengingat dan menjalani apa yang diajarkan-Nya dalam kesetiaan dan ketaatan sampai akhir. Mari berdoa dan berjuang untuk mencapai titik ini.

Selamat hari Minggu, selamat bertemu Tuhan di dalam Ekaristi - Tuhan memberkati