“Mempraktekkan Kasih Dalam Kehidupan”

“Mempraktekkan Kasih Dalam Kehidupan”

Hari Minggu Biasa XXIII

“Mempraktekkan Kasih Dalam Kehidupan”

Yeh.33:7-9; Rm.13:8-10; Mat. 18:15-20

 

Nabi Yehezkiel bin Busi, demikian tertulis di Kitabnya, adalah salah seorang yang diangkut ke Babilonia, setelah raja Nebukadnezar menaklukkan kerajaan Yehuda. Waktu itu Yoyakhin yang menjadi raja. Menurut catatan sejarah, kejadian itu terjadi pada 598 SM. Menurut perkiraan, saat diangkut sebagai salah seorang tawanan, Yehezkiel berusia sekitar 25 tahun. Masih muda. Lima tahun setelah sampai di Babilonia, di pinggir sungai Kebar, Yehezkiel mendapat panggilan Allah. Jadi, ketika itu, berusia 30 tahun. Dipanggil untuk menjadi nabi, khususnya bagi bangsanya, yang dalam pembuangan. Tugasnya?: sebagai penjaga, mengingatkan bangsanya bahwa walau saat itu dalam penderitaan (pembuangan), karena dosa, namun mereka tetap diingatkan, bahwa suatu saat, Yahweh akan bertindak. Mereka bisa kembali ke Yerusalem. Bahkan dapat membangun kembali Bait Suci, tempat memuliakan Yahweh.Demikian dikisahkan dalam Bacaan pertama. Mudahkah tugas itu? Rasanya, kita semua tahu, jawabannya.             

 +++++++

Bacaan Injil untuk Minggu Biasa ke-23 ini, diambil dari Injil Kristus menurut Matius.Perikop ini bagian dari beberapa nasihat Yesus kepada para murid. Bagian dari mempersiapkan para murid, jika suatu saat Dia tidak bersama mereka lagi. Pengajaran itu dimulai dengan: Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali…”(ay.15), yang disusul dengan langkah-langkah berikutnya. Dilakukan secara bertahap! Pertama, dilakukan secara pribadi, satu orang dengan satu orang. Jika belum berhasil, dibutuhkan bantuan satu hingga dua orang. Belum juga berhasil, maka serahkanlah perkaranya kepada jemaat. Risiko terakhir adalah, saudara itu akan dipandang sebagai pemungut cukai atau seseorang yang tidak mengenal Allah. Artinya, terlempar dari komunitas.

Apa yang bisa kita ambil sebagai inspirasi bagi kehidupan kita saat  ini? Dari Injil dan yang juga dari Bacaan pertama, yang senada, kita, selaku pengikut (murid) Kristus diharapkan menjadi penjaga (bagi saudara). Dalam arti, jika saudara kita berbuat salah (berdosa), kita selayaknya menegor. Namun, ada caranya. Dimulai secara pribadi, dan seterusnya. Hanya kita diingatkan bahwa jika pada tahap kedua belum berhasil juga, maka layaklah perkaranya dibawa kepada jemaat. Lagi, kita diingatkan, bahwa yang dibawa perkaranya, bukan pribadi (orang) nya. Apa yang sejatinya mau diajarkan oleh Yesus? Menurut para ahli, bukan sekedar menyelesaikan sebuah perkara, yaitu jika ada yang berdosa. Namun, lebih dari itu, adalah, agar terbentuk komunitas yang utuh, saling-mendengarkan, saling-mengasihi. Seseorang bersedia mendengarkan saudaranya tentulah karena adanya persaudaraan yang baik, saling-menghargai, saling-mempercayai, bukan? Jika permasalahan dibicarakan dan dicarikan jalan keluarnya bersama, saling-menghargai, maka permintaan mereka (jalan-keluar permasalahan) akan dikabulkan Bapa di sorga, karena Yesus akan hadir ditengah-tengah kita (ay.19 & 20).

Semoga, saat pandemi virus corona 19 yang masih melingkupi, kita bisa “Menjadi Saudara Yang Adil Di Masa Pandemi” dengan mempraktekkan ajaran Sang Guru Mulia.

Dan kita pun bisa belajar dari nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma,

“Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.” (Rm.13:10)

Shalom.