“Memberikan Kesaksian”

“Memberikan Kesaksian”

Hari Minggu Adven III

“Memberikan Kesaksian”

Yes.61:1-2a;10-11; 1Tes.5:16-24; Yoh.1:6-8,19-28

Yohanes menjawab mereka, katanya:

”Aku membaptis kamu dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian daripadaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” (Yoh. 1:26-27).

Begitu jawaban sang Nabi, ketika didesak beberapa imam dan orang-orang Lewi, yang diutus pimpinan Yahudi, dari Yerusalem. Itu terjadi setelah para utusan itu mencoba mencari tahu ‘siapakah Yohanes pembaptis’. Mereka sudah tiga kali bertanya, dan jawaban dari sang Nabi selalu ”bukan”. Karena belum mendapatkan jawaban, sementara mereka harus memberikan ‘kabar’ kepada yang mengutus, maka mereka mendesak sang Nabi. Padahal sudah diberi jawaban bahwa dia adalah “suara orang yang berseru-seru di padang gurun: ……………”; jawaban dengan mengutip Nabi Yesaya (40:3). Dari jawaban di atas, sekaligus sang Nabi mengenalkan dan memberi kesaksian tentang Sang Mesias. Dan, sang Nabi melakukannya dengan penuh kerendahan hati. Kerendahan hati ini diperkuat lagi dengan ucapan, “Ia harus semakin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yoh.3:30).

Hari itu, adalah hari pertama dari kesaksian Yohanes pembaptis. Selama tiga hari, sang Nabi memberi kesaksian. Kesaksian hari pertama inilah yang menjadi Bacaan Injil pada Minggu ketiga Adven, yang disebut juga Minggu Gaudete, minggu sukacita. Sukacita, karena masa penantian untuk merayakan kedatangan-Nya pertama kali ke dunia (Natal),akan segera berakhir.

Dalam Bacaan pertama, dikisahkan tentang panggilan seorang nabi. Nabi Yesaya, yang disebut Trito-Yesaya. Walau tidak jelas sosoknya, namun dengan lantang berkata, “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku;………(Yoh. 61:1). Sang Nabi memberitakan Kabar Gembira kepada umat Israel. Sang Nabi meneruskan tugas kenabian dari pendahulunya. Mengapa dia harus mengeluarkan pernyataan (Roh Tuhan ada padaku) itu? Karena, sepanjang sejarah, kita tahu, bahwa banyak orang yang menentang para nabi. Terutama mereka yang mempunyai kedudukan yang terhormat di masyarakat. Entah itu pejabat negara, juga petinggi agama. Dan, tugas membawa Kabar Baik, lebih sering diartikan sebagai kritikan, jeweran, kepada para pejabat itu. Untuk itu, sang Nabi perlu menjelaskan kepada umat yang digembalakannya. 

+++

Apa yang dapat kita pahami, dan bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari? Kita, selaku umat paroki Jatiwaringin, juga diharapkan berperan seperti nabi. Sifat yang melekat pada tugas kenabian, antara lain: mesti membawa kabar baik; bukan malah menimbulkan keresahan, apalagi kesedihan. Untuk itu, bisalah kita tiru, misalnya, kurangi sebanyak mungkin membagikan atau meneruskan berita-berita yang membuat sesama menjadi tidak tenang. Apalagi jika berita itu hanya menimbulkan gosip atau kegaduhan. Buah lainnya?: memberitakan Kasih-Nya dengan cara (sikap) rendah hati. Kenapa? Ketika seseorang menjadi pembawa berita, bisa jadi tergoda untuk menjadi terlalu percaya diri. Sehingga, bisa tergelincir untuk tidak mau mendengarkan orang lain, apalagi umat yang biasa-biasa saja. Ujungnya?, ada risiko menjadi pembawa berita diri-sendiri. Bukan lagi mewartakan Sabda Tuhan. Lainnya lagi? Ketika seseorang atau kita, diutus untuk melaksanakan suatu tugas, maka selayaknya kita menuntaskan tugas itu, sesuai dengan yang diperintahkan. Pada titik ini, kita bisa belajar dari para imam dan orang Lewi yang diutus pimpinan di Yerusalem untuk mendapatkan kepastian tentang nabi Yohanes.

Akhirnya, Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus,Tuhan kita.”(1Tes. 5:23).

Shalom.