“Mengikuti Yesus”

“Mengikuti Yesus”

Renungan Harian, 30 September 2020

Peringatan Wajib St. Hieronimus

“Mengikuti Yesus”

Ayb. 9:1-12,14-16; Mzm. 88:10bc-11, 12-13,14-15; Luk. 9:57-62.

“Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk. 9:62). Demikian kata Yesus kepada seseorang yang ingin mengikuti-Nya. Mengikuti, seperti yang diuraikan oleh Bapak Uskup Kardinal Suharyo, berarti “berjalan di belakang”. Yesus menanggapi yang mau mengikuti-Nya, tetapi minta dispensasi dulu. Ada yang diberitahu bahwa “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Ada pula yang meminta ijin untuk menguburkan bapanya. Dan, ada pula yang minta pamitan dahulu kepada keluarganya. Jawaban Yesus jelas dan tegas. Terlebih dalam masyarakat yang ikatan kekeluargaannya sangat kuat, yang sangat bisa jadi menghalangi seseorang menjadi murid. Bukankah Yesus telah memperlihatkan contohnya?, ketika ada orang yang memberitahu bahwa Ibu dan saudara-saudara-Nya ingin menemui-Nya? (bdk. Luk. 8:19-21). Mengikuti Yesus, ‘berjalan di belakang-Nya’ harus dengan komitmen teguh.

Hari ini, kita umat katolik, merayakan perayaan wajib Santo Hieronimus, seorang Imam, yang oleh Gereja diberi gelar Pujangga Gereja. Gelar Pujangga Gereja atau yang juga dikenal sebagai Doktor Gereja diberikan kepada seseorang yang diakui telah memberikan kontribusi penting, terutama terkait dengan doktrin dan teologi dalam Kekristenan. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi seseorang, agar dapat digelari Pujangga Gereja, yaitu : kekudusan, kedalaman pemahaman ajaran, dan cakupan inti tulisan atau karyanya sebagai ungkapan Tradisi Katolik yang asli dan hidup. Dan yang mempunyai wewenang untuk memberikan gelar ini adalah Paus atau Konsili Eukumenis. Pemberian pertama dilakukan oleh Paus Bonifasius VIII, yang juga mempopulerkan Tahun Yubileum, pada 20 September 1295, saat Bapa Suci menganugerahi Santo Ambrosius, Santo Gregorius Agung, Santo Hieronimus dan Santo Agustinus sebagai Pujangga Gereja. Apa yang ‘unik’ dari Santo Hieronimus yang kita rayakan pada setiap tanggal 30 September? Bernama lengkap Eusebius Hieronimus Sophronius, biasa disebut St. Hieronimus atau Saint Jerome dalam Bahasa Inggris, lahir di Stridon, Dalmatia pada tahun 342. Jika kita coba telusuri, maka Stridonvdi Dalmatia itu, sekarang merupakan bagian dari negara Kroasia. Pada saat berusia 12 tahun, oleh orang tuanya, Eusebius, yang terkenal saleh dan kaya,  Hieronimus dikirim ke Roma untuk belajar filsafat dan hukum, yang kehidupan rohaninya terganggu saat tinggal di sana. Singkat cerita, berkat kemajuan rohaninya yang pesat, pada tahun 379, ketika berusia 37 tahun, Hieronimus ditahbiskan menjadi imam, di Antiokhia. Dan, sejak sejak tahun 386, ketika berusia 44 tahun, menetap di Betlehem hingga akhir hayatnya pada tahun 420 Masehi. Karya besar dari St. Hieronimus, dari sekian banyak karyanya, adalah Vulgata, yaitu Kitab Suci dalam Bahasa Latin yang diterjemahkan oleh beliau dari Bahasa Ibrani. Ada ungkapan yang terkenal dari sang Santo, yaitu, Tidak mengenal Kitab Suci, tidak mengenal Kristus” atau dalam Bahasa Latin ”Ignoratio Scripturarum, ignoration Christi est.”

Apa yang dapat kita ambil dari pengajaran Yesus, Sang Juru selamat kita, menurut St. Lukas, untuk situasi saat ini? Dan juga melalui St. Hieronimus? Untuk menjadi pengikut Kristus, berjalan di belakang-Nya, kita haruslah mempunyai komitmen total, sepenuhnya seturut kehendak-Nya. Serta, mencoba untuk mengenal Sang Juru Selamat, dari hari kehari, melalui sumber iman, yang sekaligus sumber keselamatan kita, Kitab Suci, Alkitab.

Shalom

 

Penulis :

Alfons M. Sahat M. Marpaung

Lingkungan St. Angela Merici