"Menjadi Murid YESUS: Melepaskan Keterikatan"

"Menjadi Murid YESUS: Melepaskan Keterikatan"

(Keb. 9:13-18; Flm.:9b-10,12-17; Luk. 14:25-33)

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Tentu, yang dimaksud adalah perjalanan ke Yerusalem, tempat di mana Ia akan menuntaskan perutusan-Nya, dan bangkit dari antara orang mati. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: “Jikalau seseorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak layak menjadi murid-Ku.”(Luk. 14:25-26). Alangkah, kerasnya kata-kata itu! Masih ada dua lagi, dalam perikop untuk Minggu Biasa keduapuluhtiga ini, yaitu, tentang seseorang tidak dapat menjadi murid-Nya, jika tidak memikul salibnya(bdk. ay.27) dan, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya(bdk. ay.33). Ketiga hal itu, disebut sebagai tiga syarat untuk menjadi murid yang sejati. Berat sekali, bukan?

  a

Dalam syarat yang pertama, tentulah yang dimaksudkan adalah pentingnya mengikuti Yesus dengan sepenuh hati. Berani melepaskan keterikatan pada relasi kekeluargaan, betapa dekat pun hubungan darah yang ada. Yang kedua, berani memikul salib, dan ketiga, berani melepaskan keterikatan terhadap harta duniawi. Melepaskan keterikatan terhadap harta duniawi saja, diantara kita, mungkin belum banyak yang mampu. Tetapi, begitulah yang tertulis dan yang diajarkan Sang Guru mulia. Dan, dalam keseharian, ternyata, cukup banyak yang mampu.

+++++++

http://ekaristi.org/bible/images/px.gif

InInspirasi apa yang bisa dipetik dari Injil untuk minggu Biasa ke XXI ini? Menjadi murid yang sejati, sungguh membutuhkan keberanian. Termasuk keberanian untuk menghadapi komentar dari sesama, dimana kita dianggap sok suci, atau sok melayani. Atau, keberanian menghadapi komentar bahwa pelayanan kita hanyalah semacam pelarian dari situasi yang kurang harmonis dalam keluarga. Dan macam-macam komentar lainnya. Pertanyaan bagi kita kaum awam: dapatkan kita memenuhi persyaratan itu? Bukankah cukup banyak yang mau melayani Gereja, tetapi terhalang oleh pandangan dalam keluarga?, dalam arti tidak diijinkan? Atau, bagaimana kedudukan di sebuah perusahaan lebih membutuhkan waktu, perhatian dan tenaga, sehingga tidak ada lagi yang tersedia bagi Gereja? Untuk dapat mencoba menjawab pertanyaan itu, maka kita diajak untuk hari demi hari mengikuti pengajaran-Nya mengenai ketiga syarat itu. Secara bertahap, dan juga dengan bertambahnya pengalaman dalam kehidupan serta mau merenungkannya, bisalah kita mengatakan, “aku mencoba mengikuti perjalanan-Nya.”

Semoga, Tuhan Yesus memberkati kita semua, seturut Kasih-Nya.