“Memuliakan Allah dan Mengucap Syukur”

“MEMULIAKAN ALLAH DAN MENGUCAP SYUKUR”

Mereka tinggal berdiri agak jauh, dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" Mereka adalah sepuluh penderita kusta, yang tinggal di sebuah desa. Di sebuah desa, di perbatasan antara Samaria dan Galilea: Samaria yang tidak dianggap oleh orang Galiela (Yahudi). Ya, orang penderita kusta, dijaman itu, adalah orang najis, orang-orang yang berdosa. Tidak boleh dekat orang-orang sehat, sehingga mereka harus berteriak kepada sang Guru. Mereka minta disembuhkan? Di Alkitab tertulis, mereka minta dikasihani!

Dan apa yang menjadi jawaban Sang Guru? “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Mengapa Yesus berkata demikian? Jika kita membaca ayat tersebut di Alkitab, maka di bagian bawah ada tertulis: 17:14: Im.14:1-32. Maksudnya,mengenai aturan tentang tahir atau tidak tahir, diatur di Kitab Imamat secara rinci. Dengan demikian, Yesus mengajarkan kepada mereka untuk menghormati hukum agama(Yahudi). Dan apa yang terjadi selanjutnya? Tertulis: Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir(alias sembuh dari penyakit kusta). Lebih lanjut lagi, kita diceritakan bahwa hanya satu orang yang ‘kembali sambil memuliakan Allah dengan nyaring,lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya.’ Dan ia, seorang Samaria, yang tidak dianggap oleh orang Yahudi. Bagaimana dengan yang sembilan lainnya? Bisa jadi agak panjang renungan ini. Oleh karena itu, biarlah diceritakan pada lain kesempatan.

Inspirasi apa yang dapat kita pahami dan yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari? Pada era kita sekarang ini, penyakit kusta sudah ada jalan keluar-nya: diagnosis sudah bisa ditegakkan sejak ditemukannya bakteri penyebab, yang dikenal sebagai mikobakterium leprae. Obatnya pun sudah tersedia. Pertanyaannya, bagaimana dengan gejala atau sakit kusta di jaman serba canggih ini? Yaitu, ketika manusia, dengan pengetahuan dan teknologi canggih yang mendukung, merasa bisa mengatasi segala perkara? Mereka yang mempunyai materi lebih dari berkecukupan, kedudukan yang memberi rasa mapan, posisi yang disertai wewenang sedemikian rupa, sehingga merasa bisa mengatasi segala sesuatu?, tanpa membutuhkan bantuan orang lain??

Pada Bacaan pertama, kita dikisahkan tentang Naaman, panglima kerajaan Aram yang terkena kusta. Dan,merasa disepelekan oleh nabi Elisa, ketika diminta untuk membenamkan diri sebanyak tujuh kali di sungai Yordan? Jangankan mau berbincang, keluar saja nabi Elisa tidak. Bahkan, sang panglima mengatakan bahwa sungai-sungai di Damsyik lebih daripada sungai Yordan! Begitulah manusia jika mempunyai sesuatu yang melebihi orang lain! Karena bujukan para pegawainya, dan demi kesembuhan, akhirnya, maulah Naaman melakukannya. Dan, dia sembuh, tahir! 

Kita tahu bahkan menyadari bahwa dalam mengatasi sebuah penyakit, lebih baik mencegah (preventif) daripada mengobati(kuratif). Baik ditinjau dari sudut biaya, waktu dan tenaga yang dibutuhkan. Oleh karena itu, sangat layak juga, jika kita mencegah kusta jaman moderen,yaitu, dengan melakukan apa yang diperbuat orang Samaria itu: “memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya.”

Dan, semoga akan terdengar sabda-Nya, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”