“Setia dan Waspada: tahu diri”

“Setia dan Waspada: tahu diri”

HARI MINGGU ADVEN I

“Setia dan waspada: tahu diri”

Yes.63:16b-17;64:1,3b-8; 1Kor.1:3-9; Mrk.13:33-37

Inilah minggu pertama dari masa adven. Adven, yang berasal dari ‘adventus’, bahasa Latin, ‘parousia’ dalam bahasa Yunani, berarti ‘kedatangan’. Ya, kita ‘menantikan’ kedatangan sang Juru Selamat. Karena itu, disebut juga masa penantian. Inilah minggu pertama dari tahun liturgi yang baru. Disebut Tahun B/I, dalam lingkaran tahun liturgi (katolik), karena 2021 adalah tahun ganjil. Pada Tahun B/I ini, maka Injil utama adalah Injil Kristus menurut Santo Markus.

Isi Injil minggu ini, mengingatkan kita untuk senantiasa berjaga-jaga. Senantiasa berjaga-jaga, yang berarti menantikan dengan setia. Sehingga ketika ‘Tuan rumah’ datang, yang waktunya seorangpun tidak tahu, maka kita didapati sedang berjaga-jaga, waspada. Dalam perikop Injil ini, “berjaga-jagalah”, diulangi sampai tiga kali!

Pertanyaannya, bagaimana cara ‘berjaga-jaga’-nya? Berusaha menjadi tahu diri, bisa jadi pilihan yang pas. Tahu diri berarti: berlaku sesuai dengan kode etik dari pilihan hidup. Kita, sebagai pengikut Yesus, berarti berjalan di belakang-Nya, menaati pengajaran dan perintah-Nya.

Dalam Bacaan pertama, dikisahkan bagaimana nabi Yesaya, yang disebut Trito-Yesaya, memohon kepada YHWH, Allah, agar berbelas kasih kepada orang-orang Israel yang baru saja kembali dari pembuangan (di Babel, “Pandanglah dari surga dan lihatlah dari kediaman-Mu yang kudus dan agung.” (Yes.63:15). Mengapa sang Nabi melakukan permohonan itu? Tak lain, karena umat pilihan Allah itu, telah menyadari begitu banyak dan dalam kesalahan yang telah dilakukan. Dan mereka merasakan bahwa YHWH telah lama meninggalkan mereka. Mengapa demikian? Hal ini tercermin dalam, “Ya TUHAN, mengapa Engkau biarkan kami sesat dari jalan-Mu, dan mengapa Engkau tegarkan hati kami, sehingga tidak takut kepada-Mu?”(ay.17).

Mereka menyadari bahwa YHWH tidak campur tangan lagi, sehingga mereka putus asa, susah dan sesat. Maka mereka memohon, melalui sang nabi, “Kembalilah oleh karena hamba-hamba-Mu, oleh karena suku-suku milik-Mu.” Sang nabi tahu diri, demikian juga umat yang digembalakannya. Dengan permohonan itu, maka mereka mengaku dosa dan meminta pertolongan Tuhan.

Apa yang dapat kita petik dari kisah di Minggu Adven pertama ini? Sangat bisa jadi, seperti yang disampaikan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, “Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus.”(1Kor.8). Pertanyaannya, bagaimana supaya tidak bercacat? Dimulai dengan sikap tahu diri, yaitu menyadari bahwa kita makhluk yang lemah. Karena itu, senantiasa memohon kepada-Nya dalam doa. Berkanjang dalam doa, agar tidak tergoda oleh keinginan hati: merasa tidak pernah keliru, yang selalu minta diperhatikan, merasa paling tahu, bisa memutuskan perkara tanpa bantuan orang lain, dan, berbagai sikap yang cenderung egosentris. Sebaliknya, senantiasa berbuat baik: menolong sesama, lebih mau melayani daripada dilayani, mau mendengarkan pendapat orang lain walau berbeda, menyadari dan mengakui bahwa sebagai manusia, kita bisa saja berbuat keliru, dan, bersedia diberitahu.

Semoga, dalam masa penantian ini, setiap kita, di paroki Jatiwaringin, gereja St. Leo Agung, tetap waspada, setia dalam berjaga-jaga dengan sikap tahu diri, sehingga saat Dia datang ke dunia, kita dalam keadaan siap menerima Sang Penebus.