“Retret Kita, Dalam Tahun Refleksi”

“Retret Kita, Dalam Tahun Refleksi”

MINGGU PRAPASKAH I

“Retret kita, dalam Tahun Refleksi”

Kej.9:8-15; 1Ptr.3:18-22; Mrk.1:12-15

Empat hari yang lalu, kebanyakan kita, ditandai dengan abu. Ketika menerima, kita juga disertai sabda-Nya, “Bertobatlah, dan percayalah kepada Injil.” Abu, tanda kita menyadari, siapa kita sesungguhnya. “Hanya debulah aku, di alas kaki-Mu, Tuhan…” (PS 481), begitu dilantunkan. Dan, kita pun, memulai masa Prapaskah, yang disebut juga masa retret umat.

 

Kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk.1:15). Inilah sabda Yesus; bagian kedua dari Injil untuk Minggu Prapaskah pertama. Injil yang singkat-padat, empat ayat, terdiri dari dua bagian. Tentang “pencobaan di padang gurun”, dan, “Yesus tampil di Galilea”. Walau singkat, namun sarat makna. Untuk mencoba mendalaminya, ada baiknya kita belajar dari seorang ahli kitab suci; kali ini mengenai ayat 15 tersebut: Kerajaan Allah sebaiknya didasarkan pada gagasan orang biasa pada waktu itu, dan bukan pada pengertian-pengertian zaman kini. Bagi orang-orang pada zaman Yesus, ungkapan Kerajaan Allah cukup mudah dimengerti. Sudah sejak lama mereka mengharapkan Allah mengerjakan hal yang istimewa bagi umat-Nya: mengeluarkan mereka dari tanah perbudakan di Mesir, membawa mereka ke tanah terjanji, berperang untuk mereka, menjadikan mereka jalan bagi bangsa-bangsa lain untuk mengenal kebesaran Allah mereka. Itulah ajaran turun-temurun. Perasaan bangga bahwa mereka dirajai Allah. Faktanya? Dalam Sejarah mereka, banyak peristiwa yang bertolak belakang dengan anggapan itu! Ketika Yesus mengucapkan: “saatnya sudah genap, Kerajaan Allah sudah dekat”, orang-orang langsung menangkap hubungan dengan pengalaman mereka sendiri. Termasuk, ajakan untuk “bertobat”. Bertobat, bukan pertama-tama dimaksud “sikap menyesali kekeliruan dan dosa”, melainkan keterbukaan ingin melihat yang lebih luas, bersedia memikirkan ada yang lebih luas daripada yang sekarang terjadi. Bila memiliki wawasan yang luas, barulah orang dapat dikatakan “percaya kepada Injil”.(disadur dari Rm. A.Gianto, SJ, Wah apa itu, Kanisius, 2007).

+++

Dalam Bacaan pertama, kisah tentang Nuh dan keluarganya, yang diselamatkan Allah dari air bah, tentu sudah kita kenal dengan baik. Cerita ini, secara lengkap, dapat dibaca pada Kej. 6: 5 hingga Kej.9:17. Namun, untuk meringkas cerita, dapatlah dikatakan bahwa penyelamatan Nuh dan keluarga, karena: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah(bdk. Kej.6:9). Karena itu, Allah berjanji kepada Nuh. Dan, tentunya kepada kita, generasi sesudah Nuh. Sementara, di Bacaan kedua, Rasul Petrus menekankan bahwa air bah Nuh, sekarang telah menjadi air pembaptisan, yang menyelamatkan manusia. Air pembaptisan beriringan dengan kesadaran tobat manusia.

+++

Inspirasi apa yang dapat dipetik agar menjadi bagian aksi nyata kita? Semoga, penjelasan tentang Kerajaan Allah, dan pemahaman tentang pertobatan, meneguhkan pengharapan kita akan kehidupan kekal. Dan, pembaptisan kita, yang senantiasa diulangi setiap menjelang Paskah, pun membersihkan kita. Serta, janji Allah kepada Nuh dan generasi sesudahnya, termasuk kita, umat paroki Jatiwaringin, menguatkan kita untuk terlibat dalam merawat bumi, Sang Ibu yang kini menderita akibat ulah manusia. Dengan wawasan itu, kita semakin mengasihi, semakin terlibat dan semakin menjadi berkat bagi sesama. Khususnya kepada yang masih dalam pergulatan dalam mengatasi pandemi virus corona.

Selamat mengikuti perayaan Ekaristi dalam masa retret agung 2021.