Paskah dan Mahkota

PASKAH DAN MAHKOTA

penulis : Titi Andjarwati

Tahun 2020 adalah tahun yang luarbiasa istimewa, utamanya di Indonesia bagian selatan antara lain Pulau Jawa. Tepat di awal tahun tanggal 1 Januari 2020,banjir bandang melanda hampir semua kota di Jawa,termasuk Jabodetabek yang telah bebas banjir beberapa tahun. Situasi ini menyebabkan Masyarakat menimpakan kesalahan kepada Gubernur Jakarta yang dianggap kurang tanggap terhadap bencana yang terjadi. Akibat dari banjir ini beberapa kegiatan pelayanan gereja sempat tersendat, karena umat St Leo Agung sebagian besar terdampak cukup berat dalam peristiwa ini.  Sungguh terasa kepedulian Gereja (dalam arti himpunan umat berdasarkan cinta Tuhan Yesus) ketika menyikapi situasi ini. Umat yang tidak terdampak atau terdampak ringan bersatu padu untuk membentuk dapur umum dan membagikan nasi bungkus ke keluarga-keluarga yang mengalami musibah,sungguh sangat berarti sebagai keluarga besar Yesus Kristus.

Peristiwa banjir ini telah menimbulkan keprihatinan mendalam bagi sebagian umat yang harus kehilangan harta bendanya akibat terendam air berhari-hari dan isi rumah yang berantakan yang harus disusun ulang,direparasi,direnovasi bahkan dibuang karena tak mungkin digunakan lagi. Situasi rumah yang berantakan,kesedihan dan keprihatinan masih dirasakan sampai awal Maret ketika kalender gereja memasuki masa Pra Paskah diawali dengan Rabu Abu.

Rupanya banjir adalah sebuah latihan yang dipersiapkan Tuhan atau persiapan awal dari keprihatinan yang lebih mencekam memasuki masa Pra Paskah bukan disebabkan oleh bahan renungan yang membosankan atau biaya acara Paskah yang dinilai terlalu tinggi tetapi datangnya serangan dari makhluk kecil tak kasat mata yang disebut CORONA VIRUS (Virus Mahkota). Nama yang cantik ini menyebabkan seseorang terserang penyakit mirip flu biasa,dengan gejala utama demam tinggi,sesak nafas,tidak bisa merasakan sesuatu dengan lidahnya,hidung tidak dapat mengenali bau,dan tidak ada nafsu makan. Penyakit yang diakibatkan oleh virus ini diberi nama COVID-19 (Corona Virus Disease tahun 19) yang penularannya melalui droplet (lender). Penyakit yang semula terdeteksi di kota yang bernama WUHAN di Tiongkok bulan Oktober 2019,dalam waktu singkat merebak ke seluruh benua dan negara di dunia termasuk Indonesia tanpa terkendali,akibat dari mobilisasi manusia di seluruh dunia begitu intens.

Akibat merebaknya virus Mahkota menjadi pandemic ini,oleh Pemerintah dilakukan pembatasan-pembatasan untuk menekan berkembangnya jumlah penduduk yang terdampak. Antara lain:

  1. Social/physical distancing – jaga jarak antar orang minimal 1.5 m
  2. Dilarang berkumpul / mengadakan perkumpulan
  3. Dilakukan Work From Home (bekerja dari rumah)
  4. DIlakukan Learn From Home (belajar dari rumah)
  5. Tidak melakukan perjalanan bila tidak sangat perlu, lebih baik tinggal di rumah
  6. Bila  keluar rumah harus menggunakan masker

Dan masih banyak peraturan-peraturan yang diterapkan dalam kaitan dengan COVID19 ini. Protokol-protokol Kesehatan diberlakukan dimana-mana,tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia. Dari Negara Adidaya seperti Amerika dan Rusia sampai negara-negara berkembang semuanya menerapkan protokol kesehatan yang sama. Bila kita saksikan di media mainstream atau media sosial akan terlihat orang menggunakan masker di seluruh dunia. Korban berjatuhan tak terkendali dibeberapa negara,para ahli virus sibuk mencari vaksin yang tepat untuk jenis corona baru ini.

