“Menjadi Murid Yesus”

“Menjadi Murid Yesus”

Hari Minggu Biasa XXIII

“Menjadi murid Yesus”

(Keb. 9:13-18; Flm. 9b-10,12-17; Luk. 14:25-33)

Untuk Minggu Biasa ke dua puluh tiga ini, yang juga dirayakan sebagai “Hari Minggu Kitab Suci Nasional”, kita akan membaca dan mendalami pengajaran Sang Guru mulia, Tuhan Yesus, dari Injil suci menurut Santo Lukas. Masih dalam perjalanan menuju kota suci Yerusalem, “banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus.” Sambil berpaling, Ia berkata kepada mereka: “Jikalau seorang datang kepada-Ku, dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudara laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Sungguh keras!, perkataan itu. Siapa yang sanggup? Dan masih dilanjutkan dengan, “Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Perkataan ini pun sungguh memberikan syarat yang tidak mudah, karena memakai ‘bahasa hukum’, “Barangsiapa …”.

Bagaimana agar perkataan-perkataan itu dapat dimaknai?, sehingga kita layak disebut murid-Nya?, murid di masa kini? atau, apa yang dimaksud Lukas dengan perkataan ini? Rasanya, untuk “Sabda” yang sulit atau berat, layaklah kita merujuk kepada penafsiran seorang Ekseget. Seseorang yang ahli di bidang Kitab Suci, Alkitab. Dalam kumpulan tulisannya, Rm. A. Gianto, “Langkah-Nya, Langkah-ku”, terbitan Kanisius Jogja, menulis, “perjalanan ke Yerusalem, tempat Ia bakal ditolak, dibunuh dan disalibkan tetapi akan dibangkitkan,” Lukas bermaksud membuat pembaca ikut serta dalam kisahnya, dan, bertanya-tanya, apakah semua orang banyak itu juga berani mengikuti Dia terus sampai ke akhir perjalanan-Nya?” Sedangkan Rm. M. Harun, seorang Ekseget lainnya, menjelaskan bahwa kata ‘membenci’ di sini tidak mengenai sentimen memusuhi atau jijik terhadap keluarga, tetapi dengan tegas mengatakan bahwa komitmen murid kepada Yesus harus melebihi komitmen terhadap keluarga atau nyawa sendiri (Lukas, Injil Kaum Marjinal, Kanius, Jogja). Dan, selanjutnya diuraikan bagaimana caranya agar dapat mengikuti Yesus sampai akhir.”

Menjadi murid Yesus yang sejati adalah dengan mengikuti dan hidup akrab dengan-Nya. Sementara, ‘mengikuti’ berarti berjalan di belakang Yesus. Sebagai ilustrasi atau untuk memberikan ‘gambaran’ bisalah kita baca, misalnya di Injil menurut Markus. Yaitu, ketika Yesus memanggil Simon dan Andreas yang sedang menebar jala di danau (Galilea): “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalannya dan mengikuti Dia! (bdk.Mrk.1:17-18). Dapat dikatakan bahwa mereka berdua, dan semua murid lainnya, mengikuti Yesus dengan sukarela. Tanpa dipaksa.

Inspirasi apa yang dapat kita petik dari Injil suci dan Bacaan untuk Minggu Biasa kali ini? Pertama, menjadi murid Yesus membutuhkan komitmen melebihi apa pun. Dengan komitmen seperti itu, maka setiap murid akan mengikuti semua perintahNya dengan sukarela, seperti ketika murid-murid pertama dipanggil. Seperti ‘permintaan’ Rasul Paulus kepada Filemon, untuk mau menerima Onesimus, yang pernah ‘melawan’, dengan sukarela: “… supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela.” (Flm. 14b, Bacaan kedua). Kedua, dengan sepenuh hati mengikuti-Nya, maka kita mengakui kemahakuasaan yang sekaligus Kebijaksanaan serta kasih-Nya yang tidak berkesudahan. Seperti yang disampaikan pada Bacaan pertama: Siapa gerangan sampai mengenal kehendak-Mu, kalau Engkau sendiri tidak menganugerahkan kebijaksanaan, dan jika Roh Kudus-Mu dari atas tidak Kauutus? (Keb. 9:17).

Kita akan dituntun oleh Roh Kudus ketika kita secara sukarela mengkuti Sabda-Nya. Dan di ‘Bulan Kitab Suci Nasional 2022’, dengan tema utama, “Allah Sumber Harapan Hidup Baru”, kita bisa mengikuti-Nya melalui apa-apa yang tertulis di Kitab Suci kita: Alkitab.

Selamat merayakan Ekaristi Hari Minggu Biasa yang keduapuluh tiga, dan kita selalu mencari Sabda-Nya,

“Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun temurun.” (Mzm. 90:1)