Menjadi murid Yesus: belajar keluar dari krisis

Menjadi murid Yesus: belajar keluar dari krisis

Bacaan Injil untuk Minggu Biasa keduapuluh lima ini diambil dari Injil menurut Lukas. Dikisahkan kepada kita, tentang sebuah perumpamaan. Yaitu, tentang Bendahara yang tidak jujur, yang dilanjutkan dengan amatan bahwa anak-anak dunia dapat melebihi anak-anak terang(ay.8-9). Dan, dilanjutkan dengan pepatah, barang siapa setia dalam perkara kecil, bisa dipercaya pula dalam perkara besar(ay.10-12), serta diakhiri dengan penegasan, bahwa tidak mungkin mengabdi dua tuan(ay.13). Begitulah Yesus mengajar para murid-Nya(ay. 1). Ini adalah salah satu perumpamaaan sebagai pengajaran, yang sering menimbulkan pertanyaan: bagaimana mungkin, Tuan, atau, Yesus? justru memuji seorang bendahara yang menghambur milik tuannya? Atau, bagaimana memahami perumpamaan yang terkesan ganjil ini? Atau, mengikat persahabatan dengan Mamon yang tidak jujur? Bisa banyak pertanyaan lainnya, yang dapat diajukan.

 

Apa yang menjadi kesalahan utama sang bendahara?: menghamburkan milik tuannya atau mengakali(berbuat curang) dalam menjalankan bisnis tuannya? Menurut para ahli, di jaman itu adalah lazim jika seorang yang mempunyai harta(bisnis) yang besar, mempekerjakan seorang bendahara. Dan dianggap lazim pula jika sang bendahara mempunyai perhitungan sendiri, sejauh bisnis memberikan keuntungan bagi sang tuan. Namun, kali ini, sang bendahara kena batunya. Karena, sang tuan pemilik sudah mendengar kabar tentang perilakunya dan meminta pertanggungan jawab. Apa alasan sehingga sang bendahara disebut cerdik? Dia melakukan sesuatu, yang memungkinkan dia tidak harus mencangkul, apalagi jika sampai mengemis. Memang, yang dilakukan adalah sesuatu yang secara moral kurang terpuji: memberikan potongan hutang kepada para pelanggan tuannya. Berapa potongan yang diberikannya?: sekitar 1.970 liter untuk minyak. Sedangkan gandum, dengan potongan dua puluh persen, setara dengan sekitar tujuh ton gandum. Dengan begitu, kita tahu bahwa sang bendahara, sejatinya seorang yang mengurus bisnis besar. Atau untuk istilah jaman kini, dapatlah dikatakan bisnis tingkat korporat. Menyadari dirinya akan dipecat, maka dia melakukan sesuatu, termasuk mengikat persahabatan dengan mamon yang tidak jujur(uang), sehingga ada yang menolongnya dalam masa kesusahan. Dengan kata lain, dia mampu melepaskan diri dari suatu krisis. Tidak berdiam diri dalam menghadapi masalah. Itulah yang disebut cerdik.

Apakah kejadian seperti ini hanya terjadi pada masa perutusan Yesus di dunia, atau di masa kita sekarang ini saja? Ternyata, situasi ini juga terjadi jauh di masa lalu. Dimasa nabi Amos diutus, seperti yang diceritakan pada Bacaan pertama. Dan ditulis di sana tentang penglihatan yang keempat, secara khusus tentang perilaku para pedagang yang suka mengecilkan efa, membesarkan syikal. Dengan kata lain, untuk terigu yang lebih sedikit, pembeli membayar sama dengan sebelum efa dikecilkan. Juga, untuk berat terigu yang sama, pedagang menambah sesuatu, sehinggga timbangan lebih berat. Ujungnya, keuntungan mereka berlipat., tidak perduli pembeli dirugikan!

 

Inspirasi apa yang dapat kita pahami dan yang bisa kita terapkah dalam kehidupan sehari-hari? Pertama, bukankah kita semua adalah bendahara yang dipercaya Allah dalam rupa talenta? Ada harta yang dititipkan pada setiap dari kita. Apakah kita dapat menjaga dan bahkan melipat gandakannya? Apakah kita yang mengendalikan mamon-yang-tidak jujur(uang), atau malah sebaliknya, kita yang dikendalikan oleh sang mamon? Sebagai anak-anak Terang, apakah kita sudah melakukan sesuatu untuk mengumpulkan harta rohani, sehingga bisa diterima di dalam kemah abadi? Bagaimana tindakan kita saat dilanda krisis?: berusaha berbuat sesuatu?, atau, menerima saja karena itu adalah kehendak-Nya? Masih ada beberapa pertanyaan yang bisa kita lontarkan dalam usaha memahami pengajaran-Nya. Atau, paling tidak, kita bisa berbuat seperti yang diajarkan Rasul Paulus kepada Timotius: supaya laki-laki, dan juga perempuan melakukan doa syafaat(untuk banyak orang)[bdk. 1 Tim. 2:8-9]. Dan, hanya mengabdi Allah.

“Haleluya! Pujilah, hai hamba-hamba TUHAN, pujilah nama TUHAN! Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamnya.” (Mzm. 113:1-2)