"Kemana Orang Kristen Akan Pergi Jika Meninggal ?"

"Kemana Orang Kristen Akan Pergi Jika Meninggal ?"

HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM

"Kemana Orang Kristen Akan Pergi Jika Meninggal ?"

Yeh. 34 :11-12.15-17; 1 Kor. 15 : 20-26a.28; Mat. 25 : 31-46

Jika Anda ingin mengadakan Seminar dan ingin dihadiri banyak orang, buatlah thema tentang kehidupan setelah kematian. Mengapa penulis menyampaikan ini. Pertama, semua orang pasti akan meninggal dan pasti ingin tahu ke mana akan pergi saat meninggal nanti. Kedua, selain ajaran dan Iman Gereja, belum pernah ada saksi hidup yang mampu menceritakan apa yang terjadi setelah kematiannya. Sehingga saat ini jika ada seseorang yang dianggap sangat mengetahui apa yang akan terjadi dengan jiwa kita setelah kematian, maka hal itu akan seperti magnet yang akan menarik untuk diikuti. Penulis pernah dua kali mengikuti seminar semacam ini, oleh dua orang narasumber (Romo) yang berbeda di dua Paroki yang berbeda, masing-masing diikuti peserta lebih dari 500 orang, bahkan sampai 800 orang.

Umat Tuhan yang terkasih, Minggu lalu kita baru saja berbicara tentang talenta. Penulis mencoba memandang talenta dari sudut yang lain. Talenta adalah Iman. Iman adalah Karunia dari Allah yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Dengan iman, manusia mampu mengenal Allah yang senantiasa mencurahkan kasih-NYA. Iman yang diterima manusia harus dipertanggungjawabkan, maksudnya harus berbuah dan berdampak bagi orang lain. Ini bukan tuntutan tetapi sebuah konsekuensi dari beriman. Iman yang hidup membuat manusia mampu merasakan kasih Allah dan membangun relasi yang erat dan menyelamatkan. Sebaliknya, iman yang disia-siakan tidak berdampak apa pun pada keselamatan kekal manusia. Yakobus dengan sangat gambling mengatakan bahwa jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati (Yak. 2 : 17) dan oleh perbutan-perbuatan iman menjadi sempurna (Yak 2 : 22). Inilah saat yang tepat bagi kita untuk ber-refleksi; apakah Iman yang sudah kita terima dari Tuhan dan tertanam di hati kita, sungguh-sungguh sudah menghasilkan buah-buah kebaikan bagi sesame seperti yang digambarkan di dalam bacaan Injil Minggu ini. Apakah setiap kehadiran kita, di mana pun, menunjukkan rasa peduli kita, memberikan kesejukan dan rasa damai bagi orang lain. Kehidupan kekal harus dipersiapkan melalui cara hidup kita yang berlandaskan kasih dan semangat tobat tanpa henti dan ini tidak mungkin dilakukan last minute, karena kita tidak pernah tahu kapan kematian itu datang. Maka, mempersiapkan kematian harus dilakukan sepanjang hidup kita. Hidup benar adalah cara benar mempersiapkan kehidupan kekal kita.

“Tak seorang pun dapat menjadi sahabat Yesus Kristus tanpa menjadi sahabat sesamanya “ (Robert H. Benson). Robert H. Benson ingin mengatakan bahwa mencintai Allah haruslah direfleksikan dengan mencintai sesama dalam segala tindakan baik. Allah yang tidak kelihatan itu dapat dicintai melalui sesama yang membutuhkan uluran tangan kita yang selalu ada bersama-sama dengan kita di dunia ini. Apakah pelaksanaannya semudah itu? Kita tidak perlu berfikir terlalu jauh. Santa Theresia Lisseux dan Santa Teresa dari Kalkuta memberikan resep jitunya ... “Lakukanlah hal-hal sederhana atau hal-hal kecil dengan CINTA yang besar”. Konsistensi melaksanakan kehendak Allah adalah jalan menuju kekudusan, begitu nasehat Santa Teresa dari Kalkuta. Mudah-mudahan kita tidak termasuk dalam golongan hamba yang tidak berguna dan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap (bdk Mat. 25 : 30).

Selamat hari Minggu – selamat bertemu Tuhan di dalam Ekaristi - Tuhan memberkati