"Penegakan Hukum (aturan), atau Mewujudkan Nurani ?"

"Penegakan Hukum (aturan),  atau Mewujudkan  Nurani ?"

Renungan Harian, 7 SEPTEMBER 2020

Penegakan Hukum (aturan),  Atau Mewujudkan  Nurani ?

1Kor 5:1-8; 5:5-7; Luk. 6:6-11

      Para sahabat, sering dalam menjalani kehidupan kita dihadapkan pada permasalahan hidup dengan pilihan yang serba sulit antara penegakan peraturan atau pertimbangan nurani?.  Contohnya dapat kita baca di https://m.detik.com/news/berita/d-3208088/pengadilan-nenek-tua-dan-hakim-mulia. Mengenai seorang Nenek tua yang mencuri untuk memenuhi rasa laparnya.

      Alkitab sendiri memberi jawaban bagaimana kita harus bersikap. Dalam 1 Kor 5:1-8, Paulus memberi contoh sesuatu yang menjadi kebiasaan terkait kesusilaan (dianggap tidak melanggar kesusilaan diantara bangsa saat itu yang belum hidup menurut Injil), namun dengan menjadi pengikut Yesus  hal tersebut adalah tindakan asusila. Paulus mengumpamakan sebagai ragi lama, setelah hidup dalam Yesus  harus dihilangkan (hidup tanpa ragi). Dengan demikian kita harus juga mengikuti perubahan yang terjadi jangan terpaku pada hal-hal yang seolah-olah patuh namun sebenarnya kita menjauhkan diri dari apa yang diharapkan Tuhan.

Injil Lukas 6:6-11,  menegaskan hal lain terkait kepatuhan pada hukum. Patuh tidak sekedar pada bunyinya,  namun juga harus memperhatikan nurani dan kasih, sehingga  mematuhi hukum jangan sampai melanggar kasih. Yesus memberikan wawasan baru bahwa Hukum bukan sekedar birokrasi kepatuhan, namun harus mewujudkan kasih dan kebaikan, khususnya  perlindungan terhadap Kaum Lemah, Miskin, Tersingkir dan Difabel (KLMTD).

     Kedua perikop diatas memberi pedoman pada kita, bahwa kepatuhan pada peraturan harus mewujudkan kebaikan/keadilan bagi sesama. Sebagaimana saat ini kita dibatasi untuk beraktivitas dan menjalankan protokol kesehatan, seharusnya kita patuh bukan karena peraturan itu sendiri tapi tujuannya adalah perlindungan diri kita, sekaligus kasih bagi  sesama agar mereka tetap sehat. 

Kiranya sikap ini sesuai dengan apa yang diharapkan dalam pertemuan ke-III BKS 2020 yaitu Menjadi Umat Yang Berbela Rasa, semangat memahami dan semangat menyadari bahwa Yesus perduli pada setiap kita, sehingga kita harus perduli pada apa yang diajarkan Nya.