”Kesembuhan dan Pewartaan”

”Kesembuhan dan Pewartaan”

”Kesembuhan dan Pewartaan”

Hari Minggu Biasa VI, 11 Febuari 2024

Im. 13:1-2, 45-46; 1Kor. 10:31 – 11:1; Mrk. 1:40-45; Mzm. 32:1-2,5,11

Untuk hari Minggu Biasa ini, kita akan menelusuri akhir dari bab pertama Injil menurut Markus. Hari ini, juga dirayakan sebagai Hari Orang Sakit Sedunia ke-32, dengan tema, “Tidak baiklah jika manusia itu sendirian”. Ada satu lagi peristiwa yang layak dikenang: ketika Bunda Maria menampakkan diri kepada Bernadetha Soubirous, pertama kali, pada 11 Februari 1858. Baiklah kita fokus pada Warta Gembira. Ketiga Bacaan suci mempunyai kesamaan, yaitu tentang penderitaan, atau kondisi sakit yang dialami manusia. Bacaan pertama menceritakan bagaimana penderita lepra jaman itu, harus ‘disisihkan’ dan diperlakukan sesuai dengan penilaian seorang imam, kaum Harun. Merekalah yang menentukan apakah seseorang menderita kusta, tindakan apa yang harus dilakukan serta mereka pula yang menyatakan seseorang telah menjadi tahir(sembuh).

Serupa dengan situasi itu, Yesus menyembuhkan seorang penderita kusta, yang dikisahkan dalam Injil menurut Markus. Apa yang khas dalam perikop ini? Pertama adalah, keberanian seorang penderita kusta datang kepada Yesus. Padahal mereka harus hidup terpisah, jauh dari orang banyak karena dianggap sebagai najis. Dan, kata yang disampaikannya kepada Yesus, sungguh memberikan pelajaran iman kepada kita, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menahirkan aku.” Kalau Engkau mau: dengan begitu, seutuhnya terpulang kepada Kasih Kuasa Yesus. Dia berserah sepenuhnya kepada-Nya! Perkataan itu menggerakkan hati Yesus. Dengan belas kasihan, Yesus melakukan dua hal sekaligus: mengulurkan tangan untuk menyentuh dia, dan, bersabda, “Aku mau, jadilah tahir.”  

Kedua, setelah menyembuhkan, Yesus menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras! Dan menyuruhnya untuk menghadap imam, agar dia secara syah dinyatakan tahir, menurut hukum Musa. Dia turutikah perintah itu? Kisah memberitahu kita apa yang terjadi.

Dalam Bacaan kedua, Rasul Paulus menguatkan hati jemaat di Korintus untuk menjadi pengikutnya; seperti sang Rasul menjadi pengikut Yesus: kesediaan untuk berkurban demi kebaikan orang lain justru merupakan tindakan mulia, seperti yang telah dilakukan Yesus, terlebih dahulu!

+++

Apa yang bisa menjadi ‘inspirasi’ dan sekaligus motivasi agar kita menjadi umat yang berserah penuh kepada Yesus serta menjadi manusia yang memperhatikan sesama?  Pertama, berserah kepada kehendak-Nya justru mendatangkan belas kasihan. Tentu, sebagai manusia, kita mencoba apa yang kita bisa, bukan sekedar berserah. Kedua, dalam usaha berbuat baik bagi sesama, termasuk sebagai pewarta, ternyata melakukan hal yang baik, termasuk berkurban, merupakan cara yang kristiani. Yesus telah lebih dahulu melakukannya. Ketiga, di hari Orang Sakit Sedunia, kita dapat membantu proses pemulihan dengan memulihkan relasi penderita dengan Tuhan. Kita bisa ikut mendoakannya, seperti yang diminta Bunda Maria kepada Bernadetha.

Selamat bersukacita merayakan Ekaristi di Minggu Biasa keenam, bersama semua saudara. Dan, marilah turut serta melambungkan pujian dan permohonan,

“Engkaulah persembunyianku, ya Tuhan. Engkau melindungi aku sehingga aku selamat.”

(Mzm.32:7).

Shalom!