“Mengembangkan Talenta”

“Mengembangkan Talenta”

HARI MIGGU BIASA XXXIII

“Mengembangkan Talenta”

Ams.31:10-13,19-20,30-31; 1Tes.5:1-6; Mat.25:14-30

Dua pekan ke dapan, kita akan memasuki tahun liturgi yang baru. Akan berakhir pula Minggu Biasa di 2020, yang berjumlah tiga puluh empat. Seolah, tanpa terasa, peziarahan kita, di bumi ini. Semoga, mendapat perkenan dari Tuhan Yesus, Sang Penebus.

Untuk Minggu Biasa ketigapuluh tiga ini, Injil Kristus menurut St. Matius berkisah tentang pengajaran Yesus. Pengajaran dengan sebuah perumpamaan, yang adalah bagian dari ‘Khotbah tentang Akhir Zaman’,mengenai Kerajaan Sorga. Demikan tertulis.

Terkisah, seorang Tuan, yang akan berpergian ke luar negeri, untuk waktu yang lama. Maka, dipanggillah tiga orang hamba yang dipercayainya. Mereka diberi talenta, menurut kesanggupan masing-masing: lima, dua dan satu. Rincian cerita selanjutnya, tentulah sudah dikenal umat dengan baik.

Jika kita coba dalami kisah perumpamaan ini, dapatlah kita amati hal-hal berikut: bagian terbesar perikop itu, sepuluh dari total tujuh belas ayat, bercerita tentang sang tuan daripada penerima talenta. Yaitu, kata-kata dan Tindakan sang tuan. Hanya tujuh ayat untuk ketiganya. Lainnya, jika kita cermati, cerita tentang si penerima satu talenta, lebih banyak daripada dua lainnya. Lima ayat untuk dia, dan empat ayat untuk dua lainnya. Apa yang dapat ditangkap dari dua fakta ini? Tuan yang akan berpergian, adalah tuan yang baik. Dia mengenal setiap hambanya, termasuk mengenal kemampuan masing-masing. Dan dia mempercayai mereka, sesuatu yang tidak mudah, terutama jika seseorang mempunyai banyak harta. Dan, dengan mempercayakan talenta, maka sang tuan memberi kesempatan yang luas bagi setiap penerima untuk mengembangkan apa yang mereka terima. Lagi-lagi, bukti bahwa sang tuan berbelas kasih. Bagaimana dengan ketiga penerima? Ketika sang tuan kembali, mereka melaporkan hasil dari kepercayaan yang diberikan. Penerima lima dan dua talenta dipuji oleh tuan mereka: baik dan setia dalam perkara kecil. Lebih lagi, mereka diajak masuk dan turut dalam kebahagiaan tuan mereka. Dan akan diberi kepercayaan yang lebih besar. Bagaimana dengan yang ketiga? Bukannya melaporkan hasilnya, malah mencerca tuannya sebagai seorang yang kejam yang menuai di tempat di mana tuannya tidak menabur. Kita tahu apa yang menjadi reaksi sang tuan.

Apa yang dapat kita petik dari kisah ini? Penerima lima dan dua talenta adalah pengikut Kristus yang sudah di jalan yang benar. Syukur, jika banyak umat di paroki kita seperti mereka. Namun, ada apa dengan penerima satu talenta? Mengapa sampai mengucapkan kata-kata yang keras? Dalam hal ini, perumpamaan mengajak kita untuk berani memikirkan kembali ‘anggapan mengenai siapa itu Tuhan’, dan bagaimana mendapat perkenan-Nya. Kita tahu, saat itu, di kalangan umat, Tuhan dialami sebagai yang menuntut dan akan murka dan menghukum bila umat-Nya tidak menuruti hukum-hukum-Nya. Begitulah teologi yang diajarkan. Dan, dengan pengajaran-Nya, Yesus memperbaharui teologi itu. Allah adalah pemurah, Allah adalah kasih.

Dan, kita semua, selaku murid-murid-Nya, punya misi untuk mewartakan kebaikan-Nya, kepada setiap orang yang termasuk ‘penerima satu talenta’. Adakah sesama di sekitar kita, yang karena satu dan lain pengalaman pahit, menjadi begitu keras? Bisa di keluarga, di lingkungan tempat kerja dan tinggal, dan lainnya? Bersediakah kita membantu mengembangkan talenta-nya, sesuatu yang sangat besar itu, sehingga dia menerima penghargaan karena setia dalam perkara kecil? Sehingga, suatu ketika saat Anak Manusia datang kembali, di akhir zaman, kita semua bisa serupa tuan yang baik itu?

Dan semoga, kita juga bisa bekerja dalam-diam, seperti ‘isteri yang cakap’ pada Bacaan pertama.