“Ia Tuhan Orang Hidup”

“Ia Tuhan Orang Hidup”

Hari Minggu Biasa XXXII

“Ia Tuhan Orang Hidup”

(2Mak. 7:1-2,9-14; 2Tes.2:16 – 3:5; Luk. 20:27-38)

Kota Yerusalem terkesan tidak ramah kepada Yesus dan para murid-Nya. Karena, begitu sampai di sana, ada saja kelompok yang ‘mencobai’-Nya. Entah itu kelompok ahli Taurat, orang-orang suruhan imam besar, dan, kali ini, dari orang Saduki, yang adalah para keturunan imam besar Zadok, seorang imam di jaman raja Daud (bdk. 2Sam. 8:17). Di masa Yesus, mereka adalah golongan ningrat, baik imam-imam Bait Allah atau awam yang kaya. Mereka hanya percaya kepada Pentateukh, kitab Kejadian hingga Ulangan. Sangat mengguasai hukum Taurat, atau yang lebih sering mereka sebut Hukum Musa. Mereka tidak percaya akan adanya kebangkitan (orang mati).

Kepada Yesus mereka ‘bertanya’, Siapa yang akan menjadi suami seorang Wanita yang menikahi tujuh bersaudara? di kehidupan kekal? Mereka ‘memakai perintah Musa’ dalam mengajukan pertanyaan, yang sesungguhnya mau menjerat Yesus. Topik yang mereka tanyakan ada kaitan dengan hukum levirat. Hukum ini mengharuskan saudara laki-laki seorang(suami) untuk menikahi isterinya, jika ia meninggal dan belum mempunyai anak. Dan, anak laki-laki pertama yang dilahirkan akan dianggap sebagai anak almarhum.

Mengenai kebangkitan, dikisahkan dalam Bacaan pertama. Cerita ‘terjadi’ di jaman raja Antiokus Epifanes, yang memaksakan kebudayaannya kepada semua orang yang hidup di kerajaannya. Tersebutlah tujuh bersaudara: Abim, Antonius, Gurias, Eleazar, Eusebonus, Alimus dan Marcellus. Ibu mereka bernama Solomonia. Mereka semua dipaksa untuk memakan daging babi, yang tentunya dilarang dalam keyakinan iman mereka. Karena tidak mau mengikuti perintah, maka mereka disiksa dengan bengis, yang ceritanya silahkan dibaca sendiri. Yang mengagumkan adalah iman mereka. Teguh dengan keyakinan, siap menghadapi hukuman walau sudah dicoba dibujuk. Ucapan anak keempat, yang sudah dekat akhir hidupnya, “Sungguh baiklah berpulang oleh tangan manusia dengan harapan yang dianugerahkan Allah sendiri, bahwa kami akan dibangkitkan kembali oleh-Nya. …….”(2Mak. 7:14); sungguh meneguhkan!

Inspirasi apa yang dapat kita petik dari Injil suci dan Bacaan untuk Minggu ini? Pertama, semoga, jawaban Tuhan Yesus sungguh menjadi penguat bagi pertumbuhan iman kita. Yaitu, apa yang akan dialami di kehidupan kekal, seperti yang tertulis di ayat 34-36. Yesus menjelaskan bahwa perkawinan itu adalah lembaga dari dunia sini, dan, ada bagi urusan di dunia ini. Dengan begitu, perkara yang diajukan, tidak bisa diterapkan di dunia ‘sana’.

Kedua, tentang bangkitnya orang mati, Yesus menjawab juga dengan merujuk kepada peristiwa yang dialami Musa, dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Yesus merujuk ke kitab Taurat, kitab Keluaran 3:6. Yesus menegaskan, “Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Maksudnya, leluhur Musa sudah mengenal-Nya sebagai Tuhan yang menyelamatkan mereka dan tetap menyelamatkan keturunan mereka. Ia Tuhan Pencipta, tetapi juga Tuhan yang menyelamatkan.

Akhir kata, “Selamat merayakan Ekaristi Hari Minggu Biasa yang ketigapuluh dua, sambil dengan gembira ikut melantunkan mazmur bagi-Nya,

“Pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan wajah-Mu, ya Tuhan.” (Mzm. 17:15b).