Merayakan Kemurahan Hati

Merayakan Kemurahan Hati

“Kamu harus memberi mereka makan!”, begitu kata Yesus. Bagaimana para murid tidak heran? Karena hanya ada lima potong roti dan dua ekor ikan. Sementara, di situ terdapat kira-kira lima ribu orang laki-laki. Begitu dikisahkan oleh Lukas, sang maestro cerita.

Saat itu, sesungguhnya Yesus ingin mengajak para murid menyingkir ke Betsaida, setelah mereka kembali dari tugas perutusan. Tugas perutusan mereka dapat dikatakan sukses. Mereka menceritakan kepada Yesus, apa yang telah mereka kerjakan. Yaitu, memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang sakit di segala desa, dengan  bekal “tenaga dan kuasa” yang diberikan oleh Guru mereka.(lihat Luk. 9:1-2). Mereka, seperti lazimnya manusia, tentu ingin mengadakan perayaan atas keberhasilan itu. Namun, keinginan itu, dan juga untuk istirahat sejenak, terpaksa belum dapat dilakukan, karena orang banyak mengetahui perjalanan itu. Dan mereka mengikuti Dia. Lagi-lagi, Yesus menerima orang banyak, berkata-kata tentang Kerajaan Allah serta menyembuhkan orang-orang yang memerlukannya. Tanpa terasa, malam pun mulai tiba. Situasi itulah yang mendorong para murid untuk meminta Sang Guru agar menyuruh orang banyak untuk mencari tempat pengingapan dan makanan.

 

Peristiwa memberi makan kepada kira-kira lima ribu orang laki-laki dengan lima roti dan dua ikan tentulah sulit dicerna dengan akal sehat. Begitulah kira-kira yang dimaksud para murid(at.13). Namun, jika kita cari-cari dari banyak kisah yang tersedia di Alkitab, tentulah kita juga diceritakan bagaimana ‘Cara hidup jemaat yang pertama’ (bdk.Kis. 2:42). Dengan kata lain, berbagi dalam kehidupan adalah sesuatu yang lazim. Lagi pula, orang banyak, yang mengikuti Yesus dan murid-Nya ke sana ke mari, tentulah sudah melakukan persiapan, termasuk membawa bekal.

 

Bagimana kita bisa memetik inspirasi dari semua Bacaan suci untuk minggu ini? Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dimaksudkan untuk mengenang Kerahiman Allah: mengutus Anak-Nya yang tunggal, yang tiada berdoasa demi umat manusia yang dikasihi-Nya, mengutus Roh Penghibur, Roh Kebenaran, dan Allah melalui Yesus menetapkan ekaristi. Tiada habis-habisnya kasih Allah kepada kita, umat manusia.

Mari kita renungkan sejenak, situasi yang ada pada kita: dua dekade lebih sebelum kita mempunyai gedung gereja. Begitu diberi, sekarang menjadi semacam model dalam pembangunan(gereja): kurang dari setahun. Umat yang menghadiri Ekaristi, semakin bertambah. Lebih lagi, para misdinar kita memperlihatkan prestasi yang baik, baru-baru ini. Juga, koor gabungan, berhasil melangkah ke babak final Pesparani tingkat DKI. Apa maknanya ini semua? Jika Allah berkenan, tidak ada yang tidak mungkin.

Semoga, Kasih-Nya yang tak habis-habisnya, pemberian Tubuh dan Darah, senantiasa menguatkan kita untuk “menjadi peringatan akan Dia”, seperti yang disampaikan oleh Rasul Paulus kepada umat di Korintus: “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.”(Bacaan kedua).

Semoga, Tuhan Yesus memberkati kita semua.