"Melayani Dengan Kekayaan Sendiri"

"Melayani Dengan Kekayaan Sendiri"

Renungan Harian, 18 September 2020

“Melayani Dengan Kekayaan Sendiri”

1 Korintus 15:12-30; Mazmur 17:1-7; Lukas 8:1-3

Sahabat terkasih, banyak ahli kitab suci berpendapat bahwa Injil Lukas dan Kisah Para Rasul ditulis oleh penulis yang sama. Keduanya merupakan kisah mengenai apa dan bagaimana Injil disebarkan pada seluruh bangsa oleh para Rasul dan murid-murid Tuhan. Oleh karena merekalah kita bisa diselamatkan dan dapat menerima Injil sebagai ajaran keselamatan kita.

Salah satu iman penting berkaitan dengan Injil adalah bahwa Yesus telah dibangkitkan dan naik ke-Sorga serta duduk disebelah kanan Allah Bapa, untuk kemudian pada saat-Nya akan datang untuk menjemput orang percaya tinggal bersama-Nya dalam kerajaan Sorga. Namun pada masa Rasul Paulus pemahaman kebangkitan badan merupakan suatu kemustahilan, bagai orang-orang dengan paradigma berpikir Yunani, tidak mungkin ada kebangkitan. Oleh karena itu surat Rasul Paulus yang pertama pada Jemaat di-Korintus menegaskan mengenai hal tersebut. Paulus menegaskan Bahwa semua upayanya termasuk jerih payah membiayai misinya dengan menjadi tukang tenda, termasuk upaya jemaatnya adalah sia-sia jika tidak ada kebangkitan badan.

Melayani tanpa pamrih sebagaimana diungkapkan Paulus merupakan suatu tantangan,  apalagi dalam pemikiran manusia seperti kita  bahwa bekerja harus menerima imbalan. Paulus sendiri bekerja untuk Tuhan dan berupaya membiayai pelayanannya dengan menjadi tukang tenda (ahli tenda, pada waktu itu khususnya tenda merupakan tempat tinggal yang paling muda dibangun).  Demikian juga dengan uraian Injil hari ini dimana kaum wanita tanpa pamrih bekerja dibelakang layar, untuk mendukung Yesus beserta dengan murid-murid-Nya, dengan menggunakan harta pribadi yang mereka miliki (Lukas 8:3).

Dengan uraian diatas, kita ditantang untuk memahami  bahwa saat nanti saat kita mati kita akan dibangkitkan sebagai mana Yesus di-bangkitkan sebagai yang sulung diantara kita. Selain itu tindakan Paulus dan wanita-wanita yang mendukung Yesus, serta semua murid-murid Yesus, merupakan upaya “menjadi Saudara Dalam Penderitaan”,  sebagaimana dicanangkan dalam pertemuan BKSN 2020. Kiranya kita bisa belajar dari apa yang telah dicontohkan dari mereka, sehingga kita bisa mengamalkan Firman Tuhan dalam realitas kehidupan Kita, Amin.

@.dlafevermore.