“Kita Semua Diutus”

“Kita Semua Diutus”

Hari Minggu Biasa XIV

“Kita Semua Diutus”

(Yes. 66:10-14c; Gal. 6:14-18; Luk. 10:1-12,17-20)

“Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahuluiNya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.” Begitu tertulis di awal perikop Injil suci menurut Santo Lukas untuk minggu ini. Minggu Biasa keempatbelas di tahun liturgi C. Jika kita sandingkan dengan pengutusan para Rasul, maka yang nyata berbeda adalah soal nama. Ketujupuluh murid itu tidak dituliskan nama mereka. Sedangkan kata ‘yang lain’ menunjukkan bahwa mereka bukan bagian dari para Rasul. Pertanyaannya, apakah ‘tujuhpuluh’ itu sebuah simbol? Kombinasi antara ‘kelipatan terbesar’ (10) dari ‘kelompok yang utuh’ (7)? Maksudnya, ‘semua orang, siapa saja yang menjadi murid Yesus’? Diutus berdua-dua? Ya, disamping bisa saling-mendukung, bukankah kesaksian dua orang lebih berbobot? Dan berduadua itu menjadi ‘model’ dalam Gereja Perdana. Seperti Barnabas dan Saulus (Kis. 13:2), Yudas dan Silas (Kis.15:27), Barnabas dan Markus (Kis. 15:39) dan pasangan lainnya. Mereka diutus ke setiap kota atau tempat yang akan dikunjungi sang Guru. Karena apa? Seperti kata Yesus, "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Ya, bukankah di masa panen dibutuhkan banyak pekerja? Bukankah sebelum mereka sudah begitu banyak yang diutus? yaitu para nabi? Para murid dilengkapi dengan berbagai ‘petunjuk’ seperti tidak membawa pundi-pundi, tidak memberi salam kepada siapa pun di perjalanan, dan lainnya. Dan, yang terutama, mereka dibekali dengan kuasa mengatasi binatang berbisa, dan untuk menahan kekuatan musuh. Apa yang menjadi tugas utama para utusan itu? Yakni, menyampaikan damai sejahtera kepada rumah yang mereka kunjungi, membawa shalom atau keselamatan dari Tuhan serta menyampaikan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Hasilnya? Para murid kembali dengan gembira dan ‘melaporkan’ kerja mereka kepada Yesus. Begitu pun, Yesus mengingatkan untuk tidak merasa puas, namun, “…bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga."

Dalam Bacaan pertama, dikisahkan bagaimana nabi Yesaya membesarkan hati kaum Israel yang dalam pembuangan. Sang Nabi, sebagai utusan Allah menyampaikan gambaran tentang Kerajaan Allah, yaitu ‘keibuan’ Allah yang memberikan keselamatan dan damai kepada anak-anak-Nya.

Inspirasi apa yang dapat kita petik dari Injil suci dan Bacaan untuk Minggu Biasa kali ini?

Pertama, setiap murid Yesus adalah utusan. Dengan kekhususan masing-masing. Misalnya, sepasang pria dan wanita yang membentuk rumah tangga adalah utusan. Bagaimana mereka ‘menjalani’ kehidupan akan menjadi isi pewartaan. Begitu juga yang menjadi guru, ibu rumah tangga atau menjadi pimpinan tim kecil di tempat kerja, dan lainnya.

Kedua, setiap utusan atau pewarta akan dikuatkan sejauh mereka tetap mengikuti ‘jalan’ yang  ditunjukkan Tuhan Yesus.

Ketiga, seturut yang disampaikan Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia, “… aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus.” Atau, seperti sabda Yesus kepada para murid, “…bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.", jika pewartaan memberikan hasil yang baik.

Selamat merayakan Ekaristi Hari Minggu Biasa yang keempat belas: “Bersorak-sorailah bagi Tuhan, hai seluruh bumi.”