“Percaya kepada Allah yang Membangkitkan”

                                            “Percaya kepada Allah yang Membangkitkan”

Jika kita mengacu kepada pertanyaan beberapa orang Saduki tentang siapa yang menjadi suami sang wanita, yang telah mengalami tujuh kali perkawinan levirat (yang dapat dilihat di Ulangan 25:5), maka sesungguhnya, hal itu menyangkut kehidupan sesudah kehidupan di dunia ini, bukan? Mereka tidak percaya akan adanya kebangkitan orang mati. Dan, apa yang menjadi jawaban Yesus? Jawaban lengkap Yesus tertulis di ayat 34-38. Dan, kita diajarkan, yang semoga menjadi bagian dari iman kita,bahwa, “Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.”

Dalam Bacaan pertama, dikisahkan tentang seorang ibu dengan tujuh anak laki-laki,yang memegang teguh kepercayaan mereka. Walau ditangkap dan disiksa, juga diiming-imingi kehidupan baik, hingga dihabisi dengan cara yang kejam, iman mereka, sang ibu dan ketujuh anaknya, tidak goyah. Mereka tetap teguh, dan percaya bahwa mereka akan dibangkitkan kembali oleh Allah. Memang kisah ini bukanlah sesuatu yang historis, namun diinspirasi fakta tentang kekejaman raja Antiokhus Epifanes, yang menjadi raja dari pecahan kerajaan Aleksander Agung. Raja Antiokhus berniat menjadikan budaya Yunani sebagai nilai-nilai yang harus dianut oleh rakyat di kerajaannya.

Inspirasi apa yang dapat kita pahami dan yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari? Bagaimana kita bisa menerapkannya dalam kehidupan, sehingga itu sungguh menjadi bagian dari iman yang kita pegang teguh? Dalam terang iman Kristiani, Gereja menegaskan adanya kebangkitan sesudah kematian. Dan, sebagai bagian umat dari Gereja, tentulah kita mengamininya. Setiap kita mengikuti perayaan Ekaristi, kita mengulangi, sekaligus diingatkan tentang “Aku Percaya” yang pada bagian akhirnya kita ucapkan, “kebangkitan badan, kehidupan kekal”, sebelum mengucapkan “amin”. Dalam syahadat yang panjang, tertulis, ‘aku menantikan kebangkitan orang mari dan hidup di akhirat.’ 

Bukankah ini suatu pernyataan iman yang mendalam? Semoga iman yang kita pegang teguh, menjadikan kita sebagai murid Sang Guru yang mulia.

Tuhan Yesus Kristus memberkati.