Introspeksi Diri

RENUNGAN MINGGUAN 2 -3 MARET 2019

Bacaan I               : Sir. 27 : 4-7
Mazmur               : 92:2-3,13-14,15-16
Bacaan II              : 1 Kor. 15 : 54-58
Bacaan Injil         : Luk. 6 : 39-45

Kembali kali ini Yesus menyampaikan pengajaran-Nya melalui perumpamaan. Yang berbeda adalah, sepertinya kali ini Tuhan berbicara kepada kita agar kita berani melakukan introspeksi diri, berani melihat kedalam diri sendiri untuk menemukan keadaan kita yang sebenarnya. Didalam Bab Enam ini Lukas memang beberapa kali menampilkan pengajaran-pengajaran Tuhan Yesus yang cukup mendalam setelah sebelumnya Tuhan memilih 12 orang sebagai rasul-rasul-Nya.

Dapatkah orang buta menuntun orang buta ?”, pertanyaan ini menjadi begitu penting bagi kita sebagai murid-murid Tuhan. Yesus tahu persis bahwa hal pertama dan utama dalam proses keselamatan adalah memperbaiki diri sendiri dulu. Namun disisi lain,  Yesus juga tahu persis bahwa kelemahan manusia yang utama adalah ketidakmampuannya untuk melihat diri sendiri secara jujur. Bagi kita lebih mudah melihat dosa orang lain daripada melihat dosa diri sendiri. Manusia cenderung egosentris dan mengukur segala sesuatu menurut ukuran yang dibuatnya sendiri. Inilah kebutaan mendasar manusia. Maka, sebagai murid Tuhan yang kelak akan memiliki misi untuk juga membawa orang lain mengenal Kristus, hal pertama dan utama adalah membereskan dirinya sendiri terlebih dahulu agar kita tidak lagi dalam keadaan buta saat kita membawa orang lain menuju pilihan jalan keselamatan.

Jalan yang ditawarkan Tuhan adalah memperbaiki Hati. “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya” (ayat 45). Maka, renungan kali hanya ingin menawarkan pertanyaan introspektif. Pertama, peran apa yang kita ingin berikan kepada hati kita; singgasana atau penjara bagi Tuhan ? Kita tahu bahwa hati kita adalah tempat Tuhan bersemayam; apakah kita mau membiarkan Tuhan me-RAJA atas hidup kita atau duduk diam saja di dalam penjara hati kita. Pertanyaan kedua, setujukan kita bahwa kesucian dimulai bukan saat kita mampu melihat dosa orang lain, tetapi justru saat kita mampu melihat dosa sendiri dan mau berubah ?.

Umat Tuhan yang terkasih, sebentar lagi kita akan memasuki Masa Prapaskah, sebuah kurun waktu dimana kita dihimbau untuk menjalani laku tobat mempersiapkan diri menyambut kebangkitan-NYA. Tentu saja, laku tobat bukan untuk kita lakukan hanya setahun sekali, tetapi ini lebih untuk mengingatkan kita bahwa laku tobat adalah cara atau jalan bagi kita untuk kelak menyongsong kemuliaan bersama Tuhan Yesus di Surga. Kita harus tetap waspada karena dosa bisa membuat kita yakin bahwa kita tidak berdosa.

Selamat hari minggu, selamat beribadah - Tuhan Memberkati.