“Lalu Bagaimanakah Kita Tetap Menjadi Baik ?”

“Lalu Bagaimanakah Kita Tetap Menjadi Baik ?”

Renungan Harian, Kamis 17 September 2020

“Lalu Bagaimanakah Kita Tetap Menjadi Baik ?”

1 Korintus 15:1-11; Mazmur 118:1-2, 16-18; Lukas 7 : 36-50

 

Para sahabat, menjadi baik adalah dambaan setiap orang, namun so pasti mayoritas kita bukan orang baik.  Kita bisa baik sesaat namun kemudian jatuh kedalam ketidakbaikan, sehingga kita kembali terperosok dalam lumpur noda kehidupan.

         Kadang solusi cepat kita cari untuk menjadi baik, misalnya dengan pencitraan diri untuk menjadi baik dalam penampilan kita. Namun ada peribahasa sepandai-pandainya tupai melompat, pada saatnya akan jatuh juga. Pencitraan hanya bersifat sesaat, untuk kemudian pupus dengan berjalannya waktu. 

Lalu bagaimanakah kita tetap menjadi baik ?

Rasul Paulus mengingatkan dalam surat pertamanya pada jemaat di-Korintus (15:1-11), bahwa pengalaman dirinya sendiri menjadi baik dan selalu baik adalah dengan menyadari dan mengingat  bahwa Kristus sudah mati karena dosa-dosa kita dan kebangkitan-Nya sebagai tanda dari kemenangan atas maut (dosa-dosa) sehingga setiap kita yang menerima Injil sebagai pilihan hidupnya sudah kembali menjadi baik dan diselamatkan. Setiap kita mengingat pengorbanan-Nya, seharusnya memperkuat tekad kita menjadi baik, dan berupaya menjadi baik.

Keinginan menjadi baik yang benar bisa kita simpulkan dari perilaku seorang perempuan yang sudah terkenal sebagai perempuan berdosa (Lukas 7:36-50), ia memperlakukan Yesus begitu istimewa dan menempatkan dirinya lebih rendah dari seorang hamba (menyeka kaki Yesus dengan rambutnya) dan memberikan yang terbaik (minyak wangi). Semua menggambarkan kebesaran imannya pada Yesus didalam kedosaannya, sehingga Yesus mengampuni dosanya yang dianggap begitu besar.

Dalam cara pandang lain kita bisa melihat bahwa Yesus begitu peka, Ia menjadi saudara dalam penderitaan, tindakan mana yang juga ditekankan dalam BKS 2020 kali ini.

Perikop-perikop Kitab suci hari ini membawa kita pada paradigma sebesar apapun kesalahan/dosa kita, dan sehina apapun kita bagi orang yang menganggap dirinya baik,  bagi Yesus kita adalah target utama untuk menerima kasihnya. Kiranya kita harus berterima kasih dan  memuji Tuhan sebagaimana diungkapkan oleh Pemazmur;

 “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

Mazmur 118:1

Kiranya kita semua akan menjadi baik dengan menyadari bahwa kita sudah menjadi baik karena pengorbanan Yesus, semangat menjadi baik seburuk apapun kita, Amin

@dlafevermore