Lewat ‘Doa Rosario Laudato Si’ Umat Katolik Indonesia Diajak Dalami Pesan Ensklik Laudato Si'

Lewat ‘Doa Rosario Laudato Si’ Umat Katolik Indonesia Diajak Dalami Pesan Ensklik Laudato Si'

Lewat ‘Doa Rosario Laudato Si’ Umat Katolik Indonesia Diajak Dalami Pesan Ensklik Laudato Si'

Selama Bulan Mei tahun ini, yang adalah bulan devosi khusus kepada Bunda Maria, umat Katolik Indonesia diajak merenungkan pesan-pesan dari ensklik Laudato Si.

Kini, buku kecil “Doa Rosario Laudato Si” yang berisi pokok-pokok renungan peristiwa dalam Doa Rosario dengan menimbah inspirasi dari ensiklik perihal lingkungan hidup itu sudah disebarkan dalam bentuk e-book. (Silahkan unduh di sini)

Dalam kata pengantar yang disusun Romo Andang Binawan SJ, ia menjelaskan, ‘bahan baku’ renungan dalam buku ini disiapkan dirinya dan tiga imam lain. Mereka adalah Romo Martin Harun, OFM, profesor emeritus di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara yang pertama kali menerjemahkan ensiklik Laudato Si ke dalam Bahasa Indonesia; Romo Ferry Sutrisna Wijaya, Pr, imam yang mengelola eco-camp di Bandung dan Romo Peter Kurniawan Subagyo, OMI.

Ia menjelaskan, langkah menyiapkan teks renungan ini menyambut ajakan Paus Fransiskus pada awal Maret 2020, di mana ia meminta umat Katolik menyediakan waktu tanggal 16-24 Mei 2020 sebagai Pekan Laudato Si, bertepatan dengan peringatan lima tahun Laudato Si yang dikeluarkan pada tanggal 24 Mei 2015.

“Beliau mengajak kita untuk sungguh membangun kesadaran, bertobat dan bertindak memelihara bumi seisinya, dan mewariskan bumi yang baik kepada anak cucu kita,” tulis Romo Andang, imam yang dikenal sebagai pemerhati lingkungan.

Ia menjelaskan,ensiklik itu memang sudah muncul 2015, “tetapi ternyata belum banyak yang sungguh memahaminya,apalagi melaksanakannya.”

Ia menambahkan, permasalahan lingkungan hidup menjadi makin berat dan “bukan tidak mungkin, rusaknya bumi ikut berpengaruh terhadap merebaknya pandemi corona yang sedang kita hadapi.”

Romo Andang juga menyinggung bagaimana Paus Fransiskus mengaitkan pandemi ini sebagai “respons atau ‘tanggapan’ bumi atas ulah manusia yang selama ini kurang peduli.”

“Dalam ensiklik Laudato Si, seperti juga ditekankan Bapak Ignatius Kardinal Suharyo dalam homili misa Paskah pontifikal Minggu 12 April 2020 lalu, kita perlu melakukan pertobatan ekologis,” kata Romo Andang.

Ia menjelaskan, dalam teks Doa Rosario Laudato Si ini, mereka mengaitkan pokok-pokok renungan setiap peristiwa dalam doa Rosario dengan beberapa isi penting dalam ensiklik Laudato Si.

“Upaya ini didasari pengandaian bahwa ensiklik Laudato Si adalah bimbingan iman dan spiritualitas Kristen (Katolik) tentang bumi dengan segala macam permasalahannya ini, yang tentu erat kaitannya dengan kisah keselamatan dalam Injil,” tulisnya.

Mengingat ensiklik ini terdiri dari 6 bab (36 sub-bab, 246 paragaraf), dengan isi yang sangat kaya dan mendalam, “sehingga tidak mungkin semua dimasukkan dalam renungan peristiwa-peristiwa Doa Rosario.”

“Tentu, baik diketahui bahwa Doa Rosario ini adalah Doa Rosario biasa, meski isi renungannya dikaitkan dengan pokok-pokok gagasan yang ada dalam ensiklik Laudato Si,” katanya, sambil menambahkan catatan bahwa pokok-pokok renungan dibacakan setelah Doa Bapa Kami di awal setiap peristiwa.

Dalam sejumlah renungan, sebagaimana yang disimak Katoliknews.comumat diajak untuk mensyukuri lingkungan yang adalah baik adanya, namun juga mengajak untuk peduli pada persoalan-persoalan lingkungan saat ini.

Pada renungan untuk Peristiwa Cahaya Ketiga, “Yesus Memberitakan Kerajaan Allah dan Menyerukan Pertobatan” misalnya umat diajak melihat berbagai masalah lingkungan seperti polusi udara dan air, sampah yang bertebaran, hutan-hutan yang digunduli dan bumi yang dikeruk habis-habisan.

“Sudahkah kita melakukan upaya pelestarian alam tidak hanya sebatas semboyan tetapi berwujud nyata seperti dalam gerakan menanam pohon, mengurangi sampah plastik?” demikian isi renungannya.

Bagian akhir disertai ajakan “Mari kita mengikuti seruan Yesus untuk bertobat dari dosa-dosa ekologis yang selama ini kita lakukan.”

Sementara pada Peristiwa Sedih Kedua, “Yesus Didera,” umat diingatkan tentang berbagai gaya hidup yang menyakiti bumi dan segala isinya, antara budaya gampang membuang.

“Sangat sering kita menggunakan piring, gelas, sendok, garpu, dan sedotan plastik sekali pakai yang langsung dibuang menjadi sampah. Kita membuang banyak makanan padahal membuang makanan sama saja dengan mencurinya dari orang miskin dan kelaparan,” demikian isi renungan pada peristiwa ini.

“.Tidak hanya barang. Tak jarang, kita pun suka ‘membuang’ atau mengucilkan orang yang tidak kita sukai karena perbedaan suku, agama, pilihan politik, dan perbedaan lainnya.”

Renungan ini diakhiri ajakan untuk “bertobat dengan mengusahakan persaudaraan sejati dengan semua orang, dengan berusaha menghabiskan makanan yang kita ambil dan mau berbagi makanan dengan mereka yang miskin dan kelaparan.”

“Mari kita juga berusaha mengurangi pemakaian barang sekali pakai yang biasanya langsung dibuang, seperti kantong plastik dan kemasan-kemasan makanan-minuman,” demikian ajakan penutup.

Doa Rosario Laudato Si ini disarankan dilakukan sepanjang bulan Mei. Umat juga bisa mengikuti Doa Rosario bersama para uskup yang secara bergiliran akan memimpin Doa Rosario setiap hari dan disiarkan langsung pada pukul 20.00 WIB lewat Channel Youtube Hidup TV (youtube.com/HidupTv/live) atau Channel Youtube masing-masing keuskupan/paroki/komunitas.

Sumber : katoliknews.com