Jangan Takut dan Waspada

Jangan Takut dan Waspada
Jangan Takut dan Waspada

Jika kita membaca Injil Kristus menurut Lukas untuk Minggu ini dari awal, maka di sana tertulis sub-judul “Pengajaran khusus bagi murid-murid.” Siapa lagi jika bukan para murid-Nya? Namun, jika kita mencoba merenungkannya, bukankah kita juga murid-Nya?, di jaman kini? Artinya, ini juga pengajaran khusus kepada setiap kita? Apa saja yang menjadi pengajaran khusus itu? Mari kita susuri sejenak. Dimulai dengan, “Jangan takut, hai kawanan kecil.” Setelah itu, para murid diminta untuk membuat pundi-pundi, yang merupakan suatu harta di sorga. Dengan kata lain, utamakanlah harta di sorga daripada di dunia. Ingatlah untuk memberi sedekah. Kemudian, disusul pengajaran tentang kewaspadaan. Apa yang harus diwaspadai?: sebagai hamba, setia menanti tuannya pulang. Seperti disabdakan-Nya, “Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu  ketika tuannya datang.” Tetapi, jika kita diangkat sebagai menjadi pengawas, waspadalah terhadap kepercayaan yang diberikan. Karena, ada kecenderungan untuk menyalahgunakan kepercayaan itu.  Dan, lebih lagi, jika kita diberi banyak, maka banyak jugalah yang akan dituntut.

 

Inspirasi apa yang bisa dipetik dari semua Bacaan suci untuk minggu Biasa ke XVII ini? Dari Bacaan pertama, Allah telah memberikan kasih-Nya sejak dulu. Dan, bagaimana kita memperlakukan sesama kita, seperti itu pula akan dialami pada kehidupan mendatang. Sementara, Abraham memperlihatkan ketaatannya, yaitu, dengan setia memegang janji Allah bahwa dia akan menerima apa-apa yang telah dijanjikan. Apa yang menjadi dasar kesetiaan Abraham? Tida lain, karena iman.

Bagaimana dengan kita umat katolik di paroki Jatiwaringin, St. Leo Agung? Masing-masing kita telah diberi atau dikarunia dengan berbagai telenta masing-masing. Bahkan ada yang menerima lebih banyak daripada yang lainnya. Kita diingatkan untuk waspada dalam arti menggunakan atau memakai talenta yang diterima, karena talenta dalam bentuk kedudukan di tempat kerja atau, bahkan dalam pelayanan babi-Nya, bisa saja membuat kita lupa. Lupa bahwa semuanya itu berasal dari-Nya, dan bagi-Nya lah segala pelayanan yang kita lakukan. Namun, kita pun diajarkan untuk ‘jangan taku’. Artinya, kita selayaknya berani melakukan sesuatu, yang kita imani akan memuliakan Nama-Nya, walau pun ada resiko, seperti dianggap ‘sok suci’, digosipkan untuk mencari popularitas, dan lainnya.

Apa yang menjadi dasar bagi kita? Iman kepada-Nya.

Semoga, Tuhan Yesus memberkati kita semua.