“Hanya dalam Yesus Ada Kebangkitan”

“Hanya dalam Yesus Ada Kebangkitan”

“Hanya dalam Yesus Ada Kebangkitan”
Yeh. 37:12-14;Rm.8:8-11; Yoh.11:1-45

Dalam Bacaan pertama, kita membaca nubuat nabi Yehezkiel, yang diberi kuasa oleh Allah: menyampaikan firman Allah bahwa orang Israel akan dibangkitkan (dari kubur-kubur mereka),ayat 12; dan, di awal bab 37, tulang-tulang yang berserakan menjadi utuh (manusia) dan menyampaikan ‘nafas hidup’, yang adalah Roh Allah (bdk.Kej.2:7). Jika dibaca seluruh bab 37,maka kita akan disajikan sebuah kisah yang aneh, namun menarik.Latar belakang dari kisah itu adalah kondisi atau situasi yang dialami umat Israel dalam pembuangan di Babel.Dan diantaranya, terdapat nabi Yehezkiel. Pada awalnya mereka masih mempunyai harapan bahwa Yahweh akan memulihkan mereka, kembali ke Palestina dengan Kenisah sebagai memuliakan Yahweh. Kenyataannya, Babel kembali menyerbu Yerusalem pada 587 SM, lebih parah daripada serbuan pertama (598SM). Bait Allah diruntuhkan. Hilanglah harapan itu. Dalam situasi itulah sang nabi dipanggil untuk berkarya.

Dalam Injil Kristus menurut Yohanes untuk Minggu Prapaskah kelima ini, tertulis sebuah kisah yang sangat menarik, dan bisa jadi menakjubkan. Lazarus, saudara dari Marta dan Maria dari Betania,yang telah berada di dalam gua tempat penguburan,dibangkitkan oleh Yesus. Kisah yang tentu sudah kita kenal dengan baik, karena selalu dibacakan pada masa prapaskah. Yang juga sangat menarik adalah perilaku kedua saudara Lazarus. Cerita yang mirip dengan yang ditulis oleh Lukas tentang kedua wanita itu (bdk.Luk.10:38-42). Marta yang gesit, spontan dan banyak bergerak; sementara Maria lebih banyak diam atau kontemplasi dan memilih saat yang tepat. Marta mendengar Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya, dan curhat, seandainya Yesus ada waktu saudara masih sakit. Sementara, Maria tinggal di rumah. Terjadilah dialog yang sangat membuka wawasan kita, antara Marta dan Yesus. Dan,ungkapan Marta sungguh menguatkan iman, “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.” Ada juga bagian lain dari perikop ini yang meneguhkan iman: misalnya, pertanyaan para murid tentang mengapa harus kembali ke Yudea, dan,mengapa Yesus menunggu dua hari baru ke Betania. Biarlah,pada kesempatan lain dibicarakan. Sementara Maria,sesampai di hadapan Yesus,langsung tersungkur di depan kaki-Nya, dan menyampaikan apa yang ada dalam hatinya. Akhir kisah, kita semua dikabarkan bahwa Lazarus,yang artinya “Allah sendiri menolong”, bangkit dari kematian!

Bagaimana memetik inspirasi dari kisah dalam Injil dan Bacaan untuk minggu ini? Kedua kisah, bercerita tentang kebangkitan. Tapi,lebih dari itu,bahwa kebangkitan itu membutuhkan situasi iman kita. Seperti dikisahkan, Marta berkata, “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati”. Tetapi Yesus membuat Marta dan kita-kita ini ingat bahwa jika kita percaya,maka kita akan melihat kemuliaan Allah, seperti sabda-Nya,“Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah.”(ay.40).

Kita dan begitu banyak saudara di berbagai Negara,sedang menghadapi pandemi yang sangat bisa menimbulkan kecemasan. Dikarenakan sebuah virus. Dan,kondisi ini terjadi ketika kita dalam masa prapaskah,masa Retret Agung,dimana kita belum bisa menerima “Tubuh dan Darah-Nya”, sampai situasi membaik. Sungguh, kerinduan menerima Dia dalam perayaan Ekaristi terasa membuncah. Namun,sebagai pengikut Kristus, dalam kondisi ini,maka kita boleh bersyukur turut mengalami situasi,yang semoga,semakin meneguhkan kepercayaan kita kepada Kasih-Nya.

Pelajaran lainnya,banyak cara untuk mengungkapkan iman kita,seturut bimbingan Gereja.

“Selamat mengenangkan kisah sengsara, kematian dan Kebangkitan Kristus.”