“Pengajaran Yesus: Berjuang Melalui Pintu Yang Sempit”

“Pengajaran Yesus: Berjuang Melalui Pintu Yang Sempit”

Pengajaran Yesus: berjuang melalui pintu yang sempit

Perikop Injil Kristus menurut Lukas, untuk Minggu Biasa ke-21, menceritakan bahwa Yesus berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar. Dan ini dilakukan-Nya dalam perjalanan ke Yerusalem. Kota, di mana Sang Guru akan menuntaskan perutusan-Nya. Kita orang katolik, tentu telah mahfum tentang ini: tujuan ke Yerusalem. Dalam perjalanan itu, ada seorang yang menanyakan untuk meminta kepastian. Apakah memang hanya sedikit orang saja yang diselamatkan? Apa jawaban Yesus?: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.”

Menurut para ahli, maka kiasan ‘pintu’ itu dipakai untuk menggambarkan perihal memasuki Kerajaan Allah. Dan, di dua ayat yang berbeda, namun berdekatan, ditampilkan “pintu yang sempit”(ay.24) dan “pintu yang sudah ditutup” (ay.25), yang intinya, jalan masuk ke Kerajaan Allah itu tidak mudah. Tentu kita dapat mencoba memahaminya dengan membandingkan dengan perumpaan yang sejajar, yaitu perumpamaan tetang 10 gadis yang menanti Mempelai(bdk. Mat. 25:1). Ada yang pintar, dan ada yang disebut bodoh. Ada yang senantiasa bersiap, ada yang bersiap setelah mendengar Mempelai sudah datang, baru buru-buru menyiapkan diri. Ternyata, terlambat sudah. Pintu sudah dikunci! Dengan kata lain, berjuang atau berusaha terus-menerus, sebelum, pintu ditutup. Karena, jika sudah ditutup, maka semua yang masih di luar, walau pun mengetok-ngetok untuk dibukakan pintu, maka jawaban yang akan terdengar adalah, “Aku tidak tahu dari mana kamu datang.” Bahkan bagi siapa saja yang mengajukan alasan: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Apa artinya ini?: bagi manusia yang merasa sudah dekat dengan Sang Juruselamat, merasa yakin sudah banyak melakukan yang baik. Dan, oleh karena itu, pasti akan dibukakan pintu. Ternyata tidak

Inspirasi apa yang bisa dipetik dari Injil untuk minggu Biasa ke XXI ini? Cukup sering kita temui seseorang atau beberapa teman kita, yang merasa pasti akan masuk Kerajaan Allah. Alasannya?: karena sudah banyak berbuat! Bisa dinyatakan secara langsung atau tidak langsung, atau tidak dinyatakan namun diceritakan(hal-hal yang sudah diperbuat).  Sudah banyak berderma, melayani dan sebagainya. Dan, biasanya, situasi ini akan membuat kita merasa besar. Sementara, di sisi lain, ‘pintu yang sempit’ melambangkan bahwa kita harus menjadi kecil, sehingga dapat masuk melalui pintu yang sempit itu. Seperti yang dinyatakan oleh Sang Nabi Pembaptis,“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”(Yoh. 3:30).  Belajar untuk menjadi kecil, bukanlah proses yang mudah. Bahkan, sering melalui proses yang menyakitkan, seperti yang disampaikan Rasul Paulus, kepada jemaat Ibrani, “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Allah mendidik kita dengan cara-Nya, bukan cara kita manusia. Oleh karena itu, bagi kita yang memang sedang memangku sebuah peran, entah di kantor, di masyarakat atau di organisasi religius(gereja), betapa pun pentingnya peran kita, semoga tidak membuat kita menjadi merasa berhak melalui pintu itu, alias sudah terjamin akan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kita, diajarkan oleh Sang Mahaguru yang mulia, dan juga oleh Rasul yang akbar, untuk terus menerus berjuang, seperti yang dicerminkan dalam pertanyaan seseorang itu, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?”

Semoga, Tuhan Yesus memberkati kita semua, seturut Kasih-Nya.