"Menjalani Tugas Panggilan dengan Ketulusan"

"Menjalani Tugas Panggilan dengan Ketulusan"

Kisah Maria dan Marta yang ada pada Injil Lukas sudah sangat sering kita dengar. Bahkan tanpa membaca ulang, kita semua sudah mampu menceritakan ulang kisah ini. Tidak hanya menceritakan ulang, sebagian besar dari kita pasti sudah memahami tafsir dari kisah ini. Marta yang kesal karena Maria tidak membantunya, justru di tegur balik oleh Yesus dengan mengatakan bahwa Marta terlalu khawatir dan menyusahkan diri dengan hal. Namun renungan kali ini ingin mencoba melihat dari sudut pandang yang lain dan itu adalah bagian dari kekayaan Sabda Tuhan yang senantiasa mampu berbicara kepada kita dari berbagai sudut pandang.  

Kami akan awali dengan sebuah kisah nyata. Seorang Bapak baru saja bergabung dengan sebuah kelompok Persekutuan Doa (PD) di sebuah Paroki. Seperti biasa, sebelum PD dimulai semua anggota Team sibuk mempersiapkan ruangan. Bapak yang baru bergabung ini diminta bantuannya untuk membantu yang lain membereskan bangku. Singkat cerita, dalam beberapa pertemuan berikutnya, Bapak ini terus mendapat tugas yang sama yaitu membereskan bangku untuk umat yang akan hadir di PD tersebut. Kemudian, dalam suatu pertemuan evaluasi, Bapak ini angkat bicara; “Bapak dan Ibu sekalian, sudah beberapa waktu saya bergabung dengan Persekutuan ini. Namun Saya kecewa karena hanya mendapat tugas menyusun bangku setiap kali pertemuan. Saya ini di kantor jabatannya Direktur ... dst“. Semua tertegun tanpa tahu harus menjawab apa. “Mulai minggu depan, saya berhenti”, lanjut Sang Bapak.  

Kembali ke kisah Maria dan Marta. Apakah Yesus menegur Marta saat dia melayani mereka? Tidak. Marta-lah yang pertama kali komplain kepada Yesus karena Maria saudaranya tidak menghargai kesibukannya melayani Yesus dan tidak membantunya. Berbeda dengan Bapak di Persekutuan tadi yang menganggap apa yang dikerjakannya tidak berbobot, Marta justru menganggap apa yang dikerjakannya adalah sebuah pekerjaan besar sehingga perlu mendapat perhatian lebih dari orang lain (Maria dan Yesus) dan akhirnya ia justru lalai mendengar Sabda Tuhan.

Umat Tuhan yang terkasih, ada baiknya kita mempelajari dan meneladan pandangan Sta. Theresia Lisieux terkait keterlibatan kita di dalam pelayanan Gerejawi. Tak peduli apa dan seberapa besar atau kecil pelayanan atau pekerjaan yang kita lakukan, lakukanlah itu dengan penuh cinta kasih yang murni kepada Tuhan. Sta. Theresia Lisieux yang selama menjadi Suster Karmelit tidak pernah keluar Biara sebenarnya memiliki kerinduan besar untuk menjadi seorang misionaris. Maka yang bisa dia lakukan adalah mendoakan para Misionaris yang sedang berkarya di luar. Karena kesucian dan ketulusan cintanya itulah, maka pada tahun 1925, ia digelari SANTA oleh Paus Pius XI dan diangkat sebagai Pelindung Karya Misi Gereja.

Selamat hari Minggu – Tuhan memberkati