"Kepedulian adalah Buah Iman"

Hari Minggu Biasa XVII

“Kepedulian adalah Buah Iman”

2 Raj. 4 : 42-44; Ef. 4 : 1-6; Yoh. 6 : 1-15

Bacaan Injil Minggu ini berkisah tentang Yesus yang memberi makan 5000 orang. Hampir dapat dipastikan bahwa semua orang Katolik pernah mendengar (dan membaca) kisah tentang mukjizat ini. Maka, saya tidak akan mengutipnya lagi secara lengkap. Saya hanya ingin mencoba menyampaikan pesan-pesan apa yang tersirat pada kisah ini yang membuat kisah ini menjadi terus relevan bahkan di dalam situasi kita sekarang ini.

Pesan pertama adalah KEPEDULIAN. Yesus & para murid-Nya yang merasa lelah, juga semua orang yang mengikuti mereka. Di dalam situasi seperti ini, Yesus mengajukan pertanyaan untuk mencobai murid-Nya (ayat 6). Yesus ingin melihat sejauh mana kepedulian murid-murid-Nya. Seringkali kita tidak memiliki kepekaan melihat situasi sekitar kita; kesunyian yang sesungguhnya - yang dialami orang-orang jaman modern saat ini adalah perasaan tidak diperhatikan,tidak dicintai, mengalami kesendirian atau mungkin tersingkirkan. Mereka ada di sekitar kita dan seringkali kita bersikap seperti murid-murid Yesus, meminta mereka pergi dan menyelesaikan masalah mereka sendiri. Padahal, seringkali sebuah kehadiran, akan mampu menyelesaikan sebuah masalah besar yang sedang dihadapi seseorang.

Pesan Kedua adalah MULAILAH DENGAN APA YANG DIMILIKI. Kita lihat ketika Yesus meminta murid-murid untuk memberi makan 5000 orang, murid-murid terkejut. Diantara mereka ada seorang anak yang memiliki lima roti jelai dan dua ikan dan tidak mungkin untuk dibagikan kepada orang lain. Seringkali kita enggan dipakai sebagai alat Tuhan hanya karena merasa tidak layak, merasa belum punya apa-apaKetika Tuhan meminta kita menjadi alat-Nya, sekecil apapun potensi yang kita miliki, itu sudah sangat cukup di mata Tuhan.

Pesan ketiga adalah selalu BERSYUKUR. Inti dari ucapan syukur adalah mengakui kebesaran Allah dan disaat yang sama kita mengakui ketidakberdayaan kita tanpa campur tangan Allah. Bersyukur juga merupakan sebuah tanda bahwa kita senantiasa membangun relasi yang erat dengan Allah. Keterbukaan hati kita kepada Allah memungkinkan Allah bekerja secara bebas di dalam dan melalui diri kita.

Pesan keempat adalah TINDAKAN BERBAGI. Inilah langkah terakhir bagi dimungkinkannya sebuah mukjizat terjadi. Mereka menjadi kenyang setelah para murid membagi-bagikan roti. Jika tidak ada tindakan berbagi,maka 5000 orang tetap akan mengalami kelaparan. Tindakan berbagi merupakan kebalikan dari sikap egois yaitu sebuah sikap yang hanya memikirkan keuntungan dan kenyamanan diri sendiri.

Sekecil apapun yang kita bagi kepada orang lain, entah itu materi, tenaga, waktu, pikiran atau apapun, jika dilandasi kepedulian, cinta dan ungkapan syukur, maka hal itu akan sangat berguna bagi orang lain dan inilah mukjizat. Tindakan saling membantu juga merupakan salah satu bukti bahwa Kasih telah tertanam di hati kita (Ef. 4: 2b)

Mudah-mudahan, pesan-pesan ini berguna bagi kita semua. Selamat hari Minggu – selamat bertemu Tuhan di dalam Ekaristi - Tuhan Memberkati.