“Mendengarkan dan Mengikuti Sabda-Nya”

“Mendengarkan dan Mengikuti Sabda-Nya”

Hari Minggu Biasa IV

“Mendengarkan dan Mengikuti Sabda-Nya”

Ul.18:15-20; 1Kor.7:12-35; Mrk.1:21-28

Kapernaum, sebuah kampung kecil, di sebelah Barat Laut danau Galilea. Menurut cerita, di sinilah kampung Simon Petrus dan juga perwira Roma, yang anak buahnya disembuhkan oleh Rasul Petrus. Kota yang mempunyai arti beberapa, yang salah satunya adalah memerintah. Di sinilah basis pewartaan Yesus untuk bagian Utara Israel. Yesus membuat beberapa mukjizat, tapi, tetap saja penduduknya belum memahami siapa Dia sesungguhnya. Seperti kisah di sebuah sinagoga, Yesus pertama kali melakukan mukjizat, ketika sedang ditentang oleh roh jahat. Inilah cerita yang menjadi perikop Injil untuk Minggu Biasa keempat di 2021. Ketika sedang mengajar, ada seseorang yang berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.”

Tetapi Yesus menghardiknya, katanya: “Diam, keluarlah daripadanya!” Kita tahu bagaimana cerita selanjutnya. Mari kita coba cermati dialog singkat di atas: si roh jahat mencoba menolak Yesus, pada awalnya. Kemudian, disusul oleh ungkapan kekuatiran(hendak dibinasakan)dan terakhir, mencoba menggoda Yesus dengan perkataannya, Yang Kudus dari Allah. Herankah kita bahwa roh jahat dapat mengenali Yesus? Semoga, tidak. Karena di awal bab satu ini, Markus telah menceritakan bahwa Yesus baru kembali dari padang gurun, di mana Dia digoda oleh Iblis, dan baru saja memanggil murid-murid, sebelum memulai perutusan-Nya. Kali ini di Kapernaum. Dengan satu hardikan, larilah roh jahat, dan peristiwa ini membuat yang hadir terheran. Dan mereka berkata, “Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa…” Berita tentang ini pun segera tersebar di seluruh Galilea.

+++

Bangsa Israel yang sedang menuju tanah yang dijanjikan, diingatkan untuk hidup tidak bercela di hadapan Tuhan, Allah (bdk.Kej.18:13). Hal ini ditulis di depan Bacaan pertama untuk minggu ini, yang mengisahkan: Allah akan membangkitkan seorang nabi dari tengah-tengah bangsa pilihan-Nya.  Seorang nabi, yang akan mengatakan segala yang diperintahkan Allah, karena,“Aku akan menaruh firman-Ku ke dalam mulutnya…”(bdk. Kej. 18:18). Dan, menurut seorang ekseget, inilah yang membuat umat di sinagoga terheran-heran, karena mereka belum memahami bahwa Yesus adalah firman Allah.

+++

Inspirasi apa yang dapat kita petik untuk diamalkan dalam kehidupan? Menurut Santo Markus, ajaran pokok Yesus tercakup dalam: kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”(Mrk.1:15). Injil Markus mengajak kita mendekat kepada pribadi Yesus, dan bukan hanya kepada pengajaran-Nya. Keterpukauan atau keterheranan akan tindakan-Nya, bisa saja menjadi jalan-masuk untuk lebih mendekati-Nya. Bisa dalam bentuk doa, membaca Sabda-Nya, dan lebih lagi berkaca dalam sikap dan tindakan-Nya. Misalnya, sanjungan ‘Yang Kudus dari Allah’, yang dalam diri-Nya adalah fakta; seandainya, sanjungan itu dikenai pada kita, lebih lagi jika mempunyai kedudukan terhormat, bisa membuat orang lupa diri. Sehingga dia lebih memberitakan dirinya daripada mewartakan Sang Juru Selamat, Tuhan Yesus.

Semoga, kita umat paroki Jatiwaringin, gereja St. Leo Agung, semakin mencintai Sang Guru mulia.

Shalom.