“Mengikuti Yesus, Memanggul Salib”

“Mengikuti Yesus, Memanggul Salib”

Hari Minggu Biasa XXII

“Mengikuti Yesus, Memanggul Salib”

Yer.20:7-9; Rm.12:1-2; Mat. 16:21-27

Menurut para ahli Kitab Suci, untuk memahami perikop Injil Kristus menurut St.Matius untuk minggu ini, kita harus memulai dengan: ”Sejak waktu itu Yesus mulai…….” Ayat 21 itu, lengkapnya, “Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”; merupakan tahap kedua dari Injil menurut Matius, yang mengisahkan perjalanan perutusan-Nya. Dan inilah yang ditulis di Alkitab sebagai ‘pemberitahuan pertama tentang sengsara Yesus dan syarat-syarat mengikuti Dia’. Sejak itu, Yesus mulai meningkatkan pengajaran-Nya kepada para murid; bahwa penderitaan dan kematian merupakan bagian dari jalan Anak Manusia menuju kemuliaan Mesias, Anak Allah. Diajarkan bahwa keharusan penderitaan itu bukan nasib, tetapi suatu keharusan yang diterima Yesus, seperti yang diuraikan Rm. Martin Harun(Kanisius,2017). Yesus bernubuat bahwa Ia akan dibunuh, seperti yang sudah direncanakan kaum Farisi. Nubuat yang membuat Petrus protes, yang akibatnya Petrus dihardik keras oleh Yesus (ay.22-23). Sesudah itu, Yesus mengajarkan, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku.” Selanjutkan, diajarkan lagi dua hal, yaitu tentang sesuatu yang paradoks (mempertahankan nyawa akan kehilangan nyawa) dan, sebuah hikmat(apa gunanya memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawa,ay.25 dan 26). Masih menurut Rm. Martin, yang dipersoalkan dalam dua ayat itu adalah hidup yang sesungguhnya,yang ditujukan kepada hidup kekal, meski melalui jalan yang terlihat bertentangan dengan akal sehat, namun sejatinya benar(paradoks). Sedangkan hikmat yang dimaksud adalah,keadaan dimana seseorang berusaha mempertahankan aspirasi hidupanya dengan mencari harta, kenikmatan, kemasyhuran, kekuasaan(‘seluruh dunia’) namun kehilangan nyawanya.

Apa yang bisa kita ambil sebagai inspirasi bagi kehidupan kita saat  ini? Bisa jadi beberapa hal, seperti: keengganan untuk menerima penderitaan dan kematian sebagai jalan Tuhan untuk mencapai tujuan-Nya. Kita, selaku umat, seperti Petrus menutup mata terhadap sengsara Yesus, karena takut akan konsekuensinya bagi kita. Oleh karena itu, belajar dari perikop ini, bagi siapa saja yang saat ini dalam kurang sehat, bahkan sakit kronis, semoga dikuatkan dengan apa yang dilakukan Tuhan Yesus: dengan rela menghadapi situasi yang kurang baik itu. Sebagai manusia, sangat bisa mengeluh, namun jika diimani, bisa tetap teguh. Hal itu dikisahkan dalam Bacaan pertama, bagaimana nabi Yeremia bergulat dengan keadaannya. Lainnya, mengenai “memikul salib dan mengikuti-Nya”. Memikul salib bisa bermakna luas, yakni menanggung aneka kesusahan dan pengorbanan sehari-hari sebagai pengikut dan utusan Yesus. Bagi setiap umat yang terlibat langsung dalam pelayanan, misalnya, bisa mengalami banyak hal, yang mungkin kurang diharapkan. Namun, jika tetap teguh dalam melayani, akan membuahkan hidup yang penuh berkat, seperti sabda-Nya,

Karena Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.”(ay.27).

Dan semoga, kita juga bisa belajar seperti Raja Daud, yang menaikkan pujian kepada Allah, Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.” (Mzm. 63:4).