Menjadi Utusan yang Rendah Hati

Menjadi Utusan yang Rendah Hati

“Suatu hari, seorang teman memberitahu saya bahwa dia telah keluar sebagai anggota suatu Team Persekutuan Doa. Tentu sacara reflek saya bertanya; kenapa? Dia kemudian bercerita bahwa pemilihan Koordinator Persekutuan Doa sudah seperti dunia politik. Untuk ‘menjegal lawan’, banyak beredar SMS gelap yang menyerang dan memojokkan ‘lawan’. Bahkan sampai menyerang hal-hal yang pribadi. Teman saya menjadi kecewa, kenapa untuk melayani Tuhan harus ‘bersaing’ dengan cara seperti ini”.  Kisah ini adalah kisah nyata yang benar-benar terjadi beberapa tahun lalu yang Penulis dengar langsung dari seorang teman.

Bacaan Minggu ini lagi-lagi bicara soal orang-orang Farisi dan para Ahli Taurat. Yesus seringkali mengritik cara hidup mereka yang tidak sesuai dengan apa yang mereka ajarkan. Kali ini dalam sebuah pesta Yesus melihat banyak sekali dari antara mereka mendahului diri untuk duduk di tempat terhormat. Membaca kisah teman saya, rupa-rupanya penyakit gila hormat tidak hanya terjadi pada jaman Yesus pada orang-orang Farsisi dan Ahli Taurat. Di jaman modern ini hal itu pun menjadi penyakit sebagian para pelayan Tuhan yang ada di dalam Gereja. Jabatan masih menjadi segala-galanya untuk orang-orang tertentu. Belum lagi kita bicara persoalan konflik.

Umat Tuhan yang terkasih, panggilan Kristiani adalah panggilan pelayanan dan bahkan tentang hal ini Tuhan kita sendiri sudah menyampaikannya kepada kita dan sekaligus menjadi teladan bahwa DIA datang ke dalam dunia untuk melayani dan bukan untuk dilayani (bdk. Mrk. 10 : 45). Status sosial, latar belakang pendidikan dan mungkin budaya telah bercampur baur di dalam diri kita yang jika tidak dikelola secara bijaksana sangat berpotensi menjadi penyebab semua ini terjadi. Padahal, menurut St. Paulus sudah tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus (bdk. Gal. 3:28). Dalam hal ini kita mau bicara bahwa di hadapan Tuhan kita semua sama adanya.

Lalu bagaimana terkait dengan panggilan pelayanan di dalam Gereja? Palayanan adalah karunia berdasarkan Kasih yang harus kita gunakan untuk kepentingan bersama (bdk. 1 Kor. 12 & 13). Untuk itulah kita dipanggil menjadi murid-murid Kristus. Pembaptisan suci adalah dasar seluruh kehidupan Kristen, pintu masuk menuju kehidupan dalam Roh. Oleh pembaptisan, kita dibebaskan dari dosa dan dilahirkan kembali sebagai putera-puteri Allah; kita menjadi anggota-anggota Kristus, dimasukkan ke dalam Gereja dan ikut serta dalam perutusannya : “Pembaptisan adalah Sakramen kelahiran kembali oleh air dalam sabda”. (KGK 1213).

Umat Tuhan yang terkasih, marilah kita keluar dari diri sendiri, menjadi seorang utusan dan menjadi hamba bagi orang lain (bdk. Yoh. 20:21).

Selamat hari Minggu – Tuhan memberkati. Amin