Akibat yang lebih mengharukan adalah umat tidak dapat beribadah dirumah ibadah masing-masing. Contoh seperti kita sebagai orang Katolik tidak dapat menerima Tubuh dan Darah Yesus dalam bentuk komuni yang digantikan dengan Doa Komuni Batin. Hari-hari pertama diberlakukan misa Live Streaming sampai selesai Tri Hari Suci,saat Komuni Batin membuat air mata meleleh di pipi. Antara kepedihan tidak dapat menerima Tuhan secara fisik dan rasa yang timbul dalam situasi memprihatinkan menurut ukuran manusia ini,seolah Tuhan justru menyatu dengan roh dalam diri kita. Terasa lebih dalam daripada ketika kita jalan berbaris di gereja untuk menerima komuni dan setelah itu mulai gelisah menunggu misa berakhir dengan berkat. Tidak sedikit dari umat yang selesai komuni langsung menghilang. Namun ketika mendaraskan Komuni Batin,dimana kita ingin memeluk Yesus,lebih terasa kehadiranNya.

Bagaimana kita menyikapi situasi ini melalui kaca mata iman? Banyak orang uring-uringan,belum habis dampak banjir sudah datang bencana nasional seperti ini. Tidak bisa bebas keluar, tidak bisa pergi ke gereja,sekolah,kantor,berjualan dan sebagainya yang berdampak pada krisis ekonomi keluarga,negara maupun dunia. Kita harus melakukan restrukturisasi kehidupan secara total supaya tetap optimis menapaki masa depan setelah Mahkota ini pergi dari dunia ini.

Saudaraku,kita percaya bahwa apa yang terjadi di dunia ada kekuatan besar yang mengatur semuanya yang kita sebut sebagai Tuhan Allah.

Gegara merebaknya Sang Mahkota mencoba merenung apa sebenarnya kehendak Tuhan dibalik semua ini? Apakah seperti ini bentuk kasih Tuhan kepada umat manusia sehinga seluruh dunia harus merana?

Hasil refleksi dan kontemplasi beberapa hari dalam physical distancing di rumah,dan menghayati puasa Paskah termasuk puasa jalan-jalan,puasa belanja,puasa marah,dll ada beberapa pertanyaan yang dilihat dari kacamata iman, ialah:

  1. Apakah Allah sebagai Sang Pencipta Yang Maha Rahim sedang menghukum umat manusia?
  2. Apakah peristiwa ini memang diciptakan olehNya untuk memberi pelajaran dan menguji kita?
  3. Apakah seperti yang dituduhkan oleh China bahwa Amerikalah yang membuat virus ini dan menyebarkannya di Tiongkok? Kalau memang Amerika,mengapa di negara Adikuasa itu ribuan penduduknya juga terdampak bahkan banyak yang meninggal?
  4. Siapakah yang dapat memerintahkan kepada seluruh penduduk dunia secara bersama-sama menggunakan masker,dan ditaati?
  5. Siapakah yang dapat memerintahkan seluruh penduduk dunia Work From Home,Learn from Home,physical/social distancing?
  6. Siapakah yang dapat memerintahkan industri seluruh dunia berhenti beroperasi serentak?

Dengan merenungkan pertanyaan-pertanyaan tersebut beberapa hari,sampailah pada kesimpulan bahwa there is The Allmighty,hanyalah Yang Maha Kuasa yang dapat menciptakan suasana seperti ini serentak di seluruh dunia. Pertanyaannya,apakah tujuanNya bagi manusia?

Inilah bukti bahwa Allah sangat mencintai ciptaanNya sehingga:

  1. Manusia harus mengendalikan polusi untuk memelihara lingkungan hidupnya.
  • Akibat dari usaha mengendalikan penyebaran Covid-19 diadakan social distancing, orang-perorang harus menjaga jarak. Akibatnya industri padat karya  seperti industri otomotif, tambang dan semacamnya yang menghasilkan polusi dan merusak lingkungan harus  berhenti beroperasi
  • Secara otomatis dengan berkurangnya operasional dan produksi  dari manufaktur-manufaktur yang menguasai dunia, polusi menjadi berkurang dengan sangat signifikan. Terlebih setelah diberlakukan pembatasan atau  larangan berkumpul,menyebabkan mobilitas penduduk menyusut sehingga polusi udara dari knalpot kendaraanpun jauh berkurang. Produksi gas asam arang COdari Industri dan kendaraan nyaris berhenti di seluruh dunia
  • Yang Allah ijinkan untuk berproduksi hanyalah segala jenis tumbuh-tumbuhan sebagai produsen Oksigen (O2) yang sangat dibutuhkan oleh kita manusia. Dari pantauan satelit terlihat bumi yang semula tertutup kabut disana-sini,saat ini menjadi biru bersih.

  1. Manusia harus kembali hidup saling mengasihi dalam keluarga
  • Beberapa dekade belakangan ini terjadi fenomena di perkotaan bahwa rumah hanyalah sebagai tempat untuk beristirahat,bagaikan hotel. Ayah Ibu dan anak-anak berinteraksi seadanya,tanpa kasih,sentuhan atau sapaan eye to eye.  Bertemu bersama keluarga hanya diakhir minggu,itupun kalau tidak ada tugas sosial,pelayanan atau kepentingan komunitas lainnya.
  • Allah ingin tiap anggota keluarga kembali saling mengasihi,saling mendekatkan diri seperti yang dikehendakiNya. Ketika suami istri dipertemukan bukan untuk saling menjauhi, tetapi untuk membentuk sebuah keluarga yang menyalurkan kasihNya kepada anak-anak yang diberikanNya.
  • Allah tidak ingin salah satu dari mereka berselingkuh. Dengan WFH, akan memaksa mereka untuk tidak bersentuhan dengan orang lain di luar keluarga,dan bagi yang berselingkuh tidak mungkin mengadakan kencan,bukan?
  • Anak-anak kembali merasakan bahagia bersama ayah ibunya di rumah,yang biasanya mereka diasuh oleh baby sitter atau asisten rumah tangga

  1. Manusia harus saling menghormati dalam beribadah karena Allah kita hanya satu
  • Social distancing tidak merekomendasikan orang untuk berkumpul termasuk beribadah di rumah-rumah ibadah seperti gereja,masjid,kuil dll. Masing-masing orang harus beribadah di rumah sendiri,berdoa kepada Tuhan secara pribadi.
  • Disini Tuhan  ingin menuntun manusia untuk mengerti bahwa hubungan dengan Allah adalah hubungan roh dengan ROH-nya. Bukan agama,bukan nabi atau aliran apapun. Semua yang berorientasi dunia tidak mempengaruhi hubungan manusia dengan Allah sendiri. TIdak ada gunanya saling melecehkan antar agama,sekaranglah saatnya tiap orang berhadapan dengan Allah secara pribadi
  • Kitab Suci yang pada hari-hari biasa disentuhpun tidak,saat ini akan lebih sering dibuka,orang akan lebih ingin mengerti Sabda Tuhan yang biasanya hanya mereka dengar dari pemimpin ibadah. 
  • Bisa kita saksikan,hari Raya beberapa agama tidak dapat dirayakan dengan cara hura-hura seperti biasanya. Dimulai dari Imlek  di Tiongkok yang biasanya ramai dengan lampion dan mercon,mereka tidak dapat merayakannya. Waisak dan Nyepi tidak berbeda. Demikian pula untuk umat Islam,mereka akan merasakan puasa dan Idul Fitri yang tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Kitapun pada paskah tahun ini tidak dapat merayakan Minggu Palma dan Tri Hari Suci seperti tahun-tahun sebelumnya.
  • Allah ingin menyadarkan manusia bahwa Allah itu hanya satu,Dialah yang berhubungan langsung dengan pribadi kita,tidak tergantung siapa Nabinya dan cara beribadahnya. Semuanya menuju kepada Dia yang satu melalaui berbagai jalan dan pintu menuju rumah yang sama,mengapa harus saling bermusuhan?

  1. Manusia harus saling peduli satu sama lain
  • Covid19 membuat penderitaan banyak orang disemua lini,berbagai kesulitan dirasakan baik mereka yang berpunya karena perusahaan atau pabrik mereka harus tutup sementara, pengusaha UMKM maupun golongan pra sejahtera yang dalam situasi normalpun mereka terpinggirkan
  • Namun selalu ada blessing in disguise (hikmah) dibalik suatu peristiwa, pengusaha besar berhenti berusaha tetapi UMKM banyak yang tertolong dengan mengalihkan usahanya membuat Alat Pelindung Diri (APD), seperti : Masker dan hazmat suit. Warung-warung bekerjasama dengan online shop agar tidak berhenti beroperasi,sehingga ada simbiose antara pemilik warung dan online kurir atau biasa disebut gojek
  • Sumbangan berupa APD dan dana bermilyar-milyar diterima oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk membantu mereka yang terdampak dan membantu pemerintah mengatasi pandemi Covid dari sisi ekonomi yang pada masa-masa normal tak pernah terlintas untuk membantu pemerintah. Protes dan ketidak puasan yang sering diungkapkan berganti dengan saling membantu dan menyemangati dan itu berlaku di seluruh dunia.
  • Negara yang bermusuhan dari sisi teknologi,bersedia menolong rivalnya: Rusia menolong Amerika, China menolong Itali,dll.
  • Disinilah Allah ingin memperlihatkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri,Allah ingin seluruh dunia yang Dia ciptakan bersatu dan peduli satu sama lain termasuk peduli kepada lingkungan dan mahluk hidup yang lain sebagai ekosistem dunia,yang selama ini telah dirusak dan diacak-acak oleh manusia karena usaha perkebunan dan pertambangan.

  1. Kekayaan tidak untuk disombongkan
  • Dalam masa Paskah ini selama kurang lebih 1.5 - 2 bulan kita mendengar dan menyaksikan berapa selebritis dan kalangan elite yang meninggal dunia. Kita juga melihat bahwa banyak diantara mereka yang harus mengkarantina diri sehingga tidak bisa keluar rumah dengan mobil mewahnya,berekreasi ke pantai eklusif yang letaknya jauh dari tanah kelahirannya,menginap di hotel-hotel mewah yang harganya luar biasa mahal hanya untuk bersenang-senang. Mereka tidak lagi bisa terbang atau melakukan perjalanan yang selama ini dilakukan demi kesenangan duniawi dan tidak menyadari bahwa semuanya anugerah dari Tuhan.
  • Kekayaan tidak ada harganya sama sekali ketika Allah memerintahkan manusia untuk mengunci diri laiknya jaman bangsa Israel di Mesir dan Tuhan akan menurunkan tulahNya. Bangsa Israel diperintahkan untuk tidak keluar rumah dan memberi tanda pada pintu masing-masing dengan darah domba sebagai tanda pengorbanan bagi Allah,agar tulah itu lewat dari mereka.
  • Mirip dengan kejadian tersebut di atas,kitapun saat ini miskin atau kaya harus tetap di rumah supaya kita tetap sehat,supaya kita tidak kena “tulah” Covid19.

  1. Manusia harus menyadari bahwa segala sesuatu bukan atas kemampuannya sendiri tetapi anugerah dari Tuhan.
  • Manusia sering merasa bahwa segala sesuatu yang mereka capai adalah atas kemampuan mereka. Tuhan tidak masuk dalam hitungan mereka
  • Saat ini apapun yang mereka punya: pekerjaan,perusahaan,pendidikan,keahlian,kekayaan,kemampuan,keluarga,semuanya harus tunduk dalam satu perintah yang seng ada lawan, tidak dapat dilawan. Seluruh dunia harus tunduk dalam satu kendali bila tidak ingin terpapar atau menyebabkan orang lain terpapar dan akhirnya meninggal.

Permenungan/kontemplasi/refleksi atas Paskah yang baru berlalu dalam situasi prihatin pandemik Covid-19 ini,marilah kita bersyukur bahwa cinta Tuhan tidak pernah putus. Ada penderitaan dan ada yang meninggal adalah kenyataan,namun dibalik itu semua kita dapat menyaksikan kehendak dan perintah Allah tak satupun manusia mampu melawan sekuat apapun mereka. Harapannya adalah setelah peristiwa ini kita semua kembali mengandalan Allah sendiri,saling peduli,saling menyayangi dan mengasihi antar anggota keluarga,menjaga lingkungan hidup,menjaga hubungan sosial,toleransi,tidak ada lagi kesombongan karena kekayaan,peduli kepada mereka yang membutuhkan perhatian,tidak ada lagi pertikaian antar agama karena semua telah menyadari sesembahan kita sama dan hanya satu. Semoga harapan ini akan terwujud tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia,sehingga kemanapun kita pergi dan dengan siapapun kita berinteraksi terasa aman dan nyaman.

Semoga Tuhan mengabulkan doa kita bersama. Berkah Dalem Gusti.

Penulis :Titi Andjarwati