“Menghasilkan Anggur Yang Manis”

“Menghasilkan Anggur Yang Manis”

Hari Minggu Biasa XXVII

“Menghasilkan Anggur Yang Manis”

Yes.5:1-7; Flp.4:6-9; Mat.21:33-43

Dalam Injil Kristus menurut Santo Matius bab 21, dikisahkan tentang perjalanan Yesus ke, dan aktivitas di Yerusalem. Perikop tentang penggarap kebun anggur menjadi bahan bacaan dan renungan untuk Minggu ini, minggu biasa ke-27. Yesus mengajak para murid ke Yerusalem, setelah memberitahukan tentang penderitaan-Nya, untuk ketiga kali (Mat.20:17-19). Yerusalem, tempat yang layak bagi penuntasan pengutusan-Nya: disesah, diolok-olok, disalibkan, dan bangkit pada hari ketiga. Sesampai di Yerusalem, Yesus dan rombongan-Nya pergi ke Bait Allah, menyucikannya dan mulai mengajar. Maka datanglah para imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Israel untuk mempertanyakan dengan kuasa manakah Yesus melakukan hal-hal itu? Yaitu, kuasa untuk menyucikan Bait Allah dan mengajar. Yesus menanggapinya dengan menceritakan dua perumpamaan. Untuk minggu ini, perumpamaan tentang para penggarap kebun anggur, setelah mengisahkan tentang dua orang anak (ay.28-32), yang jadi bacaan Injil untuk minggu lalu. Dalam perumpamaan para penggarap kebun anggur, diceritakan mengenai seorang tuan tanah yang membuka kebun anggur, lengkap dengan pagar dan tempat pemerasan. Termasuk juga, menara jaganya. Setelah itu, ia menyewakan kepada penggarap-penggarap, dan berangkat ke negeri lain.

+++++++

Permasalahan timbul ketika musim petik hampir tiba. Ia menyuruh hambanya untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Namun, apa yang terjadi? suruhan itu dipukuli dan dibunuh. Maka disuruhlah hamba-hamba yang lain. Hasilnya? sama seperti yang pertama. Maka, sang tuan meminta anaknya yang pergi ke kebun anggur itu, dengan harapan para penggarap menjadi segan. Yang terjadi? malah sang anak dibunuh, karena mereka pikir, jika bisa membunuh sang anak pewaris kebun anggur, maka mereka bisa memiliki kebun itu. Setelah bercerita, Yesus bertanya kepada para imam kepala dan tua-tua itu, apakah yang selayaknya dilakukan oleh tuan pemilik kebun anggur? akhirnya, mereka merasa bahwa merekalah yang dimaksudkan dalam kedua perumpamaan. Semakin kuatlah niat mereka untuk membunuh Yesus.

+++++++

Mengenai kebun anggur, juga dikisahkan dalam Bacaan pertama. Sebuah perumpamaan dalam bentuk nyanyian. Nabi Yesaya mengeluhkan hasil kebun anggur yang asam, yang dihasilkan oleh Israel. Padahal sang pemilik, Allah, telah memilihkan lahan yang baik, terletak di lereng bukit yang subur, telah dicangkul dan dibersihkan sebelum ditanami, mendirikan segala keperluan, agar tumbuh anggur yang baik, yang manis. Hasilnya?, ya, anggur yang asam!, yang mengecewakan. Kisah dalam kitab nabi Yesaya inilah yang dijadikan referensi oleh Santo Matius.

+++++++

Apa yang selayaknya kita petik dari bacaan-bacaan untuk minggu ini? khususnya di masa pandemi ini? sangat mungkin adalah: semakin tekun dan teguh dalam doa, memuji dan memuliakan Allah sebagai Pemilik segalanya!, jauh dari rasa kuatir; seperti yang disampaikan Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah, dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”(Flp. 4:6).

Semoga, kita, selaku penggarap, menghasilkan buah anggur yang manis dalam kehidupan sehari-hari. Dan, mari kita berdoa bersama Bunda Maria, sebanyak mungkin, di bulan Rosario ini.

Shalom